Berita

Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2007-2012, Prijanto/Net

Publika

Simpan Tagline Pilpres 2024, Bangunlah Persatuan Berdasar Dwi Azimat Bangsa

JUMAT, 23 FEBRUARI 2024 | 07:55 WIB | OLEH: PRIJANTO

KALIMAT Kunci: Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Kita mendirikan  negara "semua buat semua", satu buat semua, semua buat satu. Saya yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan dalam permusyawaratan. (Yudi Latif, Negara Paripurna, Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila).

Kalimat kunci di atas, adalah ajakan Bung Karno, yang mengingatkan saya sewaktu kursus di Lemhannas. Kertas kosong pun bisa didiskusikan, adu argumentasi dari pagi hingga sore.

Selesai diskusi, makan malam, pesiar bersama-sama, haha-hihi, lupa otot-ototan di kelas. Ngobrol bersatu sesama siswa, bermusyawarah, berpikir untuk negeri bagaimana baiknya.


Beda dengan tagline Pipres 2024; menjadi bahan adu argumentasi, membelah paradigma dan pergaulan sesama anak bangsa, sehingga merusak persatuan, walaupun coblosan sudah usai. Hidup pun terkotak-kotak, tidak sadar bahwa pemilu sudah usai, tetapi masih saja saling mengejek dan "menelanjangi".

Tagline Pilpres Indonesia 2024, Paslon 1 Perubahan, Paslon 2 Berkelanjutan dan Paslon 3 Cepat dan Unggul. Namun, Mahfud MD ketika dialog terbuka di Muhammadiyah mengatakan, ia dan Ganjar mengusung Keberlanjutan dan Perbaikan.

Dengan demikian, frasa tagline 3 memiliki hakikat yang sama atau paduan antara tagline 1 dan 2.

Tagline 1 yang terdiri satu kata, Perubahan dan tagline 2 Berkelanjutan, sepintas memiliki makna yang bertentangan.

Rakyat, utamanya para netizen, menangkap perbedaan kata tersebut menjadi bahan otot-ototan, saling mengejek, adu argumentasi, sehingga membuat pembelahan dalam kehidupan masyarakat.

Apabila kita cermati, sesungguhnya kedua tagline memiliki kandungan niat yang sama, walaupun diungkapkan dengan kata yang beda. Anies atau Prabowo jika terpilih, sebagai pejabat presiden baru, tentu akan mengatakan siap melaksanakan tugas, wewenang dan tanggung jawab jabatan sebagai presiden.

Artinya, kebijakan presiden baru tentu akan melanjutkan yang baik,  meninggalkan yang buruk atau mengubah yang buruk menjadi baik dan berbuat yang belum pernah ada. Inilah clue yang terkandung di dalam tagline Berkelanjutan dan Perubahan. Benarkah demikian?

Mari kita uji. Anies dalam wawancara dengan masyarakat mengatakan dirinya tidak anti hal yang baik. Anies mencontohkan, sewaktu menjabat gubernur, tetap melanjutkan kebijakan yang baik dari Ahok.

Sedangkan Prabowo, dalam orasinya menjelaskan akan melanjutkan kebijakan yang baik untuk rakyat, dan meninggalkan yang tidak baik untuk rakyat. Ternyata, kedua tagline tersebut memiliki hakikat kandungan yang sama dalam implementasinya.

Belajar dalam Pilpres 2019, dimana telah terjadi pengotak-kotakan masyarakat menjadi kelompok cebong, kampret, dan kadrun, terbawa sampai menjelang Pilpres 2024; dan hilang akibat perubahan konstelasi politik.

Perseteruan ini jelas tidak sehat, membuat persatuan terbelah dan membuat kaku pergaulan di masyarakat.

Kalimat kunci di atas, merupakan salah satu dari lima prinsip yang disampaikan Bung Karno dalam pidatonya ketika mencari persatuan philosophische grondslag, atau weltanschauung untuk Indonesia merdeka. Pidato tersebut disampaikan pada 1 Juni 1945, di hadapan anggota BPUPKI.

Kelima prinsip dari Bung Karno menjadi bahan yang diolah oleh Panitia penyusun Rancangan Undang Undang Dasar dalam BPUPKI. Kelima dasar yang tertuang dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 tersebut disepakati dan disahkan dalam sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, bersifat final, politis dan legal.

Walaupun perjalanan sejarah bangsa Indonesia mengenal era Orla, Orba, dan kini Reformasi, namun kedudukan Pembukaan UUD 1945 tetap tidak berubah; tetap sebagai staats fundamental norm, yang di dalamnya bersemayam norma dasar atau grundnorm milik bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Pancasila sebagai dasar negara, falsafah bangsa Indonesia, juga ideologi negara dan way of life serta alat pemersatu bangsa dan sumber dari segala sumber hukum.

Pancasila selalu diteriakkan: "Pancasila harga mati". Dengan demikian, Pancasila harus dipedomani, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila istilah cebong, kampret dan kadrun tidak menguntungkan dalam perjalanan bangsa di masa lalu, sebaiknya segera simpan tagline Pilpres 2024, dan segera bangun persatuan Indonesia, dengan semangat toleransi, persaudaraan dan perdamaian yang berkeadilan dan bermanfaat.

Ingatlah, kehendak bersatu pada hakikatnya salah satu syarat terbentuknya bangsa, kata ilmuwan dan filsuf Prancis Ernest Renan, pada abad 18.

Menyimak apa yang disampaikan politisi muda Ahmad Sahroni dari Nasdem, ketika ditanya tentang sikap partainya, dengan adanya DNA partai yaitu Perubahan, Ahmad Sahroni secara politis menjawab itu hanya tagline dalam pemilu.

Secara pribadi saya memberikan apresiasi atas pandangannya. Tagline pemilu hanyalah untuk pemilu.

Memang seyogianya, ke depan, semua komponen masyarakat dalam upaya membangun bangsa dan negara, lebih mengedepankan nilai persatuan.

Ingatlah, hanya dengan persatuan, bangsa-bangsa di Nusantara bersatu menjadi bangsa Indonesia yang mampu mengusir penjajah, sehingga Indonesia merdeka.

Para pahlawan kusuma bangsa, yang jasadnya tersebar di hutan, gunung, lembah, ngarai dan makam-makam, baik dikenal maupun tak dikenal, telah mewariskan nilai-nilai persatuan sejak tahun 1928.

Melalui persatuan itulah bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan. Nilai-nilai persatuan itulah yang harus kita pedomani dalam mengisi kemerdekaan ini, untuk mencapai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia.

Sebagaimana disampaikan Bung Karno, bahwa kita mendirikan negara Indonesia, untuk semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.

Bung Karno yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah persatuan disertai nilai-nilai permusyawaratan, perwakilan. Apa-apa yang belum memuaskan, dibicarakan secara musyawarah. Bukan dengan perdebatan.

Simpanlah tagline pilpres, dan mari kita bangun persatuan. Sebab, Indonesia yang kaya sumber daya alamnya, bak zamrud khatulistiwa, menjadi incaran asing, yang menggunakan komprador untuk memecah-belah persatuan.

Begitu pula ulah para anasir-anasir ekstrem kiri dan ekstrem kanan yang ingin mengganti falsafah bangsa Indonesia Pancasila dengan paham mereka.

Dalam rangka menjaga, mempertahankan, dan mengelola sumber daya alam demi kemakmuran rakyat Indonesia, tidak ada kata-kata yang tepat selain ajakan simpan tagline Pilpres 2024.

Mari kita bersatu, dengan mempedomani, menghayati, dan mengamalkan Dwi Azimat bangsa Indonesia, yaitu Pancasila dan UUD 1945, sebagai warisan founding fathers and mothers Indonesia, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Insyaallah, dengan bangsa Indonesia kembali ke UUD 1945 untuk disempurnakan dengan adendum, semoga Indonesia mampu mencapai Indonesia emas, yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Periode 2007-2012, Aster Kepala Staf TNI Angkatan Darat 2006-2007

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya