Berita

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat merespons perkembangan Omicron/Repro

Politik

Menkes Budi Gunadi Imbau Warga Tidak Termakan Hoaks Virus Omicron

MINGGU, 28 NOVEMBER 2021 | 19:34 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk tidak termakan isu hoaks terkait virus omicron yang telah menyebar ke sejumlah negara termasuk Hongkong dan Australia.

Budi menjelaskan bahwa untuk varian baru Omicron, kajiannya masih berjalan. Ia tidak ingin masyarakat termakan hoaks oleh orang yang seakan-akan ahli virus.

"Ini bidangnya lab scienties bidangnya virologis semua orang mendadak jadi virologis," demikian Budi dalam keterangan persnya menyikapi menyebarnya virus omicron dari Afrika Selatan, Minggu malam (28/11).


Budi menerangkan varian omicron ini dikonfirmasi ditemukan pada 9 November. Setelah muncul, Omricon kemudian menjadi bahan investigasi WHO mulai tanggal 24 November.

WHO, kata Budi langsung meningkatkan status menjadi varian of concern pada tanggal 26 November dalam dua hari ini loncat melampaui varian of interest.

“Jadi dia loncat menjadi varian of concern dan Indonesia menindaklanjuti tanggal 28 November. Jadi dari 9 November, 24, 26, 28 November,” imbuhnya.

Pihaknya menyampaikan pesan penting, bahwa saat ini dunia termasuk Indonesia jauh lebih cepat dan lebih canggih dalam mengidentifikasi varian baru.

“Karena varian baru inilah yang menyebabkan lonjakan. Jadi setiap ada alfa beta delta setiap ada varian baru selalu terjadi lonjakan. Jadi faktor utama lonjakan itu adalah varian baru,” katanya.

Dia menerangkan varian Omicron ini menjadi varian of concern oleh WHO. Sebab, mutasi virus ini sangat banyak dan mutasi-mutasi virus yang berbahaya dari sebelumnya.

"Mutasinya ada sekitar 50, 30 mutasinya sda di spike protein di mahkota coronanya, dan dari 30 mutasi tersebut dan 50 mutasi totalnya banyak mutasi-mutasi yang ada di varian alfa beta delta dan gama dan yang buruk-buruk yang diidentifikasi,” ujarnya.

Mutasi yang buruk itu, kata Budi, dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok mutasi yang meningkatkan keparahan.

“Kelompok kedua adalah mutasi-mutasi yang meningkatkan transmisi atau penularan, kelompok ketiga adalah kelompok mutasi yang meningkatkan escape immunity jadi bisa menghindari vaksin,” tutupnya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya