Berita

Nicholay Aprilindo. (Foto: tangkapan layar Youtube)

Hukum

Laptop Diplomat Arya Daru yang Belum Dikembalikan ke Keluarga Berisi Data Jaringan TPPO

KAMIS, 11 DESEMBER 2025 | 07:30 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Di balik berbagai kejanggalan cara kematian Arya Daru Pangayunan, penasihat hukum keluarga justru menaruh kecurigaan besar pada latar belakang pekerjaan korban sebagai diplomat.

Diyakini kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri itu sangat mungkin berkaitan dengan kasus besar yang sedang ditangani korban.

"Pertanyaannya laptop dari almarhum yang tertinggal di tangga rooftop, di tasnya, sampai sekarang tidak pernah dibuka isinya apa, diungkap isinya apa, dan tidak pernah dikembalikan pada pihak keluarga," kata Nicholay dalam sebuah podcast dikutip RMOL Kamis, 7 Desember 2025.


Arya Daru diketahui pernah terlibat langsung dalam penanganan berbagai kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) lintas negara. Mulai dari Jepang, Kamboja, Myanmar, hingga Timur Tengah. Dalam perkara TPPO di Jepang, korban bahkan disebut menjadi saksi kunci.

Yang membuat kecurigaan kian menguat adalah keberadaan laptop milik korban yang hingga kini belum dikembalikan ke pihak keluarga. Laptop itu ditemukan di lokasi kejadian dan hingga sekarang disebut masih menjadi barang bukti di kepolisian.

“Isinya tidak pernah dibuka secara terbuka. Padahal informasi yang kami terima, isinya sensitif, by name by address soal jaringan TPPO,” ujar Nicholay .

Ia menduga, korban sengaja menyimpan data tersebut di laptop kantor karena merasa itulah tempat paling aman. Namun korban tidak pernah menyangka bahwa nyawanya justru terancam.

Nicholay mengatakan jika dugaan ini benarmaka kasus kematian Arya bukan sekadar perkara kriminal biasa, melainkan menyangkut kejahatan terorganisir lintas negara yang melibatkan banyak kepentingan besar.

Ia pun menepis anggapan bahwa tekanan datang dari urusan pribadi korban.

“Kalau hanya soal pribadi tidak mungkin rapi, tanpa jejak, dan minim kesalahan seperti ini,” katanya.

Menurut Nicholay, pola kematian korban menunjukkan adanya perencanaan matang, eksekutor profesional, serta sistem yang bekerja dengan sangat disiplin.

“Kami sangat yakin ini pembunuhan berencana. Dan kami curiga besar ini berkaitan dengan tugas negara,” tegasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya