Berita

Dahlan Iskan bersama Datuk Low Tuck Kwong Pemilik Bayan Resource Group/st

Dahlan Iskan

Durian Low

SENIN, 06 JUNI 2022 | 05:18 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INI dia, orang yang kekayaannya, hanya dalam dua tahun terakhir, naik sekitar Rp 30 triliun. Uang beneran. Resmi. Bayar pajak semestinya. Bukan hasil sembunyi-sembunyi.

Dan ia orang Indonesia. Hatinya baik, kerja keras, dermawan, memperhatikan lingkungan dan penampilannya sederhana.

Krisis selalu menghasilkan orang kaya baru meski juga membuat banyak orang menderita.


Krisis energi dunia, dua tahun terakhir, berkah besar baginya: Datuk Low Tuck Kwong. Ia pemilik Bayan Resource Group. Salah satu usaha tambang batu bara terbesar di Indonesia meski baru separo ukuran Adaronya Boy Thohir dan KPC-nya Aburizal Bakrie.

Bayan Resource sudah lama masuk Bursa Efek Indonesia: 2008. Ia perusahaan publik. Angka-angka kinerjanya bisa dibaca oleh umum. Termasuk keuangannya. Kode pasar modalnya: BYAN.

Belakangan ini harga saham BYAN melejit cepat seperti roket. Menjadi 54.000/lembar, saat saya menulis artikel ini.

Bandingkan dengan dua tahun lalu yang masih Rp 14.000/lembar. Pun lima bulan lalu. Saat memasuki tahun baru. Harga saham BYAN masih Rp 27.000/lembar. Berarti dalam lima bulan terakhir naik dua kali lipat.

Maka bila Anda membeli saham BYAN lima bulan lalu, hasilnya lebih besar dari usaha apa pun di Indonesia. Termasuk dibanding dengan bila Anda menempatkan uang di pinjol sekalipun. Yang tidak masuk akal itu. Yang membuat ribuan orang kehilangan investasinya itu.

Beda keduanya memang hanya dikit, beda satu huruf. Di BYAN uang Anda berlipat. Di pinjol uang Anda terlipat.

Saya tidak ahli saham. Juga tidak punya saham di mana pun di perusahaan publik. Tidak pula pernah tertarik pada pinjol. Saya orang kuno. Investasi selalu di dunia nyata.

"Bodoh sekali," ujar teman saya yang cepat kaya. Saya memang sudah tua. Sudah ketinggalan zaman.

Mungkin juga karena saya pernah punya pengalaman pahit: habis uang di pasar modal. Duluuuuu. Sudah lama sekali. Saya sudah lupa tahunnya. Di bidang investasi ternyata saya tergolong orang yang sulit move on.

Bayan Group kini memiliki 12 tambang. Di Kutai Kartanegara saja. Belum di Kutai Timur. Belum juga yang di Kalsel.

Itu tidak sepenuhnya seperti durian runtuh. Sebagian berkat kesabaran Datuk Low sendiri. Yang tetap bertahan di bisnis itu di saat harga batu bara sangat rendah. Selama lebih 10 tahun.

Di saat sulit itu begitu banyak pengusaha yang menjual tambang. Tidak kuat lagi di harga yang begitu rendah. Begitu lama. Pun Datuk Low. Sudah sangat sulit saat itu. Nyaris ambruk.

Tapi ia tahan.

Sampai akhirnya menemukan durian runtuh dua tahun lalu.

Produksinya pun bisa terus dinaikkan. Seperti hendak mengejar Adaro dan KPC.

Tahun lalu produksi batu baranya 32 juta ton. Naik terus. Dan masih akan naik terus. Tahun ini menjadi hampir 40 juta ton. Lima tahun lagi ditargetkan 60 juta ton setara dengan Adaro atau KPC saat ini.

Apakah itu berarti harga saham BYAN akan terus naik? Saya tidak tahu. Bertanyalah ke Akagami Shanks. Yang rajin bikin komentar di Disway soal saham. Yang kurang berani tembak langsung pada GoTo, setidaknya dibanding Agustinus yang tulisannya tentang GoTo beredar sangat luas itu.

Faktor terpenting masa depan saham BYAN tentu tetap di harga. Apakah tetap selangit seperti sekarang.

Memang ajaib bin anomali. Green energi dikobarkan di seantero dunia. Batu bara dimusuhi habis-habisan: "energi kotor, bikin polusi, membuat ozon bocor". Tapi yang memakai terus bertambah. Harga batu bara pun belum pernah sampai setinggi aras seperti sekarang.

Akibat perang di Ukraina? Pun sejak sebelum Vladimir Putih menyerang tetangganya itu. Harga batu bara sudah naik. Lalu menjadi-jadi sampai ketika perang itu berlarut-larut.

Belum terlihat solusi cepatnya seperti apa. Perang di Ukraina pun memasuki hari ke 100, kemarin dulu. Masih lama kelihatannya.

Hubungan buruk Tiongkok-Australia juga belum terlihat cahaya terang sedikit pun. Mendung justru kian tebal ketika Tiongkok semakin menguasai diplomasi di negara-negara Pasifik Selatan –terakhir, pekan lalu, Solomon. Australia –yang berarti Amerika– kini kalah total di Pasifik Selatan –yang secara tradisional menjadi sahabatnya.

Australia begitu geram pada Tiongkok. Tiongkok membalasnya: tidak mau lagi membeli batu bara Australia yang begitu istimewa. Sudah lebih setahun perang dingin itu. Belum juga terlihat fajarnya.

Atau menunggu langkah Presiden Joe Biden saja. Yang terpaksa akan bertemu Putra Mahkota Saudi Arabia, MbS –Mohamad BIN Salman. Dalam waktu dekat. Agar Saudi mau meningkatkan produksi minyak dan gasnya.

Perbuatan yang paling "hina" itu pun akan dilakukan Biden –bertemu MbS yang tahun lalu ia kenakan sanksi. Biden menganggap MbS sebagai dalang pembunuhan wartawan opini Washington Post Gamal Kashogi. Di Istanbul, Turki, dua tahun lalu.

Atau tiba-tiba Putin mencium laki Presiden Ukraina Zelenskyy. Demi harga energi, termasuk batu bara. Itu juga tidak mungkin.

Green energi ternyata belum bisa berbuat banyak. Sangat memprihatinkan.

Tapi itu menyenangkan Adaro, KPC dan BYAN. Terutama pemegang saham mereka. Juga pemerintah Indonesia yang ikut mendapat durian runtuh dari situ.

Durian runtuh memang menyenangkan sayangnya sebagian justru menjatuhi kepala rakyat Indonesia yang lagi tidak beruntung.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya