Berita

India bakal berganti nama jadi Bharat/Net

Dahlan Iskan

Bharat Timur

JUMAT, 08 SEPTEMBER 2023 | 05:23 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BANYAK yang senang kalau negara India jadi ganti nama: menjadi Bharat.

Pun Indonesia.

Kita selalu rebutan dengan India untuk kode negara tiga huruf: IND.


Harusnya itu Indonesia. Tapi itu selalu berarti India.

Indonesia tergusur menjadi INA. Misalnya di urutan perolehan medali dalam pesta olahraga. Atau asal negara mana atlet tersebut.

Suku Indian, di Amerika, juga tidak harus lagi disebut ''American Indian''. Cukup suku Indian. Tidak akan disalahpahamkan dengan Bharat.

Usaha ganti nama itu kian nyata di India. Tidak lagi hanya wacana. Terutama sejak partai kanan selalu memenangkan pemilu di sana: Partai Bharatiya Janata. Partai Rakyat Bharat.

Partai ini sangat kanan. Sangat Hindu. Termasuk gigih memperjuangkan konstitusi baru. Agar dasar negara India diubah menjadi berdasar agama Hindu.

Partai Bharatiya Janata juga jadi pelopor perubahan nama negara. India dianggap lambang ''perbudakan''. Rendahan. Terjajah. Nama India mereka anggap mencerminkan kekuasaan penjajah: Inggris.

Partai Bharatiya Janata ingin mental negara terjajah segera lenyap.

Maka nama Bharat secara resmi mulai diperkenalkan ke dunia. Mumpung ada momentum besar di sana: tuan rumah KTT G20. Banyak forum pendahuluan diadakan di India. Termasuk rapat-rapat grup. Juga rapat para menteri dari negara-negara G20.

Dalam sebuah undangan resmi rapat grup G20, nama Bharat sudah digunakan sebagai pengganti India. Hanya saja masih ada terjemahan di bawahnya: bahwa yang dimaksud Bharat adalah India.

Rasanya tidak lama lagi nama Bharat akan menjadi resmi. Awalnya kita tentu akan tergagap menyebutnya, lama-lama akan biasa.

Perubahan Burma menjadi Myanmar lebih sulit. Kata ''Bharat'' sudah tidak asing di lidah kita. Kita biasa mengucapkan kata barata, barata yudha, wayang orang Bharata.

Orang kita juga ada yang mengusulkan agar nama Indonesia diganti. Dianggap kurang hoki: menurut hongsui.

Nama orang itu, Anda sudah tahu: Chandra Adiwana. Orang Aceh kelahiran Medan. Umurnya 10 tahun lebih muda dari saya. Ia sudah mempelajari ribuan nama. Baik bunyi, huruf dan panjang-pendeknya. Juga dikaitkan dengan budaya dan agama.

Sudah banyak orang ganti nama setelah konsultasi ke Adiwana. Pun teman saya yang pernah kehilangan bank. Namanya masih mirip dengan yang lama tapi ada tambahan huruf.

Adiwana serius soal perubahan nama Indonesia.

"Agar tidak sakit-sakitan terus," katanya suatu saat.

Begitu seriusnya sampai Adiwana menerbitkan buku. Judulnya: Selamat Tinggal Indonesia.

Nama baru yang ia usulkan adalah Indonesiaraya. Digandeng. Sebagai perlambang penyatuan rakyat Indonesia. Atau diganti dengan nama yang lain Nusantara.

Letak huruf ''n'' persis di tengah nama Indonesia, menurut Adiwana tidak membawa keberuntungan. Sama dengan huruf ''n'' di nama Argentina. Rupanya Messi tidak dianggap sebagai bagian keberuntungan.

Bukankah huruf ''n'' di Nusantara  juga di tengah persis?

Betul. Tapi ada huruf ''N'' besar di depannya.

Saya menghubungi Adiwana tadi malam. Tidak tersambung. Ia dalam perjalanan darat menuju Bali. Liburan.

Tidakkah ''Indonesiaraya'' terlalu panjang? Adiwana pernah menyebut Brunei Darussalam juga panjang. Padahal nama lamanya pendek saja: Brunei.

Tentu tidak ada Adiwana di India. Atau justru lebih banyak. Yang jelas nama baru Bharat akan mendapat dukungan besar. Oposisi kian kecil di Bharat. Selamat datang Bharat. Indonesia pun tidak akan lagi disebut India Timur. Mungkin jadi Bharat Timur.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya