Berita

Ilustrasi Indonesia dibanjiri produk-produk impor. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Indonesia Selalu jadi Ladang Empuk Produk Asing

JUMAT, 28 NOVEMBER 2025 | 22:15 WIB

SEJAK proklamasi 1945, Indonesia bermimpi menjadi bangsa yang berdikari —mandiri dalam ekonomi, politik, dan kebudayaan. Namun delapan dekade kemudian, mimpi itu justru tampak seperti ironi sejarah: Indonesia merdeka dari kolonialisme politik, tetapi secara ekonomi masih terus menjadi surga pasar bagi produk asing.

Pertanyaannya: mengapa Indonesia begitu mudah menjadi tujuan penjualan barang negara lain? Apakah kemerdekaan kita hanya berakhir sebagai “sertifikat” untuk membuka pintu bagi keuntungan bangsa asing?

Pasar Besar, Penduduk Banyak: Indonesia adalah “Hadiah Demografis” Dunia


Dengan lebih dari 280 juta penduduk, Indonesia menjadi salah satu pasar konsumen terbesar ke-4 di dunia. Bagi perusahaan global, ukuran penduduk adalah segalanya —karena di situlah uang berputar. Negara dengan jumlah kelas menengah yang terus tumbuh menjadi magnet bagi produsen barang elektronik, otomotif, kosmetik, fesyen, makanan, hingga teknologi digital.

Ironinya, kekuatan demografi tidak berubah menjadi kekuatan produksi. Alih-alih memproduksi, kita justru mengimpor dan membeli.

Struktur Ekonomi Warisan Kolonial: Indonesia Tetap Produsen Bahan Mentah

Kolonialisme Belanda meninggalkan pola ekonomi ekstraktif: Indonesia diposisikan sebagai pemasok bahan baku murah dan pasar barang mahal. Yang berubah hanyalah benderanya—dari VOC menjadi korporasi global.

Hingga kini kita ekspor nikel, tapi impor baterai. Kita ekspor sawit mentah, tapi impor kosmetik. Kita ekspor karet, tapi impor ban mobil. Kita ekspor ikan, tapi impor garam.

Ketika negara gagal membangun basis industri kuat, otomatis konsumen domestik akan memenuhi kebutuhannya melalui produk asing.

Kebijakan Industri Tidak Konsisten Gonta-Ganti Presiden, Gonta-Ganti Haluan

Salah satu tragedi terbesar Indonesia adalah tidak adanya grand strategy industri yang bertahan lintas rezim.

Ada fase proteksionisme, berganti liberalisme. Ada fase industri nasional, lalu digantikan impor. Ada fase hilirisasi, lalu dirombak oleh kepentingan politik dan ekonomi.

Karena kebijakan tidak stabil, investor lokal ragu membangun industri jangka panjang. Yang masuk adalah produsen asing yang memanfaatkan pasar besar tanpa memberi transfer teknologi yang signifikan.

Ketergantungan Teknologi: Indonesia Belum Menjadi “Pencipta”

Kita hebat sebagai pengguna teknologi, bukan pencipta. Ketika riset minim, pendidikan teknis lemah, dan inovasi tidak menjadi prioritas negara, maka produk lokal sulit bersaing dengan brand global yang memiliki dana R&D raksasa.

Hasilnya: pasar domestik dikuasai produk impor yang lebih murah, lebih bagus, dan lebih cepat.

Budaya Konsumtif Nasionalisme hanya Hidup di Upacara, Mati di Mal

Fenomena paling menyakitkan: publik Indonesia sangat mudah tunduk pada merek asing. Label Jepang, Korea, Eropa, atau Amerika dianggap lebih bergengsi daripada produk lokal, meskipun kualitasnya kadang tidak jauh berbeda.

Hal ini terjadi karena iklan global lebih kuat, gaya hidup media sosial mendorong konsumsi, kebiasaan masyarakat yang simbolik—lebih mementingkan citra daripada fungsi.

Akhirnya, pasar domestik menjadi pesta besar bagi produsen luar negeri.

Perdagangan Bebas Indonesia Terlalu “Terbuka”, Kadang Sampai Naif

Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia menandatangani banyak perjanjian dagang internasional yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi produk asing. Sementara negara-negara maju tetap melindungi sektor strategis mereka secara halus.

Indonesia justru membuka tarif impor rendah bagi barang manufaktur, tetapi tetap menjual bahan mentah murah ke pasar global. Pola ini membuat Indonesia terus berada dalam “rantai produksi rendahan”.

Korporasi Global Menguasai Rantai Distribusi

Bukan hanya soal barangnya yang dari luar negeri—bahkan distribusi, logistik, marketplace, iklan digital, hingga aplikasi pembayaran banyak dikuasai oleh pemain global. Tanpa kontrol teknologi dan distribusi, mustahil produk lokal memenangkan kompetisi.

Apakah Indonesia Merdeka hanya untuk Menjadi Pasar Asing?

Pertanyaan ini tidak sederhana. Namun faktanya: Indonesia merdeka secara politik, tetapi belum merdeka secara ekonomi.

Selama kita hanya menjadi penjual bahan mentah, tidak memiliki industri kuat, membiarkan pasar dikuasai korporasi asing, tidak mengembangkan riset teknologi, dan tidak memupuk nasionalisme ekonomi, maka Indonesia akan terus menjadi “koloni pasar” dalam bentuk modern —dijajah bukan oleh tentara, tetapi oleh strategi bisnis global.

Penutup

Kemerdekaan sejati bukan hanya soal bendera berkibar di tiang istana. Kemerdekaan sejati adalah ketika produk lokal mampu berdaulat di negeri sendiri, industri nasional kuat dan berkelanjutan, teknologi dikuasai bangsa sendiri, dan kebijakan industri tidak tunduk pada kepentingan asing.

Jika tidak, maka Indonesia akan terus menjadi “pasar abadi” bagi bangsa lain —dan kemerdekaan 1945 hanya menjadi teks indah yang tidak pernah benar-benar diwujudkan.

Benz Jono Hartono
Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat; Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya