Berita

Foto ilustrasi/Net

Bisnis

Powell Tak Bertaji, Saham Unggulan dan Rupiah Turun Berjamaah

SELASA, 16 JULI 2024 | 18:56 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Penurunan Indeks akhirnya terjadi secara signifikan di Bursa Saham Indonesia. Setelah sempat berupaya bertahan di zona penguatan dalam mengawali sesi perdagangan pagi secara perlahan dan meyakinkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beralih ke zona merah secara konsisten. 

IHSG tercatat menutup sesi perdagangan hari ini, Selasa 16 Juli 2024 dengan merosot curam 0,75 persen di 7.224,29. Merosotnya  IHSG memang dimungkinkan secara teknikal, namun yang agak mengejutkan adalah sentimen yang mengiringinya. Laporan menyebutkan sikap investor yang mulai beralih pesimis dengan serangkaian perkembangan terkini di pasar global.

Duet sentimen dari kasus upaya pembunuhan capres AS Donald Trump dan sinyal penurunan suku bunga  dari Jerome Powell akhirnya dinilai sebagai pertanda kurang menguntungkan. Terlebih di sesi pembukaan perdagangan di bursa Saham utama Eropa, di mana seluruh indeks tercatat menurun, membuat pelaku pasar di Jakarta beralih melakukan tekanan jual untuk menggerus IHSG.


Laporan lebih jauh juga memperlihatkan, gerak turun IHSG kali ini yang tercermin secara merata pada sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan. Saham BBRI ditutup turun 1,86 persen di Rp 4.730, BBNI melemah 0,89 persen di Rp 4.980, serta TLKM yang merosot 1,89 persen di Rp 3.100.

Saham unggulan lain yang menjadi buruan investor selama ini juga mengalami nasib serupa, di mana BBCA turun 0,99 persen di Rp 9.950 dan ASII yang terjungkal  2,01 persen di Rp 4.380. Penurunan saham-saham unggulan secara berjamaah mencerminkan tekanan jual yang mulai muncul di sesi hari ini.

Pantauan menunjukkan, gerak merah IHSG kali ini terjadi di tengah bervariasinya Indeks di Bursa Utama Asia. Indeks Nikkei (Jepang) masih mampu bertahan positif dengan naik 0,2 persen untuk menutup sesi di 41.275,08 dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang naik moderat 0,18 persen dengan berakhir di 2.866,09. Sedangkan indeks ASX 200 (Australia) menutup sesi dengan turun tipis 0,23 persen di 7.999,3.

Tekanan  jual pada IHSG sebenarnya belum terlalu meyakinkan, namun sesi pembukaan perdagangan di Eropa yang kompak menjatuhkan indeks, membuat investor di Jakarta terseret dalam pesimisme. Laporan yang beredar menyebutkan, pesimisme di Eropa yang dilatari oleh situasi perkembangan ekonomi-politik di wilayah tersebut yang dinilai kurang bersahabat. Sentimen Ini kemudian dengan mudah berpadu dengan sentimen kasus penembakan capres Donald Trump di AS. Secara bersama-sama, sentimen tersebut membuat sinyal positif penurunan suku bunga oleh Jerome Powell, pimpinan The Fed, menjadi tak Bertaji.

Pola serupa dengan sedikit variasi terjadi di pasar uang. Nilai tukar Rupiah terpantau konsisten menapak zona pelemahan di sepanjang sesi perdagangan hari Ini. Rupiah terpantau sempat menginjak titik terlemahnya di kisaran Rp 16.209 per Dolar AS, namun kemudian mampu berbalik mengikis pelemahan dengan signifikan.

Hingga sesi perdagangan sore ini berlanjut, Rupiah tercatat ditransaksikan di Rp 16.175 per Dolar AS atau melemah 0,07 persen. Kemampuan Rupiah untuk mengikis pelemahan di sesi perdagangan sore mengindikasikan masih bertahannya tren penguatan.

Pada sisi lainnya, gerak melemah Rupiah seiring dengan tren pelemahan yang sedang mendera mata uang Asia. Pantauan menunjukkan, mata uang Dolar Australia bersama  Ringgit Malaysia yang terpuruk paling dalam di antara jajaran mata uang Asia. Terkini, nilai tukar Ringgit terhadap Dolar AS berada di kisaran 4,6740 atau melemah 0,09 persen, sementara nilai tukar Dolar Australia terhadap Dolar AS yang disimbolkan AUDUSD menginjak posisi 0,6741 setelah merosot signifikan 0,35 persen.

Pelemahan mata uang Asia lainnya terlihat kasih dalam taraf moderat, sebagaimana terjadi pada Baht Thailand, Dolar Singapura, dan Rupee India. Sedangkan mata uang Peso Filipina justru terlihat masih mencoba bertahan di zona penguatan tipis.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Tak Perlu Takut dengan Ide Kewarganegaraan Ganda Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:26

Cara Mengubah Desil DTSEN Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Langkahnya

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:15

Tak Cuma Revisi, DPR Sepakat Regulasi Baru Migas

Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:14

GBNI Dukung Program Kerakyatan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:37

B50 Perkuat Kemandirian Energi, Hemat Devisa, dan Dorong Transformasi Ekonomi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:34

Presiden Perintahkan Penanganan Darurat, Wamensos Terjun ke Lokasi Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:28

21 Kantong Parkir Disiapkan Saat Perayaan HUT ke-81 RI di Jakarta

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:31

MBG Harus Kembali ke Tujuan Awal Bukan Jadi Ladang Bisnis

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:21

Ruas Jalan di Jakarta Direkayasa Saat Perayaan HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:12

Besok! Ongkos Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta Cuma Rp8

Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:30

Selengkapnya