Berita

Sejumlah seniman perempuan dari program residensi Baku Konek tampil dengan karya-karya yang membawa perspektif unik di perayaan Jakarta Biennale 2024 yang ke-50 tahun/Foto:Dokumentasi Kemendikbudristek

Bisnis

Seniman Yogyakarta Soroti Isu Hunian dan Kepemilikan di Jakarta Biennale

RABU, 06 NOVEMBER 2024 | 12:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dalam perayaan Jakarta Biennale 2024, salah satu karya yang mendapat sorotan adalah hasil kreasi Faida Rachma, seniman asal Yogyakarta yang berkolaborasi dengan Komunitas Riwanua dari Makassar, Sulawesi Selatan. 

Sebagai salah satu seniman dalam program residensi Baku Konek 2024, Faida berani tampil dan menghadirkan perspektif yang kuat melalui karyanya, Non-linear Archives of Ephemeral Space. 

Baku Konek sendiri merupakan program residensi yang diinisiasi oleh ruangrupa dan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Kemendikbudristek melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya.


Peserta yang terlibat akan berkolaborasi dengan komunitas serta kolektif seni di berbagai daerah di Indonesia.

Non-linear Archives of Ephemeral Space, karya Faida Rachma adalah eksplorasi yang mendalam mengenai konsep “singgah” dan transformasi ruang.

Proyek residensinya di rumah Riwanua, yang dulunya merupakan rumah dinas dosen Universitas Hasanuddin, Makassar, membuka dialog tentang bagaimana ruang secara perlahan berubah mengikuti kebutuhan penghuninya, dan bagaimana perubahan tersebut mencerminkan cara kita beradaptasi dan berbagi ruang dalam kehidupan modern.

Karya ini mengangkat tema mengenai kepemilikan dan hak guna yang sering kali hanya menimbulkan hubungan ‘sementara’ tanpa ada ikatan emosional yang mendalam terhadap ruang tersebut. Melalui proyek ini, Faida ingin menunjukkan bagaimana ruang yang secara fisik berubah, baik dari segi penataan maupun fungsinya, tetap menyimpan cerita dan pengalaman berharga.

Melalui proyek ini, Faida memberikan refleksi tentang bagaimana rumah dan ruang tinggal lebih dari sekadar tempat fisik, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup.

“Karya ini adalah hasil dari pengalaman residensi saya di Riwanua, tempat yang memberikan banyak inspirasi tentang bagaimana ruang dan kehidupan manusia saling berkaitan. Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari Baku Konek, dan lebih dari itu, karya saya bisa dipamerkan di Jakarta Biennale 2024 yang merayakan lima dekade perjalanan luar biasa,” kata Faida dengan antusias.

Selain Faida Rachma, ada beberapa seniman Baku Konek di Jakarta Biennale seperti Nani Nurhayati lewat karyanya Tepung-Pa-Tepung, Nabila Tabita dengan karyanya Bertukar Cerita, Widi Asari yang mengangkat seni menenun dengan judul Ingatan Kain Mama, lalu Zuraisa yang menggambarkan penyintas peristiwa DI-TII 1962 dengan judul karya Yang Liar, Yang Menghidupi, dan masih banyak lagi.

Seniman Perempuan di Baku Konek: Mengeksplorasi Seni dari Perspektif ‘Nurture’

Di perayaan Jakarta Biennale 2024 yang ke-50 tahun, sejumlah seniman perempuan dari program residensi Baku Konek tampil dengan karya-karya yang membawa perspektif unik, berangkat dari pengalaman dan sudut pandang mereka dalam merespons lingkungan serta budaya setempat.

Program Baku Konek sendiri melibatkan tujuh seniman perempuan yang hadir baik secara individu maupun kolektif, membawa karya-karya yang tak hanya ekspresif, tetapi juga mendalam dalam merangkai cerita dan memori kolektif.

Karya-karya seniman perempuan dalam residensi Baku Konek memiliki fokus tematik yang beragam, tetapi jika ditelaah, mereka cenderung membawa perspektif nurture— atau sikap merawat. Setiap karya menggambarkan upaya untuk menjaga, merawat, dan mengingatkan akan hubungan manusia dengan lingkungan, alam, dan sesama.

Melalui perspektif ini, seniman-seniman perempuan tersebut menunjukkan kepedulian mendalam pada memori, kelangsungan hidup budaya, dan nilai-nilai sosial yang sudah lama melekat dalam masyarakat.

Faida Rachma, sebagai salah satu seniman perempuan yang berani tampil secara individu, mempersembahkan karya berjudul Non-linear Archives of Ephemeral Space.

Karya ini mengeksplorasi konsep ruang tinggal yang terus berubah seiring waktu dan kebutuhan penghuni. Di rumah Riwanua, Faida mendokumentasikan perubahan tersebut dalam empat karya yang mengingatkan kita pada pentingnya keberlanjutan dan memori yang terbentuk dari sebuah tempat tinggal. Karyanya sekaligus menyoroti bagaimana rumah bukan sekadar ruang fisik, tetapi bagian dari identitas dan tempat bertahan hidup.

Ruang Inklusif dalam Berkarya Dalam keterangannya, tim Baku Konek menekankan bahwa program ini dirancang sebagai ruang inklusif yang terbuka bagi semua gender untuk berkarya.“Program ini memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk membawa perspektif mereka tanpa batasan, dalam lingkungan yang merangkul keberagaman dan keragaman ekspresi,” kata Manajer Program Residensi Baku Konek, Ajeng Nurul Aini.

Bagi Manajemen Talenta Nasional (MTN) yang turut memfasilitasi program ini, tujuan Baku Konek adalah menciptakan ruang yang tidak hanya setara, tetapi juga relevan dan berdampak bagi masyarakat, di mana seni dapat menjadi media dialog dan solusi sosial.

Baku Konek membuka peluang yang sama bagi setiap seniman untuk berkarya secara mendalam dan dekat dengan masyarakat. Harapannya, karya seni dari program ini dapat memberi dampak sosial yang lebih luas, baik dalam hal pelestarian budaya maupun kesadaran ekologis.

Program Baku Konek memungkinkan para seniman untuk melakukan residensi di berbagai wilayah di Indonesia, membuka ruang bagi dialog antar budaya dan lingkungan. Dalam perayaan 50 tahun Jakarta Biennale, karya-karya ini menjadi cerminan dari kompleksitas Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya, sekaligus tantangan ekologis yang dihadapi masyarakat di seluruh nusantara.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

27 Ton Bantuan Korban Gempa NTT Diberangkatkan dari Lanud Halim

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:57

Merdeka dan Menderita

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:23

Legislator PDIP Dorong Penguatan SKK Migas Lewat Revisi UU 22/2001

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:59

TelkomGroup Tancap Gas Perbaiki Layanan Pascagempa NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:32

Malam Renungan Suci

Senin, 17 Agustus 2026 | 04:17

DOB Bekasi Utara Sangat Penting, Ini Alasannya

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:45

Jebolan Akmil 2003 Ini Siap Komandani Upacara HUT ke-81 RI di Istana

Senin, 17 Agustus 2026 | 03:23

Koperasi dan Cacat Epistemologis Pemahaman

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:47

Kampung Binaan Pertamina Lubricants Dorong Ekonomi Sirkuler di Jakut

Senin, 17 Agustus 2026 | 02:20

Buku ‘Transformasi Tata Kelola Perikanan Indonesia’ Jawab Masalah Ekonomi Biru hingga PIT

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:55

Selengkapnya