Berita

Ilustrasi/Ist

Dahlan Iskan

Tanpa Nuklir

JUMAT, 25 FEBRUARI 2022 | 04:58 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BAGI Rusia, besarnya biaya perang akan bisa tertutup oleh kenaikan harga minyak dan gas akibat perang itu sendiri.

Bagi Jerman, Prancis, Inggris, dan sekutu: biaya perang dari mana?

Mereka harus rapat dulu. NATO harus bersidang.


Amerika Serikat, di zaman Presiden Donald Trump pernah ngomel: biaya untuk NATO kurang dibebankan secara merata. Ia tidak mau biaya NATO terlalu dibebankan pada Amerika.

Di zaman Presiden Barack Obama, NATO tidak berbuat banyak: ketika Semenanjung Krimea diambil Rusia dari Ukraina.

Di zaman Presiden Biden, dua wilayah lain Ukraina menyatakan diri merdeka –didukung Rusia. Dua hari lalu.

Sampai tulisan dibuat tadi malam, NATO belum bersidang. Padahal bom sudah mulai jatuh di beberapa lokasi militer di Ukraina. Menjelang subuh kemarin. Termasuk di bagian tertentu ibu kota Kiev.

Mungkin itu karena Ukraina memang belum anggota organisasi pertahanan Atlantik Utara. Ukraina sudah terus mendesak: agar segera diterima sebagai anggota NATO. Tapi Rusia keberatan –dengan ancaman– kalau bekas wilayah strategisnya itu bergabung ke musuh lamanya.

Tanpa nuklir dan tanpa NATO Ukraina bukan siapa-siapa. Ia bukan negara yang mampu mempertahankan diri.

Teoretis Rusia bisa menyerangnya kapan saja –dengan alasan apa saja. Setelah pisah dari Soviet, Ukraina dinilai terlalu genit: mau bergantung ke Barat.

Ukraina sebenarnya punya kekuatan senjata nuklir nomor tiga terbesar di dunia. Bukan main. Yakni nuklir peninggalan Rusia (d/h Uni Soviet). Anda sudah tahu: sepertiga nuklir Soviet dibangun di wilayah Ukraina. Hanya sedikit yang dibangun di Belarusia dan Kazakhstan. Yang terbanyak tetap berada di Rusia.

Tapi nuklir yang di Ukraina itu tidak boleh lagi digunakan oleh yang berkuasa di sana. Password untuk menghidupkan nuklir itu pun tidak di tangan presiden Ukraina. Password itu dipegang organisasi negara-negara bekas Uni Soviet. Jangan-jangan password itu pun sudah hilang. Sudah 30 tahun berlalu. Atau jangan-jangan sudah dihilangkan.

Walhasil, sebagai negara dengan senjata nuklir terbesar ketiga di dunia, Ukraina tidak bisa apa-apa. Seorang pengamat militer di Amerika mengatakan: untuk bisa menghidupkan senjata nuklir itu Ukraina perlu persiapan selama 12 bulan.

Memang negara-negara Barat ikut menguncinya. Sejak sebelum Ukraina merdeka. Mereka setuju Ukraina merdeka dengan syarat itu: tidak boleh menjadi negara nuklir. Ukraina pun setuju. Lalu merdeka: dapat pengakuan dari Barat dan dunia.

Dengan kesepakatan itu Ukraina harus membongkarnya. Mungkin kini sudah pula banyak yang dibongkar. Yang belum pun Ukraina tidak bisa menggunakan.

Inilah faktor yang membuat konflik di Ukraina tidak akan menjadi perang dunia ketiga.

Sebenarnya Ukraina sudah mendapat jaminan: Perjanjian Budapest.

Amerika, Jerman, Inggris, dan Rusia sendiri yang memberikan jaminan itu: kalau Ukraina setuju mengunci nuklirnya, empat negara itu menjamin keamanannya. Belakangan jaminan itu ditambah lagi oleh Tiongkok.

Ukraina sudah berkali-kali menagih janji itu. Tapi Ukraina tidak punya debt collector yang menakutkan. Terbukti Semenanjung Krimea yang begitu strategis, diambil begitu saja oleh Rusia. Tanpa ada perlawanan.

Itu karena Rusia mengerahkan kapal-kapal perang yang di dalamnya ada senjata nuklirnya. Empat kapal jenis itu parkir di laut dekat Krimea.

Kini Ukraina mengingatkan lagi Perjanjian Budapest itu. Tapi yang ditagih masih saling lirik sana-sini. Apalagi yang menyerang sekarang ini adalah juga yang mengambil Krimea: salah satu yang bikin janji itu sendiri.

Presiden Ukraina sebenarnya sudah mencoba menggertak: kalau memang tidak ada jaminan keamanan, Ukraina akan menjadi negara nuklir. Tapi tidak ada yang menggubrisnya. Mereka sudah tahu: gerakan itu tidak akan bisa terlaksana dalam 15 tahun.

Sedang untuk mengubah senjata nuklir peninggalan lama sudah tidak mungkin. Semua hulu ledak senjata nuklir itu sudah di-setting untuk menyasar ke bagian-bagian tertentu di Amerika sana. Jarak tempuhnya pun sudah di-setting untuk 10.000 Km atau lebih.

Mau dialihkan untuk menghadap ke Moskow?

Bukalah Google map. Setting-lah seolah Anda akan bermobil dari Kiev ke Moskow: hanya 8 jam. Kurang lebih hanya sama dari Jakarta ke Malang. Saya pernah ingin berkendara di jalur itu. Setelah nonton final Piala Champions antara Liverpool dan Real Madrid di Kiev. Sudah janjian pula dengan Prof Effendi Gazali.

Rencana itu gagal. Anda sudah tahu mengapa. Lalu rencana ke Kiev lagi untuk stem cell. Juga gagal: di dalam negeri lebih hebat.

Kini saatnya ke sana: kalau ada teman, kalau ada visa, kalau ada bensin 1 juta. 



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya