Berita

Tokoh senior DR. Rizal Ramli/Net

Publika

Rizal Ramli Mendukung Cak Nur “Soeharto Wis Wareg ...”

JUMAT, 21 JANUARI 2022 | 09:41 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KESAKSIAN murid Nurcholish Madjid, Dr Herdi Sahrazad, tentang peran Rizal Ramli dalam gerakan mahasiswa ‘98 menumbangkan otoritarianisme Soeharto:

Suatu hari penguasa Orde Baru, Soeharto, bertanya kepada cendikiawan muslim Nucholish Madjid (Cak Nur) tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan reformasi.

"Reformasi itu apa sih, Cak Nur? ...” tanya Soeharto yang didampingi  Mensesneg Sa’adilah Mursjid.


Pertemuan pada 18 Mei 1998 itu berlangsung  di Jalan Cendana, seperti dikutip dari biografi Nurcholish Madjid, Api Islam, Jalan Hidup Seorang Visioner, karya Ahmad Gaus AF.

Cak Nur kala itu sudah mencermati eskalasi politik dan perekonomian nasional yang mulai memanas sejak medio Januari ‘98.

Kekalutan rakyat mulai menjalar nyaris di setiap jengkal tanah Jakarta dan berbagai daerah.

Kala itu setidaknya telah terjadi 850 aksi unjuk rasa mahasiswa sejak bulan Januari hingga Mei ‘98, dengan agenda terfokus menurunkan Soeharto. Mulai di kota Makassar, Solo, dan kemudian merembet ke kota-kota lain di tanah air

Dalam pertemuan dengan Cak Nur itu terungkap Soeharto berjanji akan mengundurkan diri dalam waktu dekat. Namun sebelum menanggalkan jabatan Soeharto ingin bertemu lebih dulu dengan tokoh-tokoh masyarakat.

Antara lain KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Ahmad Bagja, KH Ali Yafi’e, Anwar Harjono, Emha Ainun Nadjib, KH Ilyas Ruchiyat, KH Ma'ruf Amin, Malik Fadjar, dan Soetrisno Muhdam. Termasuk Cak Nur.

Yusril Ihza Mahendra, ahli hukum tata negara,  yang saat itu anak buah Sa’adilah Mursjid dan punya kedekatan dengan Soeharto juga menjelaskan bahwa Soeharto sebenarnya memang sudah siap mundur. Tapi, kata Yusril lagi, Soeharto cemas kekacauan bakal terjadi jika dirinya mengundurkan diri secara mendadak.

Karena itulah Soeharto ingin membentuk semacam tim transisi yang dinamakan Komite Reformasi yang bertugas mendampinginya dalam memulihkan kondisi sosial ekonomi yang kala itu sudah berantakan.

Namun para tokoh tersebut tidak setuju dengan ide Komite Reformasi. Karena itu terjadi tarik menarik pendapat yang cukup alot di antara mereka. Hingga kemudian, Cak Nur meminta kepada Soeharto agar tidak mengikutsertakan seluruh tokoh yang diundang itu menjadi anggota Komite Reformasi.

Menurut cerita, mendengar pernyataan Cak Nur ini Soeharto langsung merasa kaget.

Cak Nur kemudian menjelaskan bahwa kehadiran para tokoh itu sebenarnya dalam posisi dicurigai oleh masyarakat. Sebab para tokoh ini sebelumnya dikenal sangat kritis terhadap Soeharto. Kalau mereka setuju dan menerima untuk menjadi bagian dari Komite Reformasi, rakyat dipastikan akan mencap mereka sebagai penjilat kelas kakap atau antek-antek Cendana.

"Kalau nanti Pak Harto memasukkan kami di dalam komite atau kabinet yang di-reshuffle, kami jadi seperti rupiah, kurs kami jatuh," tegas Cak Nur.

Penolakan terhadap rencana Soeharto membentuk Komite Reformasi ini bukan hanya muncul dari para tokoh, tetapi juga dari kalangan mahasiswa.

Mahasiswa hanya ingin menunggu pernyataan pengunduran diri Soeharto, bukan pembentukan Komite Reformasi.

Dalam pandangan Cak Nur sejak empat mahasiswa Trisakti tewas ditembak aparat, 13 Mei 1998, perlawanan mahasiswa dan rakyat terhadap Soeharto
semakin memuncak. Tak membuat  gentar untuk terus turun ke jalan setiap hari.

Dalam sebuah tulisannya di koran nasional Cak Nur juga secara tegas meminta Soeharto turun dari tampuk kekuasaan. Cak Nur mendesak Soeharto dan keluarga mengembalikan harta kekayaan kepada negara. Hal ini diungkapkan Cak Nur dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Harus Berakhir dengan Baik".

Rizal Ramli yang secara intens membangun komunikasi dengan berbagai kalangan berkaitan dengan momentum menjelang kejatuhan Soeharto ini mengetahui persis dinamika yang terjadi, termasuk tentang sikap Cak Nur yang menekan Soeharto supaya segera lengser.

Rizal Ramli juga turun secara langsung di lapangan. Nalurinya sebagai tokoh pergerakan mahasiswa 1978 menggerakkan inisiatifnya untuk terlibat secara aktif.

“Waktu itu Soeharto ingin Komite Reformasi dibentuk. Draft-nya disusun oleh  Sa’adillah Mursjid,” kenang Rizal Ramli.

Namun seperti telah dikisahkan di atas keinginan Soeharto itu ditolak. Rizal Ramli teringat lagi pada ucapan Cak Nur yang sangat menekan perasaan Soeharto.

“Ucapan Nurcholish Madjid yang terkenal, dia bilang ‘Pak Harto wis wareg (sudah kenyang). Pak Harto marah mendengar itu, dan bilang ‘aku ndak patheken’ ndak jadi presiden,” kata Rizal Ramli.

Ndak patheken, maksudnya tidak akan mengidap sakit kulit. Ucapan ini meskipun disampaikan oleh Soeharto secara tenang namun mengandung kemarahan yang cukup tinggi, apalagi bagi seorang penghayat nilai-nilai Jawa seperti Soeharto perkataan seperti itu tentu membuatnya tersinggung.

Sebenarnya sewaktu Sidang Umum MPR Maret ‘98, Soeharto sudah berkeberatan untuk dipilih lagi jadi presiden. Namun karena dorongan orang-orang di sekelilingnya, Soeharto akhirnya menjabat untuk ketujuh kalinya. Hanya dalam waktu sekitar 3 bulan akhirnya ia jatuh dari kekuasaan karena rakyat dan para mahasiswa sudah tidak menginginkannya lagi berkuasa secara otoriter di negeri ini.

“Saya langsung meminta kepada teman-teman wartawan supaya ucapan Nurcholish Madjid itu, ‘Pak Harto wis wareg’ supaya dikutip. Ucapan itu kemudian menjadi headline di beberapa surat kabar,” kenang Rizal Ramli lagi.

Rizal Ramli sendiri bersama dengan Nurcholish Madjid memiliki pertalian idealisme dalam memperjuangkan dan menegakkan demokrasi serta keadilan untuk bangsa dan negeri ini.

Keduanya merupakan intelektual dan cendikiawan sejati yang mencurahkan ilmu serta pengetahuannya untuk kemajuan mayoritas rakyat negeri ini.

Penulis adalah wartawan senior

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya