Berita

Mahasiswa orasi di depan Gedung DPR RI/RMOL

Publika

Belajar dari Sejarah: Aksi Damai Mahasiswa dan Penyelamatan Bangsa

SENIN, 25 APRIL 2022 | 11:39 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

MAHASISWA Indonesia dulu dikriminalisasi dengan sebutan Al Capone bende (gangster Al Capone).

Aktivitas mereka di Belanda tahun 1930-an dikekang oleh spreek-delict (pasal pelanggaran bicara) dan diganggu oleh boodschapper (orang suruhan).

Namun gerakan anti penjajahan yang dipelopori oleh para mahasiswa dari negeri-negeri terjajah kala itu meluas jadi gerakan internasional.


Pada Februari 1927 Hatta bersama beberapa tokoh mewakili mahasiswa Indonesia membentuk Liga Anti Imperialisme dan Penindasan Nasional, di Brussel, Belgia, yang terdiri dari 37 negeri terjajah.

Aksi perjuangan kemerdekaan mahasiswa Indonesia di Belanda seperti halnya aksi-aksi mahasiswa saat ini bersifat non-violence, mengedepankan gerakan moral.

Itulah sebabnya gerakan para mahasiswa Indonesia di Belanda pada masa itu mendapatkan simpati dari kaum buruh (arbeidsgroep), kelompok etis, dan masyarakat antipenjajahan.

Hal yang sama juga dialami oleh gerakan aksi-aksi mahasiswa saat ini yang masif berlangsung di Jakarta dan daerah-daerah.

Simpati untuk mereka datang dari kalangan masyarakat biasa dan emak-emak yang secara spontan memberikan bantuan makanan dan minuman, bahkan di beberapa tempat para emak-emak memberikan perlindungan kepada mahasiswa dari kejaran oknum aparat yang brutal.

“Ini menunjukkan mahasiswa sudah berhasil merebut hati dan dukungan masyarakat,” tandas tokoh nasional Dr Rizal Ramli, seperti dikutip sebuah media online belum lama ini.  

Dr Rizal Ramli yang merupakan salah satu pimpinan pergerakan mahasiswa 1978 mengapresiasi aksi-aksi mahasiswa yang berlangsung tertib dan damai, meski aksi non-violence ini sempat tercoreng oleh oknum aparat.

Namun beruntung saat aksi 21 April lalu mahasiswa mampu mengendalikan simpul-simpul aksi, sehingga tidak disusupi oleh perekayasa kerusuhan.

Non-violence telah menjadi ciri universal gerakan murni mahasiswa. Bahkan gerakan mahasiswa Budi Utomo, 1908, mengedepankan gerakan moral.

Mereka misalnya concern kepada penyakit sosial di masyarakat kala itu, yang disebut Mo Limo: madat, madon, main, minum, maling.

Kelompok pertama yang merespon usaha Wahidin Sudirohusodo dalam menggalang studie fonds juga mahasiswa, setelah kelas menengah bumiputera kala itu, yang umumnya priyayi, memilih bersikap pasif dan cenderung sinis, karena status quo.

Gerakan aksi mahasiswa 1966 menampilkan pula misi non-violence, dengan tema Tritura: Turunkan Harga-Harga, Retooling Kabinet, dan Bubarkan PKI.

Tritura kala itu jadi bagian dari Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Sukarno yang tiada lagi mampu mengatasi tekanan, ditambah pula  para menteri yang tak becus menangani persoalan akhirnya tersudut.

Di tengah situasi ini, tindakan represif oknum aparat keamanan tiada dapat dihindari. Pada 24 Februari 1966 meletuslah senjata Cakrabirawa, pasukan elit pengawal Sukarno, menewaskan seorang demonstran, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Arief Rahman Hakim.  

Aksi damai mahasiswa yang berbalas kekerasan ini akhirnya  mempercepat kejatuhan Sukarno yang berujung tragis dan memilukan.

Siapakah gerangan Arief Rahman Hakim?

Ia adalah salah satu representasi sosok para mahasiswa yang menjadi korban ketidakadilan pemerintah. Seperti halnya para mahasiswa yang belakangan ini masif turun ke jalan, di Jakarta maupun daerah-daerah, yang menginginkan masa depan Indonesia lebih baik.

Mahasiswa hari ini juga bergerak dalam konteks kesadaran moral, karena sebagai pemilik sah masa depan negeri ini mereka menghadapi persoalan ril berkaitan dengan masa depan mereka sendiri dan masa depan bangsa.

Ikatan batin berupa rasa sepenanggungan terhadap nasib bangsa telah menggerakkan mereka untuk turun ke jalan, setelah dua tahun aspirasi mereka terbungkam karena situasi pandemi Covid-19.

Moralitas yang seharusnya menjadi salah satu pilar kekuasaan, selain politik dan hukum, kini telah goyah. Karena itu mahasiswa terpanggil untuk menjalankan mission sacre yang seharusnya tidak boleh dinodai.

Dalam sejarah kemerdekaan mahasiswa  termasuk pula di dalam golongan apostel dan debutan (pencerah & yang memulai tampil) dalam menggerakkan gagasan kemerdekaan, yang kemudian mendorong kesadaran rakyat betapa belenggu penjajahan telah menyuburkan berbagai penindasan.

Dalam terminologi Bung Hatta mahasiswa adalah akal dan nurani rakyat.  Kini akal dan nurani mereka terusik. Mahasiswa telah menjadi bagian dari korban situasi, akibat ketidakadilan tatakelola kehidupan bernegara yang dijalankan oleh pemerintah dan rusaknya perekonomian nasional yang mengundang kesengsaraan mayoritas rakyat.

Audaces Fortuna Iuvat, kata pepatah Latin, Kebenaran Menolong Mereka yang Berani...

Berani karena memperjuangkan kebenaran.

Kebenaran yang sekarang sirna oleh ketamakan kekuasaan yang kini tiba gilirannya berhadapan dengan kekuatan moral mahasiswa.

Penulis adalah wartawan senior dan sejarawan

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Penegakan Hukum Sengketa Perubahan Legalitas Soksi Tak Boleh Tebang Pilih

Senin, 18 Mei 2026 | 00:23

MUI Lega Sidang Isbat Iduladha Tak Munculkan Perbedaan

Senin, 18 Mei 2026 | 00:04

Rombongan Trump Buang Semua Barang China, Pengamat: Perang Intelijen Masuk Level Paranoia Strategis

Minggu, 17 Mei 2026 | 23:34

GEM Kembangkan Ekosistem Industri Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan

Minggu, 17 Mei 2026 | 23:13

Data Besar, Nasib Berceceran

Minggu, 17 Mei 2026 | 23:00

Bobotoh Penuhi Jalanan Kota Bandung, Otw Hattrick Juara!

Minggu, 17 Mei 2026 | 22:40

Relawan: Maksud Prabowo Soal Warga Desa Tak Pakai Dolar Baik

Minggu, 17 Mei 2026 | 22:12

Bagaimana Nasib Jakarta Setelah Putusan MK?

Minggu, 17 Mei 2026 | 21:44

Teguh Santosa: Indonesia Tidak Bisa Berharap pada Kebaikan Negara Lain

Minggu, 17 Mei 2026 | 21:00

BNI: Kemenangan Leo-Daniel Hadiah Istimewa untuk Rakyat Indonesia

Minggu, 17 Mei 2026 | 20:41

Selengkapnya