Berita

Ekonom senior Rizal Ramli/Repro

Politik

RR: Ada Dua Hal Kalau Ingat Malari, Hariman Siregar dan Pemerintahan Otoriter

SABTU, 15 JANUARI 2022 | 16:59 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Malapetaka Lima belas Januari (Malari) 1974 menyimpan memori tersendiri bagi ekonom senior Rizal Ramli atau akrab disapa RR.

Bagi RR, jika mengingat peristiwa bersejarah penolakan modal asing itu tidak lepas dari sosok aktivis senior Hariman Siregar bersama rekan-rekannya yang memimpin demonstrasi kala itu.

Selain Hariman dkk, RR juga mengingat Malari 1974 bisa terjadi kerusuhan dan huru-hara tidak lepas dari peran Letjend (Purn) Ali Moertopo yang saat itu menjabat Deputi Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara.  


"Saya kalau inget Malari cuma inget dua hal. Pertama, Hariman dkk. Kedua, itu sengaja dibuat rusuh kok yang bakar-bakaran itu Ali Moertopo. Itulah ciri dari pemerintahan otoriter," kata RR saat memberikan sambutan pada acara "Peringatan 48 Tahun Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari)", Sabtu (15/1).  

Atas dasar itu, RR mengatakan, jika ada para mahasiswa yang menginginkan perubahan dengan damai dan baik-baik, biasanya sengaja dibuat kerusuhan supaya gerakan mahasiswa tersebut bisa disalahkan oleh rezim.

"Itulah kenapa waktu Saya dkk mimpin gerakan 78' kita enggak mau dekat-dekat sama elite sama sekali. Belajar takut apa yang terjadi dengan tahun 74-75 (Malari)," tuturnya.

Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini mencontohkan gerakan rakyat belakangan ini yang selalu disisir dengan operasi-operasi senyap. Padahal, rakyat hanya menginginkan perubahan secara baik dan damai.

"Setiap mau terjadi sesuatu selalu diupayakan supaya ada kerusuhan. Pada Pilpres (2019) kemarin, sengaja ada 300 preman yang tatto kiri-kanan, kalau Islam kan gak mungkin, mahasiswa kan tatto paling cuma 5 biji, dikerahkan ke depan KPU supaya rusuh supaya disalahkan oposisi," katanya.

"Jadi, teknik penguasa otoriter itu melakukan operasi intelejen agar supaya bikin rusuh, agar supaya teman-teman yang ingin perubahan dengan cara damai, baik, itu bisa disalahkan dan disikat," demikian RR.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya