Berita

Airlangga Hartarto/Ist

Publika

Mundurnya Airlangga Adalah Mundurnya Konstitusi Politik Indonesia

OLEH: ADIAN RADIATUS*
SENIN, 12 AGUSTUS 2024 | 07:17 WIB

TIDAK ada lagi yang perlu merasa terkejut atas tragedi demokrasi dan konstitusi Indonesia beberapa tahun terakhir ini. 

Termasuk mundurnya Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto, yang semestinya memimpin partai terbesar nomor dua di negeri ini hingga Desember 2024.

Namun kehidupan politik yang dewasa, terhormat serta berintegritas tampaknya semakin sulit dimiliki masing-masing parpol pasca pernyataan Presiden Jokowi bahwa dirinya tahu dalamnya partai seperti apa dan ingin menuju ke mana juga dia mengerti, sekitar medio September tahun 2023 lalu. Sumber data intelejen menjadi pegangannya atas pernyataan itu.


Sungguh ironis memang bila sebuah kepemimpinan presidensial membawa kekuasaan ke arah diktatorian meski tersembunyi. Karena implementasinya menjadi bias seperti sekarang ini.

Demikian ganasnya hingga terasa para ketum parpol itu seakan "Petugas Kabinet" bayangan bagi sang Presiden dan Jokowi lakonnya. terkesan sangat amat mendekati seperti itu. Diktator.

Maka bila peralihan presiden kelak tidak mampu mengeliminir sepak terjang perilaku seperti Jokowi ini, dapat dipastikan 'stabilitas' politik yang dinamis hanyalah delusi para petualang politik yang dapat berujung lahirnya revolusi besar ketatanegaraan kita. 

Karena tidak pernah ada kekuasaan absolut di tangan satu orang mampu membunuh demokrasi bagi ratusan juta orang.

Bagaimanapun Jokowi sudah tak bisa bersih diri dari stigma "sutradara" kericuhan politik di kalangan elite pemegang atau peserta kekuasaan setelah upaya-upaya tiga periode, perpanjangan masa jabatan hingga berbagai warna "cawe-cawe" yang berimbas 'patah arangnya' dengan PDIP terkhusus Megawati Soekarnoputri.

Rakyat disuguhkan lakon-lakon politik yang dramatis, tidak masuk akal bahkan dalam beberapa estetika politik sangat amat tidak senonoh. 

Politik yang berputar-putar terus pada tarik menarik kekuasaan mau tidak mau berimbas pada pergerakan ekonomi, hukum dan sosial kemasyarakatan yang bergejolak semakin tajam pada dimensi tertentu.

Apa yang terjadi di Partai Golkar tidak layak diterima akal sehat karena semestinya dapat berjalan normal dan wajar apalagi kontestasi pilpres dan pileg telah berlangsung baik dan berhasil sebagai bagian suksesi kelanjutan pengelolaan negara bagi bangsanya sendiri. Apa yang dikhawatirkan bahkan ditakuti Jokowi? 

Pertanyaan terkini adalah benarkah Jokowi ingin kursi ketum Golkar itu? Apakah caranya ala "pokrol bambu" halus seperti Kaesang Pangarep menjadi ketum PSI? 

Bila benar demikian semakin jelas bayang-bayang kerusakan fundamental perpolitikan Indonesia semakin nyata meskipun korbannya saat ini adalah mundurnya Airlangga Hartanto yang terlihat sebagai mundurnya konstitusi politik Indonesia saat ini.



*Penulis adalah pemerhati sosial politik

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya