Berita

PT Bursa Efek Indonesia meluncurkan aplikasi IDX Mobile yang dapat diunduh di PlayStore maupun Apple Store. Peluncuran layanan berbentuk daring ini bertepatan dengan perayaan ke 31 tahun BEI pada Kamis (13/7)/Harian Disway

Dahlan Iskan

Bursa Warung

JUMAT, 26 JANUARI 2024 | 07:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SEBELUM pemilihan presiden 14 Februari, satu perusahaan UMKM lagi masuk bursa: MPStore. Pemiliknya anak muda asal Madura, Bangkalan. Namanya Abdul Muidz. Umur 36 tahun. Dipanggil Aad.

Saya bertemu dengan Aad kemarin. Di Jakarta. Di acara seminar sekitar 500 anak muda pengusaha, Indonesia Business Outlook 2024 di CGV, Grand Indonesia, Kamis, 25 Januari 2024.

Jenis usaha Aad khas anak muda masa kini: aplikasi. Namanya MPStore tadi.


Sudah lima tahun ia menekuni MPStore. Sudah 600.000 toko yang menggunakan aplikasi MPStore. Karena itu ia merasa sudah saatnya IPO di bursa saham Jakarta.

Meski bisnisnya sangat masa kini, Aad tidak memulainya dari langit. Ia mengawali karir dari seorang canvaser. Salesman. Dari rumah ke rumah. Jualan pulsa salah satu perusahaan telekomunikasi swasta.

Keberhasilannya sebagai tenaga pemasaran di lapangan itulah yang membuat Aad ditarik ke staf di kantor. Lalu jadi manajer. Ia pun tahu seluk-belum manajemen di perusahaan.

Dari situ Aad merintis pembuatan aplikasi. Itu untuk memudahkan toko dan warung jualan dan kulakan. Terutama agar toko dan warung bisa dapat barang lebih murah: langsung ke grosir.

Kesulitannya: warung dan toko tidak mau membayar di depan. Mereka khawatir barang yang dibeli tidak datang. Kalau datang pun jangan-jangan tidak sesuai.

Sebaliknya pemasok tidak mau kirim barang di depan. Takut tidak dibayar.

Ada hambatan lain: toko/warung tidak mau jualan dibayar lewat aplikasi. Toko dan warung ingin hari itu juga harus terima uang. Pembelian lewat aplikasi uangnya baru masuk paling cepat keesokan harinya.

Aad berani membayarkan ke toko/warung di hari yang sama. Itulah yang membuat warung dan toko mau jualan pakai barcode. "Saya pernah habis Rp 1,5 miliar sehari," ujar Aad.

Tapi aplikasi MPStore-nya laris. Aad lantas menjalin hubungan dengan bank swasta. Ia minta kredit yang akan dibayar satu hari. Banknya mau. Tapi Aad minta tidak mau pakai bunga. Ia beralasan bahwa yang ia kerjakan itu sebenarnya pekerjaan bank. Berhasil. Bank setuju. MPStore kian berkembang. Sampai bisa mencapai 600.000 lebih sekarang ini.

Aad bukan keturunan pengusaha. Ayahnya, almarhum, adalah politisi –anggota DPRD Bangkalan dari Golkar. Sebenarnya sang ayah minta Aad juga jadi politisi. Aad pilih kerja sebagai orang pemasaran di lapangan.

Kini Aad tinggal di Surabaya Timur. Rumahnya yang di Bangkalan tetap dipertahankan. Ia orang Bangkalan asli. Lahir, SD, SMA di Bangkalan. Kuliahnya pun di Bangkalan –Universitas Trunojoyo.

"Saya ini Madura Negeri," kelakarnya.


"Madura Negeri" adalah istilah guyonan untuk orang Madura yang lahir di Madura.

Banyak orang Madura yang lahir di Tapal Kuda (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Malang). Mereka itulah yang disebut Madura Swasta (Pendalungan).

Begitu banyak orang Madura di Malang sampai ada guyon kalau Madura kelak memisahkan diri dari Jatim maka ibu kota provinsi Madura itu di Malang.

Meski usaha Aad ini sangat masa kini, namun cara memperbesarnya tetap pakai cara lama: lewat canvasing. Untuk bisa mencapai 600.000 itu ia mempekerjakan 20 orang canvaser. Bahkan menjelang IPO ini ia punya 200 tenaga canvaser.

Pengguna MPStore itu mayoritas di Jatim dan Jabar. Yakni di kota-kota level dua, tiga, dan empat. Kota besar seperti Surabaya ia hindari dulu. Di Madura sendiri 15 persen dari 600.000 itu.

Aad saya jadikan contoh sebagai pengusaha baru yang tidak meninggalkan cara lama. Bukan jenis yang bakar-bakar uang. Ia bekerja keras. Berkeringat. Bergerak di lapangan.

Pun gaya hidupnya: tetap sederhana. Efisien.

Kalau pun IPO-nya nanti sukses meraih dana Rp80 miliar, uang itu akan sepenuhnya untuk ekspansi. Pasar modal tentu senang dengan model manajemen seperti Aad itu.

Orang Madura sukses jadi pengusaha bukan baru Aad. Tapi yang lewat UMKM masuk bursa Aad-lah idola orang Madura.

Warung itu skala bisnisnya begitu kecil. Tapi aplikasi bisa membuatnya terlihat amat besar.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya