Berita

Ilustrasi diaspora (hotcourses.co.id)

Publika

Ruang Rindu: Menjemput Pengabdian Diaspora lewat Transmigrasi Baru

RABU, 04 JUNI 2025 | 20:02 WIB | OLEH: R. MUHAMMAD ZULKIPLI*

"Negara tidak boleh kehilangan anak-anak terbaiknya hanya karena mereka memilih untuk sementara tinggal di luar negeri. Justru kita harus menjadikan mereka jembatan masa depan Indonesia" - B.J. Habibie, Forum Diaspora Indonesia, 2012.

TAK semua yang pergi, lupa. Banyak yang menyimpan Indonesia di dadanya meski hidup ribuan kilometer dari tanah air. Mereka adalah diaspora -lebih dari delapan juta anak bangsa yang tersebar di berbagai belahan dunia. Sebagian menjadi ilmuwan, pelaku usaha, profesional, seniman, bahkan inovator global. Dan yang menyatukan mereka: kerinduan untuk memberi kembali.

Sekitar April 2015, saya berjumpa dengan seorang sahabat lama yang baru kembali dari Benua Australia. Ia telah hidup mapan dan sukses di sana. Saya bertanya, "Mengapa pulang?" Ia menjawab lugas: Ada banyak hal yang bisa kami perbuat untuk Indonesia saat kami di luar negeri. Tapi ada juga banyak hal yang hanya bisa kami lakukan kalau kami berada di sini -khususnya membangun manusia. Menyiapkan para teknokrat, mendampingi mereka menghadapi realitas pembangunan yang tidak selalu ada di dalam buku."


Jawaban itu membekas. Di rumahnya, saya sempat membuka sebuah buku karya B.J. Habibie, dan menemukan kalimat yang kini menjadi napas dari tulisan ini: "Di mana pun engkau berada, jadilah yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kau berikan."

Namun, yang benar-benar menyadarkan saya bahwa rindu itu tidak pernah padam adalah Ketika melihat kehangatan yang luar biasa dari para diaspora Indonesia di berbagai penjuru dunia saat menyambut Presiden Prabowo Subianto. Dari Bangkok, Kairo, Kuala Lumpur, hingga Washington DC, saya menyaksikan -melalui media dan testimoni teman-teman -betapa kuatnya energi cinta tanah air yang terpancar dari senyuman, pelukan, dan air mata mereka.

Bagi mereka, Prabowo bukan hanya kepala negara -tetapi simbol harapan, bahwa negara ini masih membuka pintu untuk mereka pulang, bukan hanya secara fisik, tetapi secara makna dan kontribusi.

Di tengah sambutan diaspora yang begitu tulus dan meriah, saya tertegun dan berpikir: jika rindu itu nyata, maka kita harus menciptakan ruang pengabdian yang nyata pula. Di sinilah saya mulai membayangkan Kawasan Transmigrasi sebagai ruang rindu -tempat bertemunya cinta dan pengabdian, antara anak bangsa yang pulang dan rakyat yang menanti.

Transmigrasi selama ini terlalu sering dipersempit hanya sebagai program pemindahan penduduk dari wilayah padat ke wilayah kosong. Padahal dalam kerangka Transmigrasi Baru, konsep ini telah mengalami evolusi mendasar: dari program administratif menjadi proyek peradaban atau lebih tepatnya “History in the Making”.

Kini Kawasan Transmigrasi dirancang sebagai pusat-pusat pertumbuhan baru -basis ketahanan pangan, inovasi ekonomi, dan transformasi sosial. Di sinilah lahir program-program seperti Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong yang membuka ruang bagi anak muda, akademisi, dan komunitas lokal untuk berkarya bersama. Melalui pendekatan inklusif dan ekosistem lintas sektor, dengan dukungan bonus demografi Transmigrasi Baru menjadi salah satu pilar strategis dalam peta jalan menuju Indonesia Emas 2045.

Ruang Pengabdian Diaspora: Dari Fenomena Menuju Skema Kebijakan. Fenomena diaspora Indonesia mengandung kekuatan yang luar biasa: jejaring global, pengetahuan terkini, dan modal sosial yang kuat. Namun hingga kini, kontribusi mereka belum sepenuhnya terfasilitasi dalam skema pembangunan nasional yang berbasis komunitas dan berjangka panjang.

Melihat dinamika ini, saya meyakini bahwa pemerintah perlu menggodok skema yang dapat menjadi pintu awal bagi keterlibatan diaspora secara langsung di Kawasan Transmigrasi.

Skema ini bisa mencakup penyederhanaan administrasi bagi pemegang Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN), integrasi data diaspora dengan sistem kependudukan dan sosial-ekonomi nasional, jalur kontribusi terbuka: dari riset dan mentoring, hingga investasi sosial dan budaya.

Dalam hal ini, peran aktif Kementerian Transmigrasi dan Kementerian IMPAS, serta kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri dan K/L lain, sangat ditunggu. Sebuah kebijakan tidak hanya membutuhkan niat baik, tetapi juga dukungan narasi dan diskursus publik. Sebab hanya dengan itu, kepercayaan dan partisipasi dapat terbangun secara organik.

Diplomasi Demografi: Jembatan antara Dunia dan Desa. Dalam era yang terhubung, diplomasi tidak hanya terjadi di forum internasional. Diplomasi bisa hadir dalam bentuk paling sederhana: seorang diaspora dari Melbourne membimbing koperasi petani transmigrasi di Kalimantan, atau seorang peneliti diaspora dari Tokyo membantu pemetaan lahan transmigrasi berbasis teknologi satelit. Bentuk-bentuk inilah yang disebut diplomasi demografi -penguatan koneksi manusia lintas batas demi kesejahteraan kolektif bangsa.

Negara-negara seperti India, Filipina, dan Korea Selatan telah lebih dulu menciptakan jalur kontribusi diaspora di desa dan daerah. Sudah saatnya Indonesia menyusul, dengan karakter dan semangat gotong royongnya sendiri.

Penutup: Pulang adalah Memberi. Mungkin tidak semua bisa pulang secara fisik. Tetapi pulang bukan hanya tentang tempat -ia adalah tentang tanggung jawab, dedikasi, dan cinta yang menemukan jalannya untuk memberi.

Seperti yang disampaikan Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam Studium Generale di ITB: “Transmigrasi Baru adalah ruang terbuka untuk peradaban. Kita ingin membangun ekosistem yang memberi kesempatan kepada siapa pun -warga lokal, transmigran, diaspora -untuk ikut serta membentuk masa depan bangsa ini, bersama-sama.”

Dan seperti semboyan almamater para perintis bangsa dari kampus legendaris itu: “Salam Ganesha, bakti kami, untukmu Tuhan, Bangsa, dan Almamater.” In Harmonia Progressio.

*Penulis adalah Praktisi di Bidang Manajemen.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya