Berita

Pimpinan jaringan Haqqanis, Anis Haqqani/Net

Dunia

Mengenal Anis Haqqani, Pimpinan Kelompok Teroris Paling Berbahaya yang Memerintah Kabul Hari Ini

SABTU, 21 AGUSTUS 2021 | 12:10 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Hampir sepekan setelah Taliban merebut ibukota Kabul, kelompok itu masih mempertahankan basisnya di Kandahar. Para pemimpin tinggi Taliban berada di Kandahar, sementara Kabul ditangani oleh jaringan Haqqani.

Siapakah jaringan Haqqani?

Jaringan Haqqani merupakan bagian dari komponen Taliban yang dianggap paling mematikan dan berbahaya. Sejak 2012, Amerika Serikat (AS) menetapkannya sebagai kelompok teroris terlarang.


Haqqani merupakan faksi penting Taliban yang memiliki andil besar ketika merebut Kabul pada 15 Agustus lalu. Menurut laporan, hampir 6 ribu kader Haqqani menguasai Kabul.

Perebutan ibukota itu dipimpin oleh Anas Haqqani, putra bungsu sang pendiri jaringan Haqqani, Jalaluddin Haqqani. Ia adalah saudara dari Sirajuddin Haqqani, salah satu dari tiga wakil pimpinan Taliban.

Sejek merebut Kabul, Anis Haqqani dilaporkan telah bertemu dengan dewan pemerintah Afghanistan, yang terdiri dari mantan presiden Hamid Karzai, pemimpin Hizbut Tahrir Gulbudin Hekmatyar, dan kepala utusan perdamaian Abdullah Abdullah.

Bagaimana sepak terjang Anis Haqqani?

Anis Haqqani dikenal memiliki catatan kriminal yang panjang. Pada 2014, ia ditangkap karena memainkan peranan penting dalam strategi dan penggalangan dana jaringan Haqqani. Ia juga didakwa atas pembunuhan, penculikan, termasuk dugaan membunuh kekasihnya.

Kemudian pada 2016, ia divonis hukuman mati, tetapi kemudian pada 2019 dibebaskan bersama dua komandannya dengan pertukaran tahanan dua profesor yang diculik jaringan Haqqani. Dua profesor itu adalah Kevin King (63 tahun) dari AS dan Timothy Weeks (50 tahun) dari Australia.

Setelah bebas, Anis diterbangkan ke Doha, Qatar, untuk bergabung dengan kelompok politik Taliban.

Anis Haqqani dikenal paling berbahaya dan pendendam di antara klan Haqqani

Setelah menguasai Kabul, pada Kamis (19/8), Anis Haqqani disebut telah bertemu dengan mantan Ketua Senat Muslimyar yang pernah mendorong proses eksekusinya.

Di tiga pengadilan, Muslimyar telah merekomendasikan hukuman mati kepada Anis Haqqani, dia harus digantung untuk menghentikan kejahatan lebih lanjut yang dilakukan oleh kelompoknya.

Sekarang, Anis Haqqani mengatakan pihaknya telah memaafkan semua "musuhnya". Tetapi banyak yang tidak mempercayai itu. Berbagai sumber, seperti dikutip India Narrative, mengatakan, ia adalah orang yang paling berbahaya dan pendendam dalam kelompoknya.

Ketika Taliban menegaskan tidak akan melakukan pembalasan dan membantah pencarian door-to-door di Kabul, pejuang Haqqani dilaporkan telah mengintensifkan perburuan. Haqqani melakukan pencarian untuk orang-orang yang bekerja denagn NATO atau pemerintahan Afghanistan sebelumnya.

Bahkan Haqqani disebut menjadi dalang pembunuhan kerabat seorang jurnalis media Jerman, DW, pada Kamis.

Saat ini, Anis Haqqani juga sedang aktif melakukan negosiasi, meyakinkan para pemimpin pasukan Panjshir untuk secara damai menyerahkan diri pada Taliban, dan menghindari pertumpahan darah.

Panjshir atau dikenal sebagai Aliansi Utara Baru merupakan kelompok perlawanan yang dipimpin oleh Ahmad Massous, putra Ahmad Shah Massoud yang dikenal sebagai "Singa Legendaris".

Di dalam kelompok itu juga terdapat Amrullah Saleh yang menyatakan diri sebagai penjabat presiden setelah Ashraf Ghani meninggalkan Afghanistan.

Menurut sumber Panjshir, komandan tertinggi pasukan Afghanistan, Jenderal Haibatullah Alizai, Jenderal Sami Sadat dan banyak komandan pemberani lainnya telah tiba di Panjshir untuk berperang melawan Taliban.

Jenderal Haibatullah Alizai dan Jenderal Sami Sadat merupakan perwira pemberani dari tentara Afghanistan yang dipromosikan menjadi jenderal hanya tiga hari sebelum jatuhnya Kabul.

Mereka diperkirakan memiliki sebuah batalyon besar dan bersenjata berat dengan kurang lebih 3 ribu-5 ribu tentara. Mereka telah meninggalkan Deh Sabz di Kabul, dan dalam perjalanan ke Panjshir untuk bergabung dengan kelompok perlawanan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya