Berita

Ilustrasi

Bisnis

Gulf News: Program Tenaga Surya India Bawa Perubahan Besar

RABU, 01 JANUARI 2025 | 22:54 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Perjalanan India dalam bidang tenaga surya telah membawa perubahan besar. Dengan target ambisius untuk mencapai kapasitas tenaga surya sebesar 280GW pada tahun 2030, negara ini memposisikan dirinya sebagai negara adikuasa energi terbarukan. Hingga tahun 2024, India telah mencapai lebih dari 70GW kapasitas tenaga surya terpasang, menjadikannya produsen tenaga surya terbesar kelima di dunia.

Gulf News di akhir 2024 melaporkan, peningkatan ini tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan energi domestik tetapi juga membentuk kembali lanskap energi global.

Aliansi Tenaga Surya Internasional (ISA), sebuah inisiatif yang dipelopori oleh India dan diluncurkan pada KTT Iklim Paris 2015, merupakan contoh kepemimpinan negara tersebut. Aliansi tersebut menyatukan lebih dari 120 negara untuk mempromosikan adopsi energi surya di seluruh dunia.


Pernyataan Perdana Menteri Narendra Modi selama KTT tersebut, yang mendesak para pemimpin dunia untuk bergerak menuju masa depan 'satu dunia, satu matahari, satu jaringan' di mana negara-negara di seluruh dunia akan berbagi listrik sehingga tidak ada yang tidak memilikinya, sejak saat itu telah menjadi seruan bagi negara-negara yang bergulat dengan tantangan ganda yaitu keamanan energi dan perubahan iklim.

Inisiatif pemerintah seperti Misi Tenaga Surya Nasional telah mempercepat revolusi tenaga surya India. Dengan menawarkan insentif seperti manfaat pajak, subsidi, dan insentif terkait produksi (PLI), India telah menciptakan ekosistem tempat partisipasi sektor swasta berkembang pesat. Perusahaan seperti Adani Green Energy dan Tata Power tidak hanya membantu memenuhi permintaan domestik tetapi juga mengekspor keahlian teknologi surya ke luar negeri, yang menggarisbawahi pengaruh India yang semakin besar di sektor energi terbarukan.

Energi surya bukan hanya keharusan lingkungan; tetapi juga peluang ekonomi. Jumlah tenaga kerja di sektor energi terbarukan di India diperkirakan mencapai 1,02 juta pada tahun 2023, dengan sektor tenaga surya fotovoltaik di negara tersebut mempekerjakan sekitar 319.000 orang.

Proyek-proyek tenaga surya di India juga telah mengubah kehidupan di tingkat akar rumput. Di Rajasthan, misalnya, Taman Tenaga Surya Bhadla telah menjadi jalur kehidupan bagi ribuan orang. Gurun tandus yang dulunya tandus kini menjadi rumah bagi salah satu taman tenaga surya terbesar di dunia, yang menghasilkan lebih dari 2.245MW daya dan memasok energi bersih ke jutaan rumah.

Meskipun pencapaiannya signifikan, tantangan tetap ada. Akuisisi lahan, hambatan rantai pasokan untuk komponen-komponen penting, dan kebutuhan investasi substansial - yang diperkirakan mencapai $200 miliar untuk memenuhi target 2030 - merupakan rintangan yang harus diatasi.

Namun, India telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi tantangan-tantangan ini secara langsung.

Dorongan pemerintah untuk manufaktur dalam negeri di bawah inisiatif 'Atmanirbhar Bharat' (India yang mandiri) merupakan pengubah permainan. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor untuk sel dan modul fotovoltaik, India bermaksud membangun rantai pasokan yang kuat yang dapat memenuhi permintaan nasional dan global.

Lintasan tenaga surya India merupakan cetak biru bagi negara-negara berkembang yang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan dengan keberlanjutan. Pengaruh global ISA, ditambah dengan inovasi teknologi dan kebijakan India, memastikan bahwa matahari tidak pernah terbenam dalam revolusi tenaga surya ini.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya