Berita

Sapi kurban pemberian Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka/RMOL

Publika

Dari Kurban ke Kesejahteraan: Menggali Dimensi Ekonomi Sosial Iduladha

OLEH: HILMA FANNIAR ROHMAN*
JUMAT, 06 JUNI 2025 | 21:44 WIB

SETIAP Iduladha, umat Islam di berbagai penjuru dunia melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan pengorbanan. Di Indonesia, semangat berkurban tidak hanya hadir dalam bentuk ritual penyembelihan hewan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan sosial yang kuat.

Namun, yang sering terlewatkan dalam perbincangan publik bahwa ibadah kurban juga menyimpan potensi besar sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial, khususnya bagi masyarakat akar rumput.

Dengan kata lain, kurban tidak semata-mata bersifat simbolik dan spiritual, tetapi juga dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi umat jika dikelola secara strategis dan inklusif.


Dimensi ekonomi dari ibadah kurban sangat nyata. Setiap tahun, permintaan hewan ternak menjelang Iduladha melonjak signifikan, menciptakan efek domino pada sektor peternakan, perdagangan lokal, jasa transportasi, hingga pemotongan dan distribusi daging.

Perputaran uang yang tercipta dari kegiatan ini bernilai triliunan Rupiah, dan sebagian besar bersumber dari masyarakat kelas menengah ke atas yang menjadi pekurban. Di sinilah terletak potensi redistribusi ekonomi: dana dari kelompok berdaya beli tinggi dapat disalurkan secara produktif kepada peternak kecil, pelaku usaha mikro, dan masyarakat kurang mampu sebagai penerima manfaat daging kurban.

Namun, potensi ini belum sepenuhnya dioptimalkan. Sebagian besar pembelian hewan kurban masih terpusat pada penyedia besar, bahkan tidak jarang berasal dari luar daerah atau impor. Hal ini membuat peternak lokal di pedesaan tidak mendapatkan akses pasar yang layak, padahal mereka adalah aktor utama yang seharusnya paling diuntungkan dalam momentum ini.

Demikian pula, distribusi daging kurban seringkali tidak merata, bahkan menumpuk di wilayah-wilayah urban yang sebenarnya tidak kekurangan akses pangan. Akibatnya, tujuan sosial dari kurban yakni membantu kelompok rentan dan mengurangi kesenjangan akses terhadap sumber protein hewani tidak sepenuhnya tercapai.

Dalam perspektif ekonomi Islam, ibadah kurban memiliki nilai yang sejalan dengan prinsip keadilan distributif dan pemberdayaan ekonomi. Prinsip ta’awun (saling tolong-menolong) dan maslahah (kemaslahatan umum) dapat dijadikan dasar untuk mendesain tata kelola kurban yang lebih inklusif dan berpihak pada masyarakat lapisan bawah.

Penguatan sektor peternakan rakyat melalui skema kemitraan, pelatihan, dan akses pasar bisa menjadi strategi jangka panjang yang berangkat dari tradisi kurban. Selain itu, pendekatan teknologi seperti digitalisasi platform kurban perlu diarahkan tidak hanya untuk memudahkan transaksi, tetapi juga memastikan transparansi, keberpihakan pada peternak kecil, dan akurasi penyaluran manfaat.

Pemerintah dan organisasi masyarakat keagamaan memiliki peran strategis dalam hal ini. Mereka dapat mendorong regulasi dan program yang memfasilitasi sinergi antara umat sebagai pekurban, peternak lokal sebagai penyedia hewan, dan masyarakat miskin sebagai penerima manfaat.

Misalnya, penyaluran daging olahan atau beku ke daerah tertinggal bisa memperluas dampak sosial kurban sekaligus mengurangi ketimpangan geografis dalam distribusi pangan. Dengan mekanisme yang tepat, kurban dapat menjadi bagian dari kebijakan ketahanan pangan dan perlindungan sosial berbasis kearifan lokal.

Iduladha seharusnya tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual, tetapi juga ajang pembuktian bahwa ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial yang kuat dan relevan dengan tantangan zaman.

Kurban bukan sekadar ibadah individual, melainkan peluang kolektif untuk membangun sistem ekonomi yang lebih berkeadilan dan manusiawi. Dari sisi teologi hingga ekonomi, kurban menyatukan nilai-nilai pengorbanan, empati, dan keberpihakan terhadap yang lemah.

Pada akhirnya, mengelola ibadah kurban dengan cara yang lebih strategis dan inklusif bukan hanya akan memperbesar dampaknya bagi mustahik, tetapi juga menjadikan ibadah ini lebih bermakna bagi para pekurban sendiri.

Ketika kurban dipahami bukan hanya sebagai kewajiban tahunan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan sosial dan ekonomi umat, maka di sanalah letak kekuatan transformasionalnya.

Dari kurban menuju kesejahteraan itulah arah baru yang patut kita perjuangkan bersama.

*Dosen Perbankan Syariah Universitas Ahmad Dahlan

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Bikin Lomba Kota Terbersih, Lima Terbaik Dapat Rp20 Miliar

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:26

Oknum Brimob di KPK Diduga Bocorkan Dokumen Perkara, Dipakai Peras Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:18

ST Burhanuddin Mutasi 176 Jaksa, 90 Kajari Bergeser

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:17

Prabowo Wanti-wanti Konflik Timteng Bisa Meluas dan Semakin Memburuk

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:51

Deddy Sitorus Bantah Hina Wartawan dan Tantang Balik KWP

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:35

Lokataru: Kopdes Merah Putih Rawan Dimobilisasi Jadi Mesin Politik Bawah Tanah

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:26

Prabowo Tertarik Belajar Cara India Bangun 3 Juta Rumah dalam Setahun

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:21

Terima Aspirasi Guru TK, DPR Siap Agendakan Penguatan PAUD

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:19

MK: Anggaran MBG Tak Boleh Lagi Masuk Pos Pendidikan

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Pembahasan RUU HAM, Perlindungan Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Selengkapnya