Berita

Presiden RI, Prabowo Subianto/Istimewa

Politik

Ekonom Usulkan Solusi Baru Usai Pembatalan PPN 12 Persen, Apa Itu?

RABU, 01 JANUARI 2025 | 20:34 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pembatalan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen pada barang dan jasa umum disambut baik oleh masyarakat. Namun demikian, pemerintah perlu segera mencari solusi alternatif untuk menjaga penerimaan negara.

Untuk itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengusulkan lima langkah strategis yang dinilai lebih adil dan progresif untuk menambah penerimaan negara, salah satunya pajak kekayaan.

Bhima menyarankan pengenaan pajak kekayaan sebesar 2 persen terhadap total harta para konglomerat. Kebijakan ini berbeda dari pajak penghasilan, karena berfokus pada nilai aset yang dimiliki para warga superkaya.


"Untuk gantikan penerimaan PPN yang tidak jadi naik maka opsinya ada banyak. Pertama, pemerintah bisa mulai rancang pajak kekayaan di mana total harta orang superkaya dipajaki 2 persen. Jadi bukan pajak penghasilan ya, tapi pajak harta yang selama ini Indonesia belum punya," ujar Bhima kepada RMOL, pada Rabu 1 Januari 2025.

"Estimasinya akan diperoleh Rp81,6 triliun sekali penerapan pajak kekayaan. OECD dan G20 kan mendorong pemberlakuan pajak kekayaan juga," sambungnya.

Bhima juga mendorong percepatan penerapan pajak karbon yang telah diatur dalam Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Pajak ini disebut dapat diberlakukan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara.

"Pajak karbon yang diamanatkan UU HPP bisa dijalankan tahun ini. Tinggal keluarkan PMK-nya saja kalau soal pajak karbon. Begitu diberlakukan ke PLTU batubara, hasil pajak karbon akan digunakan untuk dorongan belanja energi terbarukan yang serap tenaga kerja. Bagus juga pajak karbon bagi lingkungan hidup," jelas Bhima.

Ketiga, Pajak Produksi Batubara. Dalam hal ini, Bhima mengusulkan agar pajak produksi batubara di luar royalti yang ada saat ini dinaikkan untuk meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap penerimaan negara.

Lalu, Penutupan Kebocoran Pajak. Bhima menegaskan pentingnya memperbaiki pengawasan pajak di sektor sawit dan tambang yang selama ini kerap mengalami kebocoran.

"Tutup kebocoran pajak di sektor sawit dan tambang," tegasnya.

Terakhir, Evaluasi Insentif Pajak. Bhima menilai sejumlah insentif pajak saat ini tidak tepat sasaran dan perlu dievaluasi. Salah satu contohnya adalah program tax holiday yang diberikan kepada perusahaan smelter nikel yang telah meraup laba besar.

"Evaluasi seluruh insentif pajak yang tidak tepat sasaran. Misalnya, perusahaan smelter nikel yang labanya besar sekali tidak perlu dikasih tax holiday," ujarnya. 

Pada Selasa 31 Desember 2024, Presiden Prabowo Subianto memastikan bahwa PPN 12 persen hanya diberlakukan untuk barang dan jasa mewah. Sementara barang dan jasa yang sebelumnya terkena PPN 11 persen tidak mengalami kenaikan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Ketika Gerakan Sosial Baru Menggugat Tatanan Politik

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:15

Ada Demo Mahasiswa, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan Monas

Selasa, 20 Oktober 2026 | 00:00

Cegah Perpecahan, Bagusnya Gibran Mundur

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:38

Ada Indikasi Dendam Politik di Balik Wacana Pelengseran Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:24

Legislator PKB Serahkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Majalengka

Senin, 19 Oktober 2026 | 23:01

Realisasi Investasi Hingga Kuartal III Sentuh Rp1.539 T

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:58

Ferry Juliantono Terpilih Jadi Presiden Syarikat Islam

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:53

Masyarakat Adat Wanam Merauke Butuh Pelatihan Pertanian Berkelanjutan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:45

BEM-KSI Gelar Silaturahmi ke PBNU dan Beri Apresiasi ke Gus Gudfan

Senin, 19 Oktober 2026 | 22:29

Selengkapnya