Berita

Kota Duba yang berada di kawasan pantai/Ist

Dahlan Iskan

Superhemat

RABU, 15 MARET 2023 | 05:22 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

"DI DUBA nanti turun di mana?" tanya si Karala sambil memacu mobilnya ke selatan.

"Di mana saja, asal tidak di rest area," jawab saya. Bahasa Inggrisnya lebih bagus dari saya.

"Tidak bisa di mana saja," tukasnya serius.


"Ada hotel?" tanya saya.

"Banyak. 1.500 riyal satu malam," jawabnya.

Proyek Neom, katanya, membuat kota Tabuk dan Duba menjadi kota mahal. Sudah mahal pun belum tentu ada kamar. Di dua kota inilah ribuan tenaga asing tinggal. Tabuk di timur Neom. Duba di selatannya.

"Di Duba ada terminal bus?"

"Ada. Terminal sederhana Saptco".

"Di situ saja," jawab saya.

Sopir menggelengkan kepala. Pertanda mengiyakan, gaya India.

Satu jam kemudian saya WA si Karala. Saya khawatir ia kena denda atau kehilangan kerja.

Aman.

Ganti saya yang belum aman. Memang masih ada bus. Jurusan Yanbu. Tapi tidak pasti jam keberangkatannya. Kalau pun ke Yanbu saya khawatir hotelnya. Terutama soal 1.500 riyal itu. Maka saya putuskan langsung naik jurusan Jeddah saja. Itulah bus terakhir.

Akibatnya saya harus sepanjang malam di dalam bus. Ini berarti malam ketiga saya tidur sambil duduk. Sepanjang malam.

Malam pertama di kursi kelas ekonomi Lion Surabaya-Jeddah. Disambung kursi bus Jeddah-Madinah. Tiba langsung mencari subuh di Nabawi.

Sore itu langsung ke Tabuk. Di kursi bus lagi sampai lungset. Masih sambung ke Neom. Ini masih harus sepanjang malam lagi di dalam bus ke Jeddah. Masih harus sambung lagi ke Makkah.

Turun dari bus sudah menjelang subuh. Dijemput petugas Bakkah. Lalu cari masjid. Harus mampir toko beli sandal dan pakaian ihram. Saya harus melaksanakan miqat di sini.

Maka inilah perjalanan pulang dari Neom yang super hemat: karcis bus dari Duba ke Jeddah hanya 180 riyal. Daripada bermalam di Duba 1.500 riyal.

Penghematan lain terjadi di sektor konsumsi. Selama dua harmal itu saya hanya menghabiskan anggaran 40 riyal. Tidak pernah ke restoran. Hari pertama saya tidak makan siang. Hanya beli air satu botol, satu riyal. Yakni ketika di terminal bus Madinah. Lalu beli roti keju 5 riyal: untuk makan malam di bus. Kebetulan hanya ada satu kios di terminal ini: tidak banyak godaan.

Rupanya para penumpang di barisan sebelah saya melirik: saya tidak pernah makan apa pun. Seorang wanita, berburqah hitam, memberi saya jus limon satu botol. Anak gadisnya, yang juga berburqah hitam, memberi saya es lilin. Anak laki-lakinya yang masih kecil memberi saya permen satu kantong plastik. Satu wanita lagi memberi saya satu bungkus kue.

Saya harus pura-pura memakannya. Sedikit demi sedikit. Hanya agar terlihat makan. Padahal saya tidak ingin makan semua itu. Kandungan gula di dalamnya pasti tinggi.

Saya sudah lima tahun menghindari gula. Saya tidak punya penyakit gula darah, tapi saya harus tahu diri: sudah tua. Saya setuju dengan kata-kata entah dari siapa ini: kalau sudah tua hindari gula. Gula itu bukan makanan manusia. Gula itu makanan semut.

Dulu saya juga minta istri untuk jangan memberi bayi susu sapi. Berilah ASI. Masak anak kecil diberi susu sapi. Susu sapi itu untuk anak sapi.

Kini, setelah tua, saya minum susu tertentu. Tujuan utama saya untuk memberi semangat istri agar mau minum susu itu. Daripada operasi lutut lagi.

Saya harus memberi semangat istri karena istri juga sering memberi semangat saya. Seperti dua hari lalu di Makkah ini. Dia sampai dua kali mengambilkan tisu untuk mengusap air mata saya. Dia tidak bertanya mengapa air mata saya sampai berderai-derai. Dia sudah tahu: pasti sedang membaca komentar pembaca Disway yang kocak, jenaka, dan lucu-lucu.

Anda pun sudah tahu: di hari yang kocak itu sampai 60 komentar terpilih. Terbanyak dalam sejarah sejak Bani Abbasiyah.

Untunglah para wanita di deretan bus sebelah saya itu turun di terminal Tayma. Yakni pertengahan antara Madinah-Tabuk. Menjelang magrib. Saya lega. Tidak harus makan semua itu.

Di rest area Tayma itu saya beli air putih 1 botol. 1 riyal. Inilah pengeluaran terakhir hari itu. Total 7 riyal, satu hari. Ups tambah 20 riyal lagi beli colokan listrik yang cocok dengan sistem di Saudi.

Bangun pagi, saya minum air kran setengah liter. Saya rebus dengan alat perebus air di kamar. Air kran di Arab Saudi seperti di Amerika: bisa langsung diminum.

Lalu sambil jalan ke masjid Nabawi Tabuk, saya cari makan pagi. Ketemulah yang saya inginkan: sejenis roti canai yang dibakar di dalam gentong. Saya beli dua. Yang isinya keju. Satu untuk makan pagi. Satunya untuk makan siang. Habis 10 riyal. Lalu satu botol air putih: 1 riyal.

Saya ingin melihat pembuatan roti canai itu. Wow rotinya dibuat lebar sekali. Agak tembem. Selebar payung kecil. Untuk membawanya harus dilipat empat. Dimasukkan tas plastik. Saya bawa pulang ke hotel. Udara pagi Tabuk sangat dingin di bulan seperti ini. Roti itu begitu panas.

"Saya harus beli buah. Sudah dua hari tidak makan buah dan sayur," kata saya dalam hati. Maka saya mampir toko kelontong: beli mentimun kecil-kecil satu pak. Isi 10 buah: 5 riyal.

Sampai di Neom saya beli kopi agar punya alasan duduk di rest area itu: 10 riyal. Di situlah saya makan siang. Stok roti canai saya masih 1,75 lembar. Makan tadi pagi ternyata hanya sanggup menghabiskan seperempat lembar.

Maka, malam harinya, saya makan itu lagi. Pun masih punya satu lembar lagi. Masih utuh. Saya masukkan kresek plastik. Saya ikat erat-erat. Agar tetap tembem.

Ternyata besok paginya, di Jeddah, saya masih makan itu lagi. Bahkan siang harinya, di Makkah. Pun saya makan siang dengan sisanya. Di perjalanan panjang itu saya beli air putih 4 kali: 4 riyal. Maka dalam dua hari itu saya menghabiskan anggaran makan minum 25 riyal. Kalau ditambah kopi menjadi 35 riyal.

Saya pun heran. Dengan gaya makan seperti itu kok pipi ini tembem.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya