Berita

Pendiri Haidar Alwi Instutute (HAI), R Haidar Alwi/Ist

Politik

Dampak Resesi Ekonomi Global Indonesia Bisa Lebih Menakutkan dari Inggris dan Jepang

KAMIS, 22 FEBRUARI 2024 | 09:20 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pemerintah Indonesia diminta mengantisipasi dampak resesi ekonomi yang melanda sejumlah negara maju seperti Inggris dan Jepang.

Pendiri Haidar Alwi Instutute (HAI), R Haidar Alwi mengatakan, dampak resesi global tersebut tidak bisa dianggap remeh, karena dapat mengganggu kondisi perekonomian global dan merambat pada negara-negara berkembang tak terkecuali Indonesia.

Terlebih, Jepang merupakan mitra dagang strategis yang menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia selain China, Amerika Serikat dan India. Sehingga dikhawatirkan menimbulkan dampak langsung yang lebih besar terhadap perekonomian Indonesia.


Kendati demikian, bukan berarti dampak resesi ekonomi Inggris terhadap Indonesia boleh diabaikan. Cara melihatnya harus menggunakan kacamata yang lebih luas mengingat Inggris juga memiliki hubungan dagang dengan negara-negara yang menjadi mitra Indonesia. Secara tidak langsung, resesi ekonomi Inggris juga akan berdampak pada perekonomian Indonesia.

"Di era globalisasi yang mana antar negara saling terkoneksi, ketika sebuah negara mengalami krisis maka dipastikan juga akan berdampak terhadap negara lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung," kata Haidar Alwi dalam keterangannya, Kamis (22/2).

Dampak resesi ekonomi Jepang terhadap perekonomian Indonesia dapat terlihat dari turunnya nilai ekspor non-migas tahun 2023 sebesar 18,59 persen dibanding tahun 2022. Hal itu masih berlanjut di Januari 2024 yang turun 22,73 persen dibanding Januari 2023.

Di sisi lain, impor nonmigas di Januari 2024 naik 0,48 persen dibanding Desember 2023 atau naik 1,76 persen dibanding Januari 2023. Dalam hal ini, Jepang menjadi salah satu dari tiga negara pemasok barang impor non-migas terbesar untuk Indonesia.

"Akibatnya, surplus neraca perdagangan per Januari 2024 adalah yang terendah dalam enam bulan terakhir," kata Haidar Alwi.

Resesi ekonomi global akan berdampak signifikan terhadap negara-negara yang bergantung pada komoditas impor. Ketika negara eksportir lebih memprioritaskan kecukupan stok dalam negerinya masing-masing, maka negara importir akan gagal memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakatnya karena terjadi kelangkaan dan kenaikan harga.

Indonesia misalnya sebagai negara yang bergantung pada impor beras. Sepanjang tahun 2023 impor beras Indonesia mencapai 3,06 juta ton atau naik 613,61 persen dibanding tahun 2022. Angka ini adalah yang paling tinggi dalam lima tahun terakhir.

"Impor beras terbesar Indonesia berasal dari Thailand dengan volume 1,38 juta ton atau setara 45,12 persen dari total impor beras," kata Haidar Alwi.

Ironisnya, dengan impor beras sebesar itu dan klaim stok beras di gudang Bulog masih aman, kelangkaan dan kenaikan harga beras terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Pada akhir tahun 2023 lalu, pemerintah berdalih hanya bersifat sementara karena mendekati libur Natal dan tahun baru. Akan tetapi faktanya sampai hari ini masalah serupa masih saja terjadi.

"Antrean berjam-jam bahkan sampai ada yang pingsan hingga diwarnai kericuhan untuk mendapatkan beras murah menjadi fenomena yang semakin sering terdengar dan semakin mudah dijumpai. Tidak hanya di kota tapi juga di desa," kata Haidar Alwi.



Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya