Berita

Ekonom senior DR. Rizal Ramli

Publika

Dr. Rizal Ramli: Demokrasi Sekarang Dikuasai United Oligarchy

JUMAT, 22 OKTOBER 2021 | 09:54 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SEJAK zaman raja-raja sampai zaman “Petruk Jadi Raja” seperti sekarang, negeri ini juga diwarnai oleh pemimpin boneka (marionet leider).

Metode kolonialis secara garis besar memakai dua cara: memecah-belah dan menciptakan pemimpin boneka.

Itulah sebabnya VOC dulu datang terutama bukan dengan invasi senjata, melainkan dengan melakukan konsesi dan perjanjian-perjanjian dengan raja atau pangeran yang bersedia dijadikan boneka.


Belanda tidak mendominasi Nusantara sampai abad ke-19. Namun finansial VOC jauh lebih kuat. Lemahnya sektor ekonomi dan finansial kerajaan-kerajaan tradisional waktu itu membawa kemajuan bagi praktek kolonialisme.

Negara kolonial Hindia Belanda sendiri baru muncul pada awal abad ke-19, setelah jatuhnya VOC, antara lain karena korupsi.

Mindset kolonialis dengan metode memecah-belah dan menciptakan pemimpin boneka sampai hari ini  masih dijalankan oleh oligarki, yang terdiri dari para taipan, partai politik pro status quo, dan kelompok Pengpeng (pejabat merangkap pengusaha).

Pemimpin-pemimpin boneka itu sekarang dinaikkan dengan cara “sophisticated”, melalui  lembaga-lembaga survei dan media massa untuk membangun persepsi sesat, serta teknik-teknik pencitraan demi tujuan personal glory, yang menghasilkan pangeran-pangeran pencitraan seperti Ganjar Pranowo.

Ganjar muncul akibat dilema yang terjadi di kandang banteng, karena tiada lagi figur yang bisa laku dijual, dan adanya kepentingan kuat oligarki yang masih ingin terus berkuasa.

Itulah sebabnya Direktur Political and Public Policy Studies Dr Jerry Massie meminta masyarakat tidak terkecoh dalam memilih figur-figur di dalam survei calon presiden.

Ia kemudian menunjuk contoh ideal calon presiden, yaitu tokoh nasional Dr. Rizal Ramli, sebagai figur yang tidak menitikberatkan pada pencitraan, melainkan lebih mengedepankan ciri problem solver, transformatif, track record, prestasi, dan menjaga integritas diri.

Pemimpin yang mampu membawa Indonesia ke arah perubahan  yang lebih baik, menurutnya, bukan sosok yang gila pencitraan, yang selalu dimunculkan dalam survei-survei calon presiden oleh beberapa lembaga survei yang ditengarai bagian dari alat oligarki.

“Faktanya Rizal Ramli sangat layak untuk dijagokan sebagai calon presiden RI pada Pilpres 2024,” tegas Jerry Massie. Bahkan, lanjutnya, Rizal Ramli pantas diadu kemampuannya dengan nama-nama yang disebut oleh lembaga-lembaga survei sebagai calon presiden.

Rizal Ramli sendiri dalam sebuah diskusi virtual bertema “APBN di Antara Himpitan Pajak dan Utang Negara”, belum lama ini, mengintrodusir sebuah istilah yang menggambarkan kemerosotan demokrasi di negeri ini selama 7 tahun terakhir.

“Yang ada sekarang bukan demokrasi, tapi United Oligarchy,” tegasnya.

Menurutnya, di Indonesia sekarang hanya ada satu pihak yang menjadi bos partai-partai besar.

“Jadi kepalanya cuma satu. Dia (United Oligarchy) bisa perintahkan apa saja kepada bos-bos partai untuk mendukung kepentingan United Oligarchy,” papar Rizal Ramli.

Ia mencontohkan,  para pemegang kebijakan di negeri ini sekarang  banyak memaksakan kehendak untuk membahas hal-hal yang bukan prioritas. Mulai dari persoalan politik sampai ekonomi, dan banyak lagi.

Memaksakan kehendak demi kepentingan United Oligarchy.

Contohnya, kondisi utang negara yang terus membengkak hingga biaya yang terlalu tinggi dalam proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang merupakan kerjasama dengan China, sehingga akhirnya memakai duit APBN.  

Berikutnya ialah pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur yang minim manfaat, tapi akan menghabiskan biaya yang sangat mahal.

Rizal Ramli menekankan, prasyarat negara demokrasi adalah trias politica, saling cek antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Tapi Jokowi berhasil membangun United Oligarchy, menyatukan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Merusak demokrasi, prinsip keadilan dan konstitusi,” ujar Rizal Ramli.

Penulis adalah pemerhati sejarah

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Dasco Ungkap Target Closing RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:49

Ahmad Luthfi Minta Daerah Dilibatkan dalam Evaluasi MBG

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:23

Pameran "Aku Arek Suroboyo" Kuak Sisi Lain Bung Karno yang Jarang Diketahui

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:11

Usulan Natalius Pigai, Ikhtiar Hadirkan Polri Lebih Modern dan Adaptif

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:53

Pajak, Kepercayaan dan Kontrak Sosial

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:49

Jalur Titipan SPMB Masuk Pidana Korupsi, Mau Anak Pintar Kok Nyogok...

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:23

Jurus Seribu Langkah Gagal, Eksekutor Jambret Jakbar Digulung!

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:36

Ditolak Daerah, Mubes V Kosgoro 1957 Dianggap Cacat Prosedur

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:32

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Gaspol Inovasi Sampah dan Tanam Pohon

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:24

Ini Instruksi Khusus Prabowo ke Seskab Teddy Soal Sekolah Rakyat

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:07

Selengkapnya