Berita

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi Mayotte pada Kamis, 19 Desember 2024/Net

Dunia

Presiden Prancis Tinjau Kehancuran Mayotte Akibat Topan Chido

KAMIS, 19 DESEMBER 2024 | 21:52 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kepulauan Mayotte, Prancis porak-poranda setelah diterjang topan Chido dahsyat sejak akhir pekan lalu.

Mayat bergelimpangan, rumah hancur dan ribuan orang berusaha bertahan hidup di tengah kurangnya bahan pokok, air, dan pemadaman listrik.

Presiden Prancis Emmanuel Macron datang langsung ke Mayotte hari Kamis, 19 Desember 2024. Dia menaiki helikopter untuk meninjau besarnya kehancuran akibat topan Chido dari udara.


Ia kemudian menuju ke rumah sakit di Mamoudzou, ibu kota Mayotte, untuk bertemu dengan staf medis dan pasien.

Mengenakan syal tradisional Mayotte di atas kemeja putih dan dasinya, lengan baju digulung hingga siku, presiden Prancis itu mendengarkan keluhan orang-orang yang meminta bantuan.

Seorang anggota staf medis mengatakan kepadanya bahwa beberapa orang tidak minum air selama 48 jam.

"Kami tidak dapat membantu dan kamilah yang membantu," kata seorang karyawan unit psikologi rumah sakit kepada Macron, seperti dimuat Associated Press.

Macron mengatakan selain tim medis yang datang bersamanya, akan ada lebih banyak perawat yang datang menyusul dan rumah sakit lapangan akan didirikan mulai besok, Jumat, 20 Desember 2024.

Pihak berwenang Prancis mengatakan sedikitnya 31 orang tewas dan lebih dari 1.500 orang terluka, lebih dari 200 orang kritis. Namun, dikhawatirkan ratusan atau bahkan ribuan orang telah tewas.

Beberapa warga mengungkapkan kesedihan mereka karena tidak mengetahui tentang mereka yang telah meninggal atau masih hilang.

Macron mengakui bahwa banyak yang meninggal belum dilaporkan. Dia mengatakan layanan telepon akan diperbaiki dalam beberapa hari mendatang sehingga orang dapat melaporkan orang yang mereka cintai yang hilang.

Macron mengatakan ia akan menginap di Mayotte dan akan mengunjungi daerah kumuh yang dilanda topan Chido pada Jumat pagi, 20 Desember 2024.

Warga Mayotte, Abdou Houmadou mengkritik kunjungan presiden Prancis itu karena menurutnya, bantuan daruratlah yang dibutuhkan, bukan kehadiran Macron.

"Bapak Presiden, yang ingin saya sampaikan kepada Anda saya pikir pengeluaran yang Anda lakukan dari Paris ke Mayotte akan lebih baik digunakan untuk membantu masyarakat," tegasnya.

Warga lainnya, Ahamadi Mohammed, mengatakan kunjungan Macron justru baik karena ia akan dapat melihat sendiri kerusakannya.

"Saya pikir kita akan mendapatkan bantuan yang signifikan untuk mencoba dan membangun kembali pulau itu," kata pria berusia 58 tahun itu.

Kantor Macron mengatakan empat ton bantuan makanan dan medis serta penyelamat tambahan berada di dalam pesawat presiden.

Sebuah kapal angkatan laut tiba di Mayotte pada Kamis pagi, 19 Desember 2024 dengan membawa 180 ton bantuan dan peralatan.

Orang-orang yang tinggal di daerah kumuh besar di pinggiran Mamoudzou merupakan yang paling terdampak oleh topan tersebut. Banyak yang kehilangan rumah, beberapa kehilangan teman.

Mayotte, yang terletak di Samudra Hindia antara pantai timur daratan Afrika dan Madagaskar utara, adalah wilayah termiskin di Prancis.

Topan tersebut menghancurkan seluruh lingkungan karena banyak orang mengabaikan peringatan, mengira badai tidak akan terlalu ekstrem.

Mayotte memiliki lebih dari 320.000 orang menurut pemerintah Prancis.

Sebagian besar penduduknya beragama Islam dan otoritas Prancis memperkirakan 100.000 migran lainnya tinggal di sana.

Mayotte adalah satu-satunya bagian dari kepulauan Komoro yang memilih untuk tetap menjadi bagian dari Prancis dalam referendum tahun 1974.

Dalam satu dekade terakhir, wilayah Prancis telah menyaksikan kedatangan migran dalam jumlah besar dari pulau-pulau tetangga, negara merdeka Komoro, salah satu negara termiskin di dunia.

Beberapa migran lainnya datang dari tempat yang jauh seperti Somalia, dengan sebagian orang menilai itu sebagai harapan untuk dapat mencapai benua Eropa.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya