Berita

Foto Disway

Dahlan Iskan

Pikachu Demokrasi

SELASA, 24 MEI 2022 | 05:29 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BEGITU sering saya membaca berita serius ini: perusahaan asing di Hong Kong pindah ke Singapura. Pun di masa pandemi kemarin.

Alasannya: tidak ada demokrasi lagi di Hong Kong. Tentu ada alasan lain: sentimen ke Tiongkok. Bukankah di Singapura juga tidak ada demokrasi?
Sentimen itu bertambah-tambah menjelang Pemilu di Hong Kong. Tanggal 8 Mei lalu. Masih bertambah juga setelahnya.

Yang terpilih di Pemilu barusan adalah John Lee. Musuh Amerika. Ia termasuk orang pertama yang dijatuhi sanksi Amerika. Di samping 9 pemimpin Tiongkok/Hong Kong lainnya.

Yang terpilih di Pemilu barusan adalah John Lee. Musuh Amerika. Ia termasuk orang pertama yang dijatuhi sanksi Amerika. Di samping 9 pemimpin Tiongkok/Hong Kong lainnya.

Tapi John Lee aman.

Kredit rumahnya sudah lunas. Sejak beberapa tahun lalu. Tidak ada lagi urusan dengan bank.

Latar belakang John Lee membuat aktivis demokrasi di Hong Kong kecewa. John Lee adalah polisi tulen. Ia sudah masuk kepolisian di umur 20 tahun. Itu karir pertamanya. Selamanya.

Baru tahun lalu John Lee diangkat menjadi sekretaris negara Hong Kong. Oleh pemimpin Hong Kong yang Anda sudah kenal: Carrie Lam. Tentu, setelah ada lampu hijau dari Beijing.

Lampu hijau untuk John Lee itu sebenarnya sekalian menjadi lampu merah untuk Carrie Lam. Dan wanita ini tahu diri. Dia tidak ngotot maju lagi memperpanjang periode kepemimpinannyi.

Carrie Lam sial banget. Dua tahun masa kepemimpinannyi disibukkan oleh demo pro-demokrasi. Kian hari kian besar. Jadi arus utama di Hong Kong. Lalu berdarah-darah.

Demo itu akhirnya reda. Dengan sendirinya. Tapi yang meredakannya adalah bencana: Covid-19.

Maka dua tahun BERIKUTNYA Carrie Lam hanya sibuk dengan Covid.

Sebenarnya Carrie Lam sangat pro-Beijing. Maka banyak yang mengira dia bakal maju lagi. Namun begitu jadwal Pemilu sudah mepet tiba-tiba dia menyatakan ini: tidak mencalonkan diri. "Saya akan fokus ke keluarga," katanyi.

Empat tahun Carrie Lam –ibu dua anak yang kini berumur 65 tahun– dilanda kemelut politik dan Covid.

Media pun kaget. Lalu berspekulasi: siapa the next-nya.

Barulah orang menghubung-hubungkan: mengapa John Lee diangkat menjadi sekretaris kabinet. Tahun lalu. Rupanya ia dimagangkan di pemerintahan. Ia disiapkan sebagai the next.

Beijing pun akhirnya memperjelas semuanya: pemerintah pusat merestui John Lee. Dan hanya John Lee. Maka sampai penutupan pendaftaran hanya satu nama itu yang jadi calon.

John Lee pun memenangi Pemilu dengan persentase tertinggi dalam sejarah Hongkong: 98 persen. Tidak ada kotak kosong sebagai pesaingnya.
Di Pemilu lalu, 2017, Beijing masih merestui dua calon: Carrie Lam dan John Tsang.

Seru.

Carrie Lam yang menang: 66,8 persen.

Bulan madu kekuasaan Carrie Lam tidak lama. Kalah dengan kemunculan berita kriminal yang sangat menarik yang Anda sudah tahu: wanita muda Hong Kong, 20 tahun, hamil. Namanyi Poon Hiu-wing.

Poon diajak pacarnya yang satu tahun lebih muda ke Taiwan. Liburan Imlek. Sang pacar,Tony Chan Tong-kai, membunuhnyi. Di sebuah hotel di Taipei. Tony juga mengambil barang dan uangnyi. Termasuk yang masih di bank –ia tahu password kartu bank sang pacar.

Heboh.

Mayat wanita hamil itu ditemukan di parit di Taipei. Langsung diketahui juga siapa pembunuhnya. Si Pembunuh sudah kembali ke Hong Kong. Tidak bisa mengelak. Ia menyerahkan diri ke polisi. Ia mengakui sebagai pembunuhnyi. Juga menceritakan bagaimana cara melakukannya.

Tapi Tony tidak bisa diajukan ke pengadilan. Perbuatan itu dilakukan di Taipei –harus diadili di sana. Tony tidak bisa dikirim ke sana. Tidak ada perjanjian ekstradisi antara Hong Kong dan Taiwan.

Carrie Lam sangat prihatin. Ada kejahatan yang begitu nyata tapi penjahatnya tidak bisa dihukum.

Tidak lama kemudian Carrie Lam mengajukan RUU baru ke DPR Hong Kong. Agar warga Hong Kong seperti Tony bisa dikirim ke negara di mana mereka melakukan kejahatan.

Ribut.

RUU itu ditolak oleh aktivis pro-demokrasi.

Alasan mereka: itu akal-akalan. Mumpung ada kasus yang menarik simpati masyarakat luas. Ujung-ujungnya, kata mereka, UU baru itu nanti akan dipakai untuk memberangus aktivis demokrasi. Aktivis akan dituduh berbuat kriminal, lalu dikirim ke Tiongkok. Untuk diadili di sana.

Demo menolak RUU itu meledak. Kian hari kian besar. Sampai menduduki gedung parlemen. Juga kian rusuh. Hong Kong ibarat tiada hari tanpa demo.

John Lee adalah komandan polisi. Saat itu. Demonstran berhadapan langsung dengan polisi. Bentrok demonstran-polisi terjadi di mana-mana. Di setiap waktu. Polisi menjelma menjadi musuh utama demonstran.

Dan sebaliknya.

Demonstran pun kian keras. Polisi juga tidak berubah sikap. Nyawa mulai terbilang.

Covid-19 datang.

John Lee adalah salah satu tokoh di balik pengajuan RUU ekstradisi itu.

Penyelesaian akhir masalah demo itu seperti bumi hangus: yang anti RUU dilindas. RUU itu sendiri dibekukan.

Tidak ada yang dimenangkan. Dua-duanya kalah. Lalu keduanya kalah lagi oleh Covid-19.

Sampai akhirnya John Lee sebagai pemenang. Menang dari Carrie Lam –dalam memperoleh restu Beijing. Lalu terpilih sebagai pemimpin Hong Kong dengan suara mutlak.

Di Hong Kong pemilihannya tidak langsung. Rakyat ''hanya'' diwakili oleh Komite Pemilu. Anggota Komite itu 1.500 orang. Mereka terdiri dari anggota parlemen, wakil pemerintah pusat dan yang terbanyak adalah utusan golongan masyarakat.

Ada puluhan golongan di Hong Kong. Semua harus terwakili dalam komite. Misalnya ada golongan akuntan, golongan pengacara, golongan industri, golongan keuangan dan perbankan, golongan asuransi, guru, dokter, perawat, rumah makan, buruh, dan banyak lagi.

Masing-masing golongan memilih sendiri siapa wakil mereka untuk duduk di komite.

Hong Kong tidak mau Pemilu langsung. Sejak dulu. Kelemahan Pemilu langsung adalah: bobot suara seorang pengangguran sama dengan bobot seorang direktur utama bank.

Suara yang tidak lulus SD sama dengan seorang profesor doktor.

Dengan menang 98 persen berarti John Lee, diterima oleh semua golongan pemilih. Mereka memang ingin Hong Kong stabil. Terutama setelah dua tahun full demo dan dua tahun full virus.

Sebagai pusat keuangan dunia Hongkong harus tenang. Ekonomi tidak akan tumbuh kalau politik dan keamanan tidak stabil.

John Lee tahu itu.

John Lee juga punya prinsip begitu.

Maka meski baru akan menduduki jabatan barunya 1 Juli depan ia sudah ancang-ancang. Ia angkat tokoh-tokoh utama bisnis Hong Kong jadi penasihatnya: Li Kashing. Ia orang terkaya di Hongkong. Rasanya ini hanya simbolis. Li sudah sangat tua: 93 tahun. Dan kurang sehat.

John Lee mengangkat juga Henry Tang. Mantan menteri keuangan Hong Kong berumur 69 tahun. Pernah juga menjadisekretaris negara seperti dirinya.

Ini, rupanya, untuk meningkatkan citra bahwa di tangan John Lee, Hong Kong akan tetap berorientasi sebagai pusat keuangan dunia.

Penasihat lainnya, Anda sudah tahu: Jackie Chan. Justru saya yang kurang tahu siapa ia. Di bidang keuangan.

Sedang di mata aktivis demokrasi, John Lee tidak lebih dari Pikachu.

Ia digambarkan sebagai boneka kucing dalam serial kartun Pokemon. Artinya: John Lee tidak lebih dari boneka lucu-lucuan Tiongkok.

Ketika Inggris mengembalikan Hong Kong ke Tiongkok John Lee memang langsung memutuskan: berhenti sebagai warga negara Inggris. Ia pindah ke warga negara Hong Kong.

Hanya saja istrinya –Janet Lam, yang ia kawini setelah punya satu anak– tetap menjadi warga negara Inggris. Demikian juga dua anak mereka. Dengan demikian John Lee, 64 tahun, masih punya hak menjadi warga negara Inggris lagi. Kapan saja.

Sungguh menarik mengamati Hong Kong ke depan. Di tangan John Lee. Terutama dalam mengatasi persaingannya dengan Singapura –sebagai pusat keuangan Asia. Dan dunia.

Lebih menarik lagi bagaimana John Lee akan menjadi bapak dari rakyat Hong Kong yang jiwa demokrasi mereka sudah tertanam dalam.


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya