Berita

Mantan Deputi Bank Indonesia Halim Alamsah (Tangkapan layar RMOL dari YouTube Terus Terang Media)

Bisnis

Alarm MSCI: Anomali Transaksi dan Risiko Downgrade Pasar Modal Indonesia

KAMIS, 12 FEBRUARI 2026 | 08:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar modal Indonesia belakangan ini terusik oleh isu fundamental yang cukup serius. Bukan sekadar fluktuasi harian, namun menyentuh inti dari kepercayaan investor global terhadap kredibilitas Bursa Efek Indonesia (BEI). Muncul kekhawatiran bahwa jika transparansi tak segera dibenahi, Indonesia berisiko turun kasta dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market.

Dalam diskusi mendalam di Podcast Terus Terang Media, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsah, membedah mengapa sinyal dari Morgan Stanley Composite Index (MSCI) mampu memicu guncangan hebat di pasar, termasuk memicu aksi jual masif oleh pengelola dana global.

MSCI bukan sekadar indeks biasa. Menurut Halim, MSCI adalah kompas utama bagi para fund manager dunia dalam mengalokasikan triliunan dolar dana investor.


"Indeks ini menjadi rujukan global. MSCI berkepentingan memastikan bahwa saham yang masuk ke radar mereka benar-benar berkualitas dan likuid. Likuiditas di sini berarti saham tersebut harus mudah diperjualbelikan dengan harga yang stabil, bukan yang bergerak liar tanpa fundamental jelas," ujar Halim, dikutip redaksi di Jakarta, Kamis 12 Februari 2026.

Salah satu poin krusial yang disorot adalah keraguan dunia internasional terhadap mekanisme pembentukan harga di bursa Indonesia.  Muncul pertanyaan besar: Apakah harga saham yang tertera di layar saat ini adalah murni hasil permintaan dan penawaran (supply and demand), atau justru "harga bayangan" hasil praktik goreng-gorengan?

Halim menjelaskan bahwa MSCI sebenarnya ingin memasukkan lebih banyak emiten Indonesia ke dalam indeks global mereka. Namun, mereka terganjal oleh keraguan terhadap integritas data dan transparansi otoritas bursa.

"Indonesia sering dipersepsikan memiliki masalah dalam pembentukan harga. Ada kekhawatiran praktik goreng-gorengan saham masih dominan. Inilah yang membuat investor global waspada," tambahnya.

Selain integritas harga, MSCI secara teknis menyoroti aturan free float (jumlah saham yang beredar di publik). 

"Di Indonesia, saham yang dimiliki publik minimal hanya 7,5 persen. MSCI menilai angka ini terlalu rendah. Mereka mengusulkan agar free float ditingkatkan, misalnya menjadi 20 persen. Sebagai perbandingan, di Jepang free float minimal 25 persen, di Singapura 10 persen, dan di negara lain berkisar antara 10-25 persen," tegas Halim.

MSCI mengusulkan agar angka ini dinaikkan ke level 20 persen agar pasar lebih dalam dan likuid. 

Namun, masalahnya bukan hanya soal angka. MSCI juga mempertanyakan apakah saham yang diklaim sebagai milik "publik" itu benar-benar dimiliki masyarakat umum, atau justru dikuasai oleh perusahaan-perusahaan cangkang yang terafiliasi dengan pemilik lama (ultimate beneficial owner).

Jika tuntutan transparansi dan perbaikan struktur pasar ini diabaikan, ancaman downgrade bukan isapan jempol belaka. 

Halim menilai, apabila lembaga pemeringkat menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi Frontier Market (pasar rintisan), dampaknya akan sangat destruktif.

Meskipun reaksi pasar terlihat mendadak, Halim mengungkapkan bahwa sinyal dari MSCI ini sebenarnya sudah diberikan sejak Oktober lalu. Reaksi hebat yang terjadi belakangan ini merupakan akumulasi dari kejengkelan investor terhadap risiko struktural yang tak kunjung dibenahi oleh regulator.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya