Berita

CEO Apple, Tim Cook (Foto: bsdcity.com)

Bisnis

Lobi Apple Cuma Rp15 Triliun, IHSG Sulit Tembus 7.400

JUMAT, 06 DESEMBER 2024 | 16:57 WIB | OLEH: ADE MULYANA

TARIK-ulur pelarangan iPhone 16, terlihat mulai memasuki babak baru. Kali ini kabar datang dari Menteri Investasi dan Hiliriasasi Rosan Roeslani yang menyatakan pihak Apple bersiap menanamkan investasi sebesar $1 miliar atau setara dengan lebih dari Rp15 triliun. Besaran investasi ini memang telah mengalami peningkatan hingga 10 kali lipat ketimbang penawaran sebelumnya yang hanya sebesar $100 juta.

Tetapi bila dibandingkan dengan nilai investasi Apple di Vietnam yang disebutkan lebih dari Rp250 triliun, penawaran yang disampaikan Menteri Rosan terkesan terlalu kecil atau bahkan meremehkan kapasitas pasar Indonesia. Penawaran investasi tersebut, kini terkesan sekedar lobi untuk menghapus larangan penjualan iPhone 16. Apakah pelarangan iPhone 16 akan segera berakhir dengan usulan investasi Rp15 triliun? Tentu menarik untuk ditunggu.

Namun di tengah penawaran Apple yang melonjak, pelaku pasar di Jakarta harus kembali berupaya bertahan optimis dalam menjalani sesi penutupan pekan ini. Rangkaian sentimen yang sedang berkembang di bursa global cenderung jauh dari kata bersahabat.


Sentimen dari pesta besar Bitcoin yang masih hangat, terlihat kontras dengan situasi di bursa saham yang harus kembali menjalani masa jeda. Laporan dari sesi perdagangan di Wall Street menunjukkan, seluruh Indeks yang jatuh di zona merah, meski dalam taraf moderat. Lesunya Indeks Wall Street lebih dilatari oleh langkah antisipasi pelaku pasar pada rilis data ketenaga kerjaan AS terkini yang diagendakan Jumat malam nanti waktu Indonesia Barat.

Kelesuan Wall Street itu kemudian menjalar hingga sesi perdagangan penutupan pekan ini di Asia, Jumat 6 Desember 2024. Minimnya suntikan sentimen regional yang signifikan kian menyulitkan pelaku pasar di Asia untuk bangkit dalam optimisme. Tekanan jual dalam rentang bervariasi akhirnya terjadi untuk menenggelamkan Indeks kembali ke zona merah.

Hingga sesi perdagangan ditutup, Indeks Nikkei (Jepang) melemah signifikan 0,77 persen di 39.091,17 sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) kembali terkoreksi 0,56 persen di 2.428,16 dan indeks ASX200 (Australia) turun 0,64 persen di 8.420,9. Terkhusus pada bursa saham Korea Selatan, pelaku pasar masih harus bergulat dengan gejolak politik dari proses impeachment Presiden Yoon Suk Yeol.

Kepungan situasi yang jauh dari menggembirakan itu, membuat investor di Jakarta sempat kesulitan bangkit. Pantauan menunjukkan, tekanan jual moderat yang sempat menjungkalkan Indeks di zona pelemahan tipis dalam mengawali sesi pagi.  Beruntungnya, gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemudian mampu beralih ke zona penguatan signifikan dan konsisten hingga sesi perdagangan sore. 

Pelaku pasar terkesan berupaya mengapresiasi  sentimen domestik  dari rilis data cadangan devisa. Laporan menyebutkan, besaran cadangan devisa untuk November lalu yang sebesar$150,2 milyar atau turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar $151,2 milyar. Penurunan tersebut tidak dinilai sebagai kesuraman. Keyakinan akhirnya tumbuh, hingga membuat  IHSG mampu konsisten menjejak zona penguatan signifikan meski kesulitan menembus level psikologis di kisaran 7.400.

IHSG akhirnya memungkasi sesi pekan ini dengan melonjak tajam 0,95 persen di 7.382,78. Gerak positif IHSG juga tercermin dalam kinerja saham-saham unggulan yang cenderung menguat. Sejumlah saham unggulan mampu menutup sesi dengan lonjakan signifikan, seperti: BBRI, BMRI, BBNI, INDF, JPFA, PGAS, UNTR dan ITMG. Sementara sejumlah saham unggulan lain masih  terseok di zona merah, seperti: BBCA, ADRO, ASII, TLKM dan SMGR.

Jalannya sesi perdagangan juga diwarnai gerak saham AADI yang menghelat IPO kemarin. AADI kembali melonjak 19.92 persen dengan menutup di Rp7.975. Sepanjang sesi perdagangan, AADI hanya diperdagangkan di harga tersebut dengan volume perdagangan sebesar 4.392 lot.

Pola serupa dengan sesi perdagangan kemarin, di mana tidak terdapat penawaran jual, sementara penawaran beli di harga Rp7.975 terjadi antrean hingga 2,57 juta lot kembali terjadi. Pola ini sekaligus mencerminkan upaya investor memburu AADI belum reda karena menilai masih terlalu murah sebagaimana keyakinan yang beredar di pasar beberapa waktu terakhir.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya