Berita

Ketum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar dan Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf/RMOL

Dahlan Iskan

PKB Daun Salam

KAMIS, 19 MEI 2022 | 04:13 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TERBIT lagi kaus oblong seri kedua: "NU Kultural Wajib Ber-PKB, NU Struktural Sakkarepmu."

Yang memproduksi sama: Kiai ''kaos oblong'' Imam Jazuli. Ia kiai besar dari Cirebon. Pengasuh pondok pesantren Bina Insan Mulia (Bima) yang terkenal itu. Yang kalau menerima tamu hampir selalu pakai kaus oblong putih. Digandengkan dengan bawahan sarung.

Kiai Jazuli tentu NU. Ia lulusan pesantren ''bintang sembilan'' Lirboyo Kediri. Ia meraih gelar doktor di Al-Azhar, Kairo, Mesir. Waktu kuliah di sana Kiai Jazuli mendirikan PDI-Perjuangan. Cabang Mesir. Ia jadi ketuanya.


Kini Kiai Jazuli menjadi tokoh utama untuk membesarkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Logikanya: warga NU itu berjumlah 90 juta. "Masak partai NU kalah besar dari PKS. Malu-maluin NU saja," begitu ia sering mengatakan.

Kaus edisi kedua ini lebih menohok. Ada unsur menyerang tapi juga penuh kepasrahan. Terutama tetap khas NU: santai dan humoris. Di oblong edisi pertama hanya ditulis "Warga NU Wajib Ber-PKB". Di edisi kedua, ''warga NU'' itu ia bagi dua: NU yang kultural dan NU yang struktural.

Oblong kali ini lebih merangkul ke NU yang kultural. Yang jumlahnya lebih besar. Yang disasar adalah NU struktural. Yang jumlahnya dinilai hanya 5 persen dari yang kultural.

Apakah intensitas Kiai Jazuli menjadi ''panglima perang'' PKB ini tidak akan merugikan reputasi pesantren yang ia pimpin?
"Saya ikhlas. Saya tidak takut. Terserah pada Allah. Saya terima segala risikonya," ujarnya.

Saya meneleponnya dua hari lalu. Semula ingin minta kaus itu. Tapi kok minta-minta. Kan bisa mencetak sendiri. Toh tidak akan digugat melanggar hak paten.

"Insya Allah tidak sampai  berpengaruh ke pesantren saya," ujar Kiai Jazuli. "Yang penting PKB harus kuat. Harus bisa menjadi partai tiga terbesar," ujarnya. "Dengan demikian bisa mengusung calon presidennya sendiri. Bukan hanya melulu menunggu dilamar untuk jabatan wapres," tambahnya.

Pesantren Bima memang sudah besar. Bermutu tinggi. Orientasinya: lulusan Bima harus bisa diterima di universitas di luar negeri.

Tidak mudah bisa masuk pesantren Bima. "Sekarang sudah harus inden dua tahun," kata Kiai Jazuli. Berarti sejak masih kelas 1 SMP (akhir) sudah harus membayar untuk bisa mendaftar masuk SMA Bima.

Tahun lalu sebanyak 86 lulusan Bima diterima di Al-Azhar. Dari tahun ke tahun jumlah itu terus meningkat. Kini, di pesantren itu, didirikan pula kelas VIP. Yang ruang kelasnya ber-AC, gotakan (kamar tidur)-nya juga ber-AC. Ada fasilitas kolam renang. Ada acara nonton bioskop bersama.
Kenapa begitu getol membesarkan PKB?

"Saya tidak mau kita yang mayoritas ini hanya jadi daun salam. Setelah disesap rasanya, dibuang daunnya," katanya.

"Jadi, siapa pun yang berusaha menggembosi PKB harus dilawan," tegasnya. "Pada dasarnya mereka itu ingin merusak kekuatan politik NU," tambahnya.

Bunyi kalimat di kaus itu adalah salah satu bentuk perlawanan itu. Bunyi lengkapnya: Warga NU kultural wajib ber PKB. Warga NU Struktural Sakkarepmu.

Kata ''Sakkarepmu'' berarti ''suka-suka kamu''. Bisa juga berarti ''tidak saya pedulikan''. Atau juga ''toh sikapmu itu tidak akan didengar''.

Yang dimaksud semua itu adalah: NU struktural. Maksudnya: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Yang punya ketua umum baru: KH Yahya C. Staquf. Yang punya kebijakan baru: pengurus NU tidak boleh merangkap di PKB.

Tafsirnya: NU harus netral terhadap semua partai. Tidak ada ikatan lagi dengan PKB.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas adalah adik sang ketua umum. Sang adik adalah juga Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor. Yakni sayap pemuda yang sangat penting di NU selain Muslimat (sayap perempuan di NU).

Sang adik juga punya kebijakan: Ansor/Banser harus mendukung Erick Thohir sebagai capres mendatang. Erick sudah dilantik menjadi anggota Ansor. Bahkan sudah lulus menjalani ujian fisik sebagai anggota Banser.

"Ansor dan Banser harus tegak lurus. Apa kata pusat harus diterima sama sampai di daerah-daerah dan di semua anggota," tegasnya di acara ulang tahun Ansor bulan lalu.

Kata ''Sakkarepmu'' itu ternyata ada asbabun nuzul-nya. Di masa-masa nan lalu sikap PBNU memang dinilai tidak tercermin di hasil Pemilu. Ketika PBNU bersikap mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, NU kultural memenangkan Jokowi. Di Pemilu berikutnya sikap PBNU dan NU kultural sama: Jokowi menang luar biasa besar.

Boleh dikata, Kiai Jazuli berpendapat PKB jangan memusingkan sikap PBNU. Yang penting bisa merangkul NU kultural.
Apakah Kiai Jazuli akan jadi pengurus atau calon anggota DPR dari PKB?

"Sama sekali tidak. Saya tidak mungkin cawe-cawe di politik, apalagi jadi caleg," jawabnya. "Saya akan istikamah fokus ngurus pesantren. Impian saya hanya satu: cetak kader/politikus hebat sebanyak mungkin," tambahnya.

Pesantren Bina Insan Mulia memang unik. Terutama kurikulumnya. Di tiap semester hanya mengajarkan  tiga mata pelajaran. Membaca Quran, matematika, dan fisika.

Lalu menghafal Quran, matematika, fisika. Bahasa Arab (gaya Al-Azhar), matematika, fisika. Bahasa Inggris, matematika, fisika. Lalu ada semester khusus menghadapi ujian nasional. Satu semester lagi khusus menyiapkan diri masuk perguruan tinggi di luar negeri.

"Saya bagian menyiapkan kader bangsa saja. Lewat Bina Insan Mulia ini," katanya. "Saya akan dorong santri NU di mana saja untuk jadi caleg.  Bagi yang sangat potensial, justru akan saya bantu sampai finansialnya," ujar Kiai Jazuli.

Kiai Jazuli sudah melakukan itu di Pemilu yang lalu. "Akan lebih serius di Pemilu yang akan datang," katanya.

Kiai Jazuli tidak suka warga NU hanya jadi pendorong mobil mogok. Di setiap pemilu.

Dan kini kiai Jazuli sendiri yang tidak ingin partai warga NU ini menjadi mobil mogok.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya