Berita

Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri/Istimewa

Publika

Megawati Soekarnoputri: Ibu Demokrasi Sepak Bola Indonesia

OLEH: SARMAN EL HAKIM
RABU, 15 JANUARI 2025 | 12:59 WIB

SEJARAH tidak akan pernah lupa pada seorang pemimpin yang memilih untuk menegakkan prinsip di atas kekuasaan. Di tengah gemuruh politik dan kekuatan otoritas yang bisa menggerakkan apa saja, Megawati Soekarnoputri berdiri dengan teguh pada jalur demokrasi yang sejati. 

Sebagai Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati menunjukkan sikap yang berbeda dalam menyikapi sepak bola nasional. Dalam setiap keputusan, ia menempatkan prinsip demokrasi di atas campur tangan kekuasaan, menghormati aturan internasional, dan menjaga independensi sepak bola Indonesia.

Pada masa kepemimpinannya, Megawati tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengintervensi organisasi seperti PSSI, meskipun ia mampu melakukannya. 


Dalam sebuah wawancara, Pramono Anung, salah satu kepercayaannya, menyebutkan bahwa Megawati lebih memilih mendukung Timnas Indonesia secara moral daripada mencampuri urusan internal sepak bola. 

Megawati menerima Timnas di Istana sebelum bertanding dan memberikan semangat kepada para pemain, tetapi tidak pernah sekalipun mengambil langkah untuk memengaruhi pemilihan Ketua PSSI atau kebijakan teknis sepak bola. Sikap ini menjadi cermin dari prinsip demokrasi sejati yang ia pegang teguh.

Di tengah keinginannya untuk mendorong prestasi sepak bola Indonesia, Megawati juga memahami bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan ekosistem yang kompleks. Organisasi seperti FIFA telah menetapkan syarat tegas dalam Pasal 13 dan Pasal 17 Statutanya: “Anggota federasi harus bebas dari campur tangan politik atau intervensi pihak ketiga, termasuk pemerintah.” 

Prinsip tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa sepak bola dikelola secara profesional, tanpa tekanan eksternal, sehingga kompetisi berjalan fair dan independen. Megawati, sebagai seorang pemimpin, tidak hanya memahami prinsip ini, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam berhubungan dengan PSSI.

Sikap Megawati semakin mencolok ketika dibandingkan dengan masa-masa kepemimpinan setelahnya. Pada tahun 2015, misalnya, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga membekukan PSSI, yang kemudian dinilai oleh FIFA sebagai bentuk intervensi. 

Sanksi pun dijatuhkan, membuat Indonesia dikeluarkan dari kompetisi internasional selama setahun penuh. Hal ini menjadi pengingat bahwa campur tangan pemerintah, meskipun dimaksudkan untuk memperbaiki, sering kali membawa dampak buruk bagi perkembangan sepak bola nasional. 

Berbeda dengan itu, era Megawati mencatatkan stabilitas dalam hubungan antara pemerintah dan PSSI, di mana federasi dibiarkan menjalankan tugasnya tanpa tekanan politik.

Bahkan, ketika dinamika pemilihan Ketua PSSI melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Nurdin Halid dan Yacob Nuwawea, Megawati memilih untuk tidak ikut campur. Ia menyerahkan proses tersebut kepada mekanisme internal PSSI dan para anggotanya. Meski hasil pemilihan menghasilkan kepemimpinan yang kontroversial, Megawati tetap menghormati proses demokratis tersebut. 

Keputusan ini menjadi bukti bahwa ia memahami bahwa demokrasi sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang penghormatan terhadap proses.

Lebih dari itu, Megawati tidak hanya pasif dalam mendukung sepak bola. Ia hadir sebagai sosok ibu yang memberikan semangat dan motivasi kepada Timnas Indonesia. 

Pada masa pemerintahannya, Indonesia mencapai final Piala Tiger (sekarang Piala AFF, red) pada 2002 dan 2004. Menunjukkan potensi besar yang dimiliki sepak bola Indonesia. Meski Timnas belum berhasil menjadi juara, Megawati tidak pernah kehilangan keyakinan pada kemampuan anak-anak bangsa untuk bersaing di panggung internasional.

Sejarah sepak bola dunia mencatat bagaimana pemimpin yang terlalu jauh mencampuri urusan federasi sering kali membawa kehancuran. Di sinilah Megawati memahami bahwa kehormatan sepak bola terletak pada independensinya. 

Sikapnya yang tidak intervensif ini sejalan dengan prinsip FIFA, yang selalu menegaskan bahwa sepak bola adalah milik semua orang, bukan alat politik. Dalam hal ini, Megawati tidak hanya menjadi seorang pemimpin, tetapi juga seorang penjaga prinsip yang memastikan sepak bola Indonesia tetap berjalan di jalur yang benar.

Kini, di tengah berbagai perubahan dan tantangan dalam sepak bola nasional, nama Megawati tetap menjadi teladan tentang bagaimana seorang pemimpin bisa mendukung tanpa mengintervensi, mengarahkan tanpa memaksakan, dan mempercayakan kepada mekanisme yang ada. 

Ia adalah sosok yang memahami bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada campur tangannya, tetapi pada kemampuannya menjaga prinsip.

Megawati Soekarnoputri, dengan segala kontribusinya, adalah bukti hidup bahwa demokrasi sejati bisa hidup dalam setiap aspek kehidupan bangsa, termasuk dalam sepak bola. Sebagai Presiden yang menempatkan demokrasi di atas kekuasaan, ia layak dikenang sebagai Ibu Demokrasi Sepak Bola Indonesia. 

Sikapnya yang menghormati independensi PSSI menjadi warisan yang patut dijaga dan diteruskan, agar sepak bola Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan di lapangan, tetapi juga simbol dari semangat demokrasi yang sejati.

"Sepak bola adalah cerminan bangsa. Ketika demokrasi dijunjung tinggi, maka kehormatan sepak bola akan selalu terjaga." – Megawati Soekarnoputri.

Penulis adalah Ketua Umum Masyarakat Sepak Bola Indonesia

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya