Berita

Arief Gunawan/Ist

Publika

Pemimpin Boneka, Dulu Bandarnya Heeren Zeventien, Sekarang Oligarki

SELASA, 12 JULI 2022 | 20:31 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

MATA rantai pemimpin boneka mau disambung lagi oleh MK melalui presidential treshold 20 persen, padahal sejak ratusan tahun negeri ini pernah punya pengalaman menyakitkan dipimpin para penguasa boneka.

Para gubernur jenderal kolonial Belanda yang pernah berkuasa di negeri ini adalah pemimpin boneka, yang dikendalikan oleh para bandar yang disebut Heeren Zeventien (Heeren XVII) atau Dewan Tujuh Belas.

Heeren Zeventien adalah para bandar yang berasal dari 17 provinsi di Belanda.


Mereka adalah para pemilik modal yang mengongkosi pembuatan kapal, rekrutmen tenaga kerja, pelayaran, logistik, dan operasional lainnya, yang dijalankan oleh VOC di Nusantara.

Heeren Zeventien sebagai pemilik modal mengambil keuntungan yang sangat besar dari kekayaan alam Nusantara yang dirampok oleh VOC, yang kemudian bekerjasama dengan elit bumiputera, seperti para sultan dan raja-raja yang berkhianat.

Gubernur jenderal dipilih oleh Heeren Zeventien, dan dipastikan figur yang dipilih dapat diandalkan memainkan peran sebagai boneka.

Sejarawan Bernard H.M Vlekke di dalam bukunya “Nusantara: Sejarah Indonesia”, mencatat, negeri ini dikuasai VOC dengan 38 gubernur jenderal, sejak tahun 1609 sampai 1816.

Setelah VOC bangkrut karena kalah teknologi pelayaran dengan perusahaan dagang Inggris, EIC, dan adanya Traktat London 1814, serta korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh para pejabatnya sendiri, Nusantara berada di bawah rezim Hindia Belanda, sejak 1816 hingga 1946, dengan 28 gubernur jenderal.

Dari dua rezim ini total keseluruhan gubernur jenderal yang pernah berkuasa di tanah air adalah 66 gubernur jenderal.

Jadi, selama 337 tahun, sejak 1609-1946, negeri ini pernah dipimpin oleh penguasa boneka yang mewakili kepentingan penjajah.

Jika di masa lampau pemimpin boneka diongkosi dan dipilih oleh para bandar yang disebut Heeren Zeventien, hari ini pemimpin boneka diongkosi dan dipilih oleh oligarki, atau kadang disebut pula Sembilan Naga, yang juga para bandar.

Rata-rata gubernur jenderal memerintah tiga sampai lima tahun. Jan Pieterszoon Coen berkuasa dua periode (1618-1629). Reputasinya jelek, mimpin genosida di Pulau Banda, 1617,  untuk memonopoli perdagangan pala.

Hanya sedikit dari para gubernur jenderal itu yang berasal dari golongan intelek. Umumnya memulai karir sebagai juru tulis dan opperkoopman (pedagang), yang  selain bekerja untuk kepentingan VOC juga untuk keuntungan diri sendiri.

Belanda bisa menjajah ratusan tahun terutama bukan dengan cara-cara militer, tetapi melalui konsesi atau perjanjian-perjanjian dengan elite penguasa pribumi, seperti raja-raja atau sultan, yang mengacuhkan etika dan menyediakan diri jadi boneka.

Inilah pula yang terjadi sekarang, bandar-bandar mengikat lembaga-lembaga resmi negara, mengatur untuk menyelewengkan konstitusi, demi terus memelihara penguasa boneka.

Para elit kekuasaan hari ini sulit beranjak dari keburukan-keburukan sejarah bangsa di masa lalu. Itulah sebabnya kolonialisme bukan saja aktual saat ini, tetapi juga semakin nyata dipraktekkan.

Penulis adalah pemerhati sejarah

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya