Berita

Indonesia bergabung ke dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BOP) untuk Gaza yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: Setneg)

Publika

Sudah Dibentuk BoP pun Israel Tetap Ngebom Gaza

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 13:19 WIB

KOMITMEN perdamaian dalam Board of Peace (BoP) yang baru saja disepakati oleh Amerika Serikat dengan berbagai negara di Timur Tengah termasuk Indonesia, ternyata tidak membuat Israel tobat menyerang Gaza. Nyatanya, zionis ini tetap haus darah. 

Akhir Januari sampai awal Februari 2026, Israel kembali menyerang Gaza saat gencatan senjata masih berlaku. 

Judulnya damai, isinya pemakaman. Lebih dari 30 orang tewas. Enam anak-anak. Rumah warga hancur, tenda pengungsi diratakan, kantor polisi ikut dihajar. 


Semua terjadi bukan karena salah sasaran, tapi karena memang sasarannya sudah disepakati, Gaza.

Lalu dunia bereaksi… dengan gaya malas. BoP, badan baru yang namanya damai tapi kelakuannya pending, tidak mengeluarkan kecaman keras apa pun. Sunyi. Hening. Seperti grup alumni yang aktif cuma saat ada foto reuni. 

Hungaria dan Bulgaria, anggota resmi, memilih mode read only. Negara lain mengeluarkan pernyataan diplomatis generik. Panjang, rapi, dan sama sekali tidak menyebut siapa yang ngebom siapa.

Amerika Serikat sebagai penggagas BoP bahkan tidak repot menyamar. Di saat Gaza diserang, Washington tetap melanjutkan dukungan penuh ke Israel lewat penjualan senjata baru. 

Ini bukan kontradiksi, ini paket lengkap. Damai di forum, senjata di gudang. Kalau Gaza hancur, itu bonus fitur.

Hingga akhir Januari 2026, sekitar 26 negara sudah resmi bergabung dengan Board of Peace. Menurut laporan CBC, jumlahnya bahkan bisa mencapai 35 negara. 

Banyak sekali. Tapi efeknya? Nol besar. Ini seperti kumpulan pemadam kebakaran internasional yang rajin rapat, tapi lupa membawa air.

Daftar anggotanya terdengar gagah. Indonesia resmi bergabung Januari 2026. Turki, Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Uni Emirat Arab ikut masuk. Negara-negara yang di mimbar lantang bicara Palestina. 

Tapi begitu Gaza dibombardir, BoP mendadak alergi kata “Israel”. Tidak ada langkah kolektif. Tidak ada tekanan. Tidak ada apa-apa. Damai versi PowerPoint.

PBB pun tampil konsisten, konsisten terlambat. Mereka mengecam setelah bom jatuh, bersidang setelah korban dikubur. Kecaman demi kecaman dirilis rapi, seperti buletin cuaca, “Hari ini hujan bom, besok kemungkinan berlanjut.”

Israel, tentu saja, tetap membawa jurus lama, “hak membela diri”. Jurus sakti yang bisa mengubah tenda pengungsi jadi target sah dan anak-anak jadi kerusakan tambahan. Dunia mengangguk, pura-pura paham, lalu kembali ke agenda masing-masing.

Gaza hari ini bukan kota. Ia sudah jadi spreadsheet penderitaan global. Angkanya dicatat, dibahas, lalu disimpan. BoP hanya menambah satu kolom baru, harapan palsu.

So, jangan sebut ini kegagalan. Ini kesepakatan diam-diam. Diamnya rapi, diamnya kolektif, diamnya terorganisir. Semua tahu apa yang terjadi, tapi semua sepakat untuk tidak benar-benar berbuat apa-apa.

Kalau ini yang disebut perdamaian internasional, mungkin kita memang perlu kamus baru. Karena di Gaza, damai artinya, bom tetap jatuh, konferensi tetap jalan, dan dunia tetap merasa sudah melakukan tugasnya.

Itu bukan tragedi. Itu komedi gelap paling mahal di abad ini.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya