Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Nekat Kibarkan Bendera Bulan Bintang, Warga Lhokseumawe Diperiksa Kepolisian

MINGGU, 19 DESEMBER 2021 | 04:26 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Pengibaran bendera Bulan Bintang yang dilakukan Ketua Mualimin Aceh, Zulkarnaini Hamzah alias Teungku Ni, berujung dengan pemanggilan pihak kepolisian Aceh.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Aceh memanggil Zulkarnaini Hamzah, untuk dimintai keterangan terkait pengibaran bendera bulan bintang di Lhokseumawe, pada Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 4 Desember lalu.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Winardy mengatakan, pemanggilan tersebut juga upaya klarifikasi dari kepolisian kepada yang bersangkutan. Motif, tujuan, serta niat dikibarkan bendera bulan bintang.


"Karena hal itu diduga melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Winardy, dalam keterangan yang diterima Kantor Berita RMOLAceh, Sabtu (18/12).

Winardy menyebutkan, ketika pengibaran bendera Bulan Bintang di Lhokseumawe beberapa waktu, kepolisian sudah berusaha menghentikan. Namun, diabaikan.

Menurut hukum, kata Winardy, bendera bulan bintang yang dikibarkan pada peringatan Hari Damai Aceh atau pada Milad GAM adalah ilegal.

Hal itu, sudah dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri, Muhammad Hudori, saat menjawab somasi dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) untuk mencabut Permendagri, tentang pembatalan beberapa ketentuan dalam Qanun nomor 3 tahun 2013 tentang bendera dan lambang Aceh.

"Kemendagri beralasan, pembatalan teesebut dilakukan karena Qanun nomor 3 tahun 2013 tentang bendera dan lambang Aceh bertentangan dengan Undang-Undang nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Pemerintah 77/2007 tentang Lambang Daerah," ujar Winardy.

Oleh karena itu, lajut Winardy, setiap aktivitas pengibaran bendera Bulan Bintang dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum. Bahka, apabila tujuan atau niat pengibarannya adalah untuk memisahkan diri dari Indonesia, maka dapat dikenakan pasal-pasal terkait makar.

"Namun demikian, apabila keputusan tersebut dirasa kurang tepat, Pemda Aceh masih dapat melakukan upaya hukum lain, seperti  PTUN terhadap Keputusan Mendagri Nomor 188.34-4791 Tahun 2016," sebut dia.

Winardy menjelaskan, jika tidak setuju, Pemerintah Aceh dan DPR Aceh dapat membentuk tim khusus yang membahas masalah tersebut melalui jalur musyawarah dengan pemerintah pusat.

"Intinya lakukan sesuai dengan mekanisme hukum," kata dia. Winardy mengimbau kepada masyarakat agar secara bersama-sama menciptakan kondisi Aceh yang damai.

"Baik di mata nasional maupun internasional, demi terbukanya investasi bagi Aceh. Bukan malah melakukan upaya kontraproduktif yang just ru membuat iklim investasi menjadi redup dengan potret masa lalu yang masih menjadi stigma negatif di luar sana," ucap dia.

Untuk itu, ujar Winardy, semua harus berkolaborasi untuk menciptakan investasi di Aceh yang lebih baik. Tujuannya, demi memperbanyak lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.

"Mari kita jaga kondusifitas. Sehingga menjadikan Aceh daerah yang baldatun thoyyibatun wa rabbhun ghaffur," demikian Winardy. 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Konflik Memanas di Yaman Selatan, RI Dukung Saudi Gelar Konferensi Damai

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:16

Kuasai 51,57 Persen Hak Suara, Danantara Tetap Jadi Pemegang Saham Mayoritas Telkom

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:03

Bank Raya Perkenalkan Kartu Digital Debit Visa di Momentum Tahun Baru 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:50

Investor di Asia Hati-hati Sikapi Gejolak Politik Global

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:36

Rencana Prabowo Bangun 1.100 Kampung Nelayan Tahun 2026

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:28

Kebijakan Chromebook Era Nadiem Rawan Dikriminalisasi

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Bukan Sejahtera, Rakyat Indonesia Bahagia karena Beriman!

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:27

Menlu AS akan Bertemu Pejabat Denmark Soal Akuisisi Greenland

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:21

Pertama di Indonesia, BRI Raih Sertifikasi TMMi Level 3

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:13

Swasembada Harus Berdampak pada Stabilitas Harga Pangan

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:11

Selengkapnya