Berita

Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli/RMOL

Politik

Kwik Kian Gie, Ekonom Nasionalis yang Lebih Pribumi dari Pribumi

KAMIS, 31 JULI 2025 | 19:08 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kabar berpulangnya Kwik Kian Gie Ekonom senior dan mantan Menko Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri serta Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas periode 2001-2004 pada Senin malam, 28 Juli 2025 lalu membuat haru banyak kalangan.

Pasalnya, rekam jejak Kwik Kian Gie dalam memperbaiki ekonomi nasional yang karut marut usai krisis moneter 1999-1998 terbilang luar biasa. 

“Kami terkejut, saat menerima lagi, bangsa dan rakyat Indonesia telah kehilangan lagi sosok ekonom nasionalis yang konsisten dan bersahaja pro ekonomi pribumi taat menjalankan ideologi Pancasila dan bersih dari korupsi sebagai abdi negara,” ucap Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori dalam keterangannya, Kamis, 31 Juli 2025.


Lanjut dia, meskipun mendiang dikenal luas publik sebagai keturunan etnik Tionghoa, namun sikapnya sebagai pejabat negara lebih pribumi daripada orang pribumi sendiri. 

“Sebagai ekonom konstitusi, kami menghormati dan menghargai mendiang yang dengan sukarela mengakui, bahwa ekonomi konstitusi-lah sistem yang harus ditegakkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan yang berjalan saat ini,” tegasnya. 

“Bahkan, berani berbeda pandangan dengan pimpinan partai politik yang menempatkannya di dalam kabinet pemerintahan kala itu,” tambah dia.

Walaupun, Defiyan tidak mengenal mendiang Kwik Kian Kie begitu dekat, tapi ada satu sikap nasionalisme yang patut diapresiasinya ketika menjadi pimpinan di Bappenas. 

“Kala itu, pada tahun 2002 the World Bank (Bank Dunia) menawarkan utang baru yang cukup besar sekira 500 juta Dolar AS (kurs Dolar AS= Rp10.000) atau sejumlah Rp5 triliun. Namun, jumlah itu ditolak oleh Pak Kwik Kian Kie dengan pertimbangan kemampuan keuangan negara dan APBN,” kenangnya. 

Pada akhirnya, terjadi kompromi untuk memotong (slicing) tawaran utang tersebut menjadi dua (2) tahun. 

“Inilah bentuk konsistensi dan integritas seorang pejabat negara yang mungkin sudah jarang atau malah tak ada lagi di dalam pemerintahan,” tegasnya lagi.

Menurut ekonom jebolam UGM ini, itu menjadi keberhasilan (success factor) yang tak akan mungkin dilakukan oleh para ekonom kapitalis. 

“Atau istilah mendiang Barkeley's gank atau anak didik USA yang text book thinking! Kepulangan Pak Kwik Kian Gie tidak lagi menyisakan para ekonom yang berkhidmat pada tegaknya Pasal 33 UUD 1945 yaitu sistem perekonomian ala Indonesia. Tidak banyak ekonom saat ini yang berbeda mazhab ekonomi saat teori ilmu ekonomi yang diajarkan di berbagai Perguruan Tinggi adalah kapitalisme-liberalisme,” bebernya.

“Sebagai Ekonom Konstitusi kami turut berduka dan merasa kehilangan mendiang yang sangat kritis dan peduli terhadap nasib rakyat, utang negara serta kemandirian perekonomian bangsa. Semoga kepergian Pak Kwik yang sudah kami anggap sebagai guru dan mantan pejabat pemerintahan ini menjadi hikmah bagi para penyelenggara negara Indonesia. Selamat jalan Pak Kwik!” tandas Defiyan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya