Berita

Pakar ekonomi dan pengamat pasar modal Ferry Latuhihin (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Rhenald Kasali)

Bisnis

Pakar Ekonomi: Senyum Presiden AS Tak Bisa Gantikan Perbaikan Fiskal Indonesia

RABU, 25 FEBRUARI 2026 | 12:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kondisi ekonomi Indonesia tengah menghadapi tekanan. Dalam diskusi di podcast Rhenald Kasali, pakar ekonomi dan analis pasar modal Ferry Latuhihin menguraikan tantangan yang dihadapi pemerintah, termasuk efektivitas kebijakan Bank Indonesia (BI), hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), dan isu kepercayaan investor.

Ferry menilai kebijakan BI terhadap suku bunga saat ini menghadapi dilema. 

“Kalau diturunkan, orang meminjam untuk membeli dolar. Kalau dinaikkan, ekonomi tambah reot dan orang juga bisa memburu dolar. Jadi BI mempertahankan,” ujar Ferry, dikutip redaksi di Jakarta, Kamis 25 Februari 2026.


Menurutnya, intervensi moneter bukanlah solusi utama di negara berkembang. 

“Monetary policy itu nomor dua. Yang utama adalah fiscal policy. Kalau fundamental ekonomi tidak diubah, intervensi BI itu seperti menggarami laut,” tambahnya.

Ferry juga menyoroti harapan sebagian pihak terhadap dukungan Amerika. 

“Jangan terlalu percaya senyum Presiden Amerika. Itu transaksional. Contohnya soal tarif: barang Amerika masuk 0 persen, barang kita tetap 19 persen. Jadi jangan berharap Amerika menyelamatkan kita dari downgrade,” tandasnya.

Menurut Ferry, masalah utama tetap pada fiskal Indonesia yang mengalami defisit: pengeluaran besar, penerimaan turun, sehingga lembaga pemeringkat seperti Moody’s menurunkan outlook menjadi negatif.

Ferry juga menekankan bahwa kasus pengambilalihan aset tanpa kepastian hukum menjadi sorotan investment banker dan investor. 

“Ini membuat investor melihat negara ini tidak konsisten dan berisiko. Kepercayaan investor semakin lama semakin turun karena banyak kebijakan dianggap tidak konsisten,” katanya.

Ferry punmenegaskan pentingnya perbaikan fiskal dan pengelolaan pengeluaran negara. 

“Kalau tidak ada perbaikan fiskal dan fundamental, pressure terhadap rupiah akan terus terjadi,” ujarnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya