Berita

Kolase foto Presiden pertama RI, Ir Soekarno, ekonom senior DR. Rizal Ramli, dan pahlawan emansipasi wanita, RA. Kartini/Net

Publika

Rizal Ramli Bilang Indonesia Itu Satu: Jangan Biasa Menyalahkan Agama, Ketidakadilan Musuh Kemanusiaan

SENIN, 18 APRIL 2022 | 12:31 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SUATU hari di bulan Agustus 1902 Raden Ajeng Kartini yang sedang mendalami isi kandungan ayat-ayat Al Qur’an mengirim surat kepada EC Abendanon, sahabat korespondensinya di Belanda.

Putri Bupati Jepara yang hari kelahirannya selalu kita peringati setiap tanggal 21 April itu di dalam suratnya mengabarkan betapa cahaya Al Qur’an telah menerangi lubuk hatinya:

“Sekarang kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh di tangan-Nya. Maka hari gelap-gulita pun menjadi terang. Tolong-menolong dan tunjang-menunjang, serta cinta-mencintai, itulah nada dasar dari segala agama,” tulisnya.


Kalimat Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duiternis Tot Licht) yang kemudian menjadi judul buku kumpulan surat-menyurat Kartini dan Abendanon itu dalam kalimat Ilahiah ternyata padanannya adalah Minazh Zhulumati Ilan Nur, yang merupakan inti dakwah dalam Islam, yang artinya membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang, yaitu hidayah dan kebenaran.

Meski kerap digambarkan sebagai figur yang menganut faham sinkretisme Kartini ternyata adalah sosok religius yang mengedepankan kemanusiaan dan toleransi.

Pemikirannya pada masa itu dianggap melampaui zaman. Inspirasinya mengenai kesetaraan dan persaudaraan salah satunya bersumber dari bacaannya mengenai Revolusi Perancis, yang menghasilkan liberte, egalite, fraternite.

Namun ia memang manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Karena lingkungan feodal dan kolonial ia terpaksa menerima lamaran Bupati Rembang yang telah beristri tiga dan punya tujuh anak.

Kartini wafat dalam usia muda, 25 tahun, pada saat melahirkan.

Beasiswa yang didapatnya untuk sekolah di Belanda tak jadi dimanfaatkannya, dan dicobanya untuk dialihkan kepada seorang pemuda cerdas dari Sumatera, bernama Agus Salim, namun usahanya ini ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda.

Lebih jauh tentang kemanusiaan dan toleransi beragama, Kartini menulis:

“Agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Untuk membentuk tali kemanusiaan di antara makhluk Allah, berkulit putih dan cokelat, tidak pandang pangkat, perempuan atau lelaki ... ”

Aspek spiritual keagamaan RA Kartini sangat menarik. Buku-buku yang menyorotinya dari aspek ini antara lain berjudul Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, yang ditulis Ahmad Mansur Suryanegara. Salah satu bab-nya berjudul: Pengaruh Al Qur’an Terhadap Perjuangan Kartini.

Buku lainnya, Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini oleh Th Sumartana. Termasuk Panggil Aku Kartini Saja, yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

Esensi sikap Kartini yang mengedepankan aspek kemanusiaan dan toleransi ini telah
mendahului zamannya. Sukarno yang kemudian menggali Pancasila di Ende, Flores, pada 1933,  menempatkan pula pentingnya aspek kemanusiaan dan toleransi pada sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Di dalam adab itulah terdapat toleransi, yaitu sikap saling menghargai terhadap keberagaman, baik keberagaman agama, sosial, dan kebudayaan, yang disambung menjadi sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia.

Itulah sebabnya di dalam situasi bernegara yang kini sedang dilanda oleh carut marutnya penghargaan terhadap keberagaman, tokoh nasional Dr Rizal Ramli merasa perlu mengingatkan kembali betapa pentingnya aspek kemanusiaan agar dikedepankan oleh para penyelenggara negara.

Di dalam akun twitter-nya belum lama ini ia menulis:

“Ketidakadilan adalah musuh kemanusiaan. Jangan biasa menyalahkan agama, suku, dan warna kulit. Kita adalah satu, karena Indonesia adalah satu ... ”.

Penegasan tokoh nasional Dr Rizal Ramli ini penting untuk mengembalikan kesadaran kolektif kita bahwa negeri dan bangsa ini didirikan oleh para pejuang kemerdekaan sepenuh-penuhnya untuk tujuan yang mulia, yaitu menempatkan harkat manusia secara beradab, berkeadilan, dan sejahtera secara ekonomi, di dalam keberagaman yang ada.

Indonesia satu karena disatukan oleh Pancasila, dan cahaya persatuan inilah yang memang seharusnya menerangi perjalanan bangsa ini hari ini dan di masa depan.

Rizal Ramli meminta supaya para pemecah-belah bangsa menghentikan siasat adu domba. Sehingga di negara Pancasila ini tidak perlu ada lagi kampanye Islamphobia.

Menjelang 21 April ini patutlah kita kenang kembali cita-cita kemanusiaan RA Kartini yang luhur dan kontekstual dengan situasi hari ini, sambil kita kenangkan pula hari lahirnya dengan kedalaman makna, bahwa kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Penulis adalah pemerhati sejarah

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Penegakan Hukum Sengketa Perubahan Legalitas Soksi Tak Boleh Tebang Pilih

Senin, 18 Mei 2026 | 00:23

MUI Lega Sidang Isbat Iduladha Tak Munculkan Perbedaan

Senin, 18 Mei 2026 | 00:04

Rombongan Trump Buang Semua Barang China, Pengamat: Perang Intelijen Masuk Level Paranoia Strategis

Minggu, 17 Mei 2026 | 23:34

GEM Kembangkan Ekosistem Industri Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan

Minggu, 17 Mei 2026 | 23:13

Data Besar, Nasib Berceceran

Minggu, 17 Mei 2026 | 23:00

Bobotoh Penuhi Jalanan Kota Bandung, Otw Hattrick Juara!

Minggu, 17 Mei 2026 | 22:40

Relawan: Maksud Prabowo Soal Warga Desa Tak Pakai Dolar Baik

Minggu, 17 Mei 2026 | 22:12

Bagaimana Nasib Jakarta Setelah Putusan MK?

Minggu, 17 Mei 2026 | 21:44

Teguh Santosa: Indonesia Tidak Bisa Berharap pada Kebaikan Negara Lain

Minggu, 17 Mei 2026 | 21:00

BNI: Kemenangan Leo-Daniel Hadiah Istimewa untuk Rakyat Indonesia

Minggu, 17 Mei 2026 | 20:41

Selengkapnya