Berita

Ilustrasi (Foto: datatempo.co)

Bisnis

Inflasi Gagal Angkat IHSG, Dolar AS di Rp15.715

JUMAT, 01 NOVEMBER 2024 | 16:28 WIB

SENTIMEN suram menutup sesi perdagangan Wall Street di sesi akhir Oktober. Gelombang tekanan jual menghampar pada sejumlah besar saham teknologi hingga mengirimkan Indeks ke jurang koreksi. Laporan yang beredar menyebutkan, pelaku pasar yang kian kukuh menghadirkan pesimisme di tengah penantian rilis data NFP (non-farm payroll) yang akan dilakukan pada Jumat malam nanti waktu Indonesia Barat.

Indeks DJIA tergerus 0,9 persen dengan menutup di 41.763,46, sementara indeks S&P500 rontok 1,86 persen di 5.705,45 dan indeks Nasdaq tumbang 2,76 persen setelah terhenti di 18.095,15. Pantauan dari jalannya sesi perdagangan menunjukkan, gerak Indeks yang konsisten menjejak zona merah di sepanjang sesi yang sekaligus mencerminkan kukuhnya pesimisme investor.

Pesimisme tersebut kemudian menjalar hingga sesi perdagangan pagi penutupan pekan ini di Asia, Jumat 1 November 2024. Di tengah kabar positif dari China yang mengklaim terjadinya ekspansi pada aktivitas manufaktur pada Oktober lalu, tekanan jual masih menghampar di hampir seluruh bursa Asia.


Rilis Indeks PMI manufaktur oleh pihak swasta di China menunjukkan, Indeks PMI untuk Oktober lalu yang menginjak kisaran 50,3. Hal ini mengindikasikan terjadinya pertumbuhan pada aktivitas manufaktur di negeri perekonomian terbesar Asia itu. Namun sentimen tersebut gagal menahan pesimisme yang sedang menghampar.

Hingga sesi perdagangan siang ini berlangsung, Indeks Nikkei (Jepang) runtuh 2,11 persen di 38.256,63, sementara indeks ASX200 (Australia) tertebas 0,68 persen di 8.104,2 dan indeks KOSPI (Korea Selatan) naik tipis 0,05 persen di 2.556,2. Pola suram di Asia menyulitkan pelaku pasar di Jakarta untuk sekedar bertahan di zona hijau.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok dalam zona koreksi di sepanjang sesi perdagangan pagi ini. IHSG kemudian menutup sesi dengan turun 0,73 persen di 7.518,99. Sentimen domestik dari rilis Indeks PMI manufaktur yang berada di kisaran 49,2 pada Oktober lalu kian menyulitkan IHSG lolos dari penurunan. Catatan menunjukkan, posisi Indeks PMI manufaktur Indonesia yang telah empat bulan terakhir menjejak zona kontraksi, di mana hal ini menjadi kekhawatiran bagi investor.

Sementara rilis data inflasi bulanan untuk Oktober lalu diklaim sebesar 0,08 persen. Rilis terjadinya inflasi ini sekaligus menghentikan deflasi yang telah terjadi dalam lima bulan sebelumnya secara beruntun. Namun demikian pelaku pasar masih kesulitan menemukan pijakan untuk beralih optimis.

Sentimen domestik yang tersedia secara keseluruhan akhirnya cenderung semakin menyulitkan investor untuk menatap optimis. Tekanan jual berlanjut dan menghantam sejumlah saham unggulan, seperti: BBRI, BMRI, TLKM, INDF, BBNI, CPIN, UNTR, PTBA, PGAS, JPFA, ICBP, LSIP dan SMGR. Meski demikian, dua saham unggulan, ADRO dan BBCA masih mampu mencetak kenaikan.

Rupiah Bergerak Sempit

Kinerja tak jauh berbeda terjadi pada nilai tukar Rupiah. Di tengah berhasilnya sebagian mata uang utama dunia melanjutkan gerak menguat terbatas, Rupiah terkesan kesulitan untuk menjejak zona hijau. Pantauan menunjukkan, Rupiah yang sempat mengawali sesi pagi dengan menguat tipis, namun dengan cepat beralih merosot.

Kemerosotan Rupiah dalam rentang moderat kemudian berlangsung konsisten di sepanjang sesi pagi ini. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah masih diperdagangkan di kisaran Rp15.715 per Dolar AS atau melemah 0,17 persen. Rilis data indeks PMI manufaktur dan Inflasi bulanan dengan mudah tenggelam oleh sikap pelaku pasar yang cenderung menantikan rilis data NFP AS malam nanti waktu Indonesia Barat.

Gerak Rupiah akhirnya terjebak di rentang terbatas seiring dengan pola yang sedang mendera seluruh mata uang Asia. Pantauan menunjukkan, mata uang Asia yang hingga siang ini hanya menyisakan Peso Filipina yang mampu bertahan di zona penguatan moderat. Selebihnya, termasuk Rupiah, masih bergulat di zona pelemahan terbatas.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya