Berita

Ujang Malang tampak saat dipasung dipergelangan tangannya dengan besi/Ist

Nusantara

Nasib Pilu Si Ujang Malang, Pergelangan Kaki dan Tangannya Membusuk Karena Bertahun-tahun Dipasung

SABTU, 07 AGUSTUS 2021 | 03:28 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Gubuk sederhana berdinding kayu dan beralas tanah di Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, Bengkulu menjadi saksi bisu kesulitan hidup laki-laki renta bernama Rodi Hartono (40) yang terpaksa dipasung menahun akibat gangguan jiwa.

Kantor Berita RMOLBengkulu bertandang ke rumah pria yang akrab disapa Ujang Malang itu, Rabu (4/8) sekitar pukul 15.30 WIB.

Dari jalan provinsi yang menghubungkan Tes-Muara Aman, perjalanan harus melalui sebuah jalan desa sejauh sekitar 3 kilometer untuk sampai ke sebuah rumah kecil yang berada di tengah sebuah kompleks pemukiman warga.


Sekitar 10 meter di bagian belakang rumah tersebut, terlihat sebuah bangunan tunggal, berupa pondok kecil.

Di dalam sebuah ruangan sempit berukuran sekitar 3x3 meter itu seorang perempuan berperawakan kecil tergopoh-gopoh menyalami kami sembari membenarkan bajunya yang lusuh.

"Sejak sekitar tujuh tahun lalu dia jadi begitu, otaknya ada yang konslet," ujar Sebra, ibu dari Ujang, saat kami datang dan mulai bertanya soal anaknya.

Perempuan berusia sekitar 60 tahun itu sudah lama ditinggal suaminya yang sudah meninggal.

Sehari-hari mereka tinggal berdua secara terpisah. Ujang Malang di sebuah pondok yang terbuat dari kayu di belakang rumah, sementara di rumah bagian depan dihuni Sebra.

"Tapi sekarang sudah mendingan. Saya biasa ngobrol dengan dia, ya normal saja," sambungnya.

Sebrah pun mengajak ke pondok di belakang rumah melalui jalan dapur.
Di tempat kumuh itulah selama 7 tahun terakhir Ujang melakukan seluruh aktivitas keseharian, termasuk buang air.

"Assalamualaikum," sapa kami yang tiba-tiba mengubah wajah datar Ujang dengan sedikit senyuman.

Sebatang rokok dan diberikan kepada Ujang disambut dengan gerakan tubuh yang membuat kaki kirinya ikut bergerak, sehingga keluarlah bunyi yang berasal dari gesekan mata rantai besi yang mengikat kedua kaki dan tangannya.

Setelah beberapa kali Ujang menghisap rokok, kami memintanya untuk berdiri dan duduk di sebuah kursi bambu yang ada di sebelahnya. Ketika berdiri, terlihat jelaslah rantai besi itu telah memakan daging pergelangan tangan dan kakinya hingga membusuk.

Kantor Berita RMOLBengkulu menanyakan beberapa hal terhadap Ujang sembari duduk di kursi. Dan diluar dugaan ia menjawab dengan jelas.

Ia juga masih mengingat dengan baik kisahnya di masa lalu. Misalnya terkait pengalamannya ketika dirawat di rumah sakit jiwa.

Ujang dipasung oleh warga karena sering mengamuk akibat gangguan jiwa yang dideritanya sejak 7 tahun terakhir. Awalnya Ujang adalah pemuda normal yang bekerja sebagai buruh di Lebong.

"Dia kalau orang banyak pasti bicaranya normal," ujar ibunya.

Saat kumat, Ujang mengamuk memukuli dinding-dinding rumah hingga menghajar warga sekitar dengan senjata tajam dan alat lainnya. Upaya pengobatan kerap dilakukan. Bahkan ia sempat sembuh namun kumat lagi. Sejak saat itulah Ujang tidak beranjak dari pemasungan.

"Pernah isi rumah dihancurkan. Keluarkan senjata tajam kejar-kejar orang," cerita Sebra.

Ibunya tidak bisa membuka pasung sebelum anaknya normal kembali, sehingga ia mengurus segala kebutuhan putranya itu di tempat yang sama bertahun-tahun.

Sebra hanya bisa menahan sedih ketika mengasuh anaknya, memandikan, mengurus kotorannya, memberi makan, meluapkan kasih sayang di tempat yang sama.

Ia sangat tahu putranya ingin sekali keluar dari pasung, namun tenaganya tak cukup untuk membuka tiap baut dan pasak yang mengunci dua kayu yang bertumpuk.

"Mau bagaimana lagi. Biaya pengobatan tidak ada. Lebih baik seperti ini dari pada merugikan orang lain," tutupnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

CELIOS Ungkap Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026

Rabu, 22 April 2026 | 14:13

Penambahan Komando Teritorial Berpotensi Seret TNI ke Politik Praktis

Rabu, 22 April 2026 | 14:05

Mega Syariah Bukukan Akuisisi Dana Pihak Ketiga Rp709 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 14:01

Prabowo Bakal Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 | 13:49

Konsumsi BBM Harus Bijak di Tengah Gejolak Harga

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

Komisi X DPR Sesalkan Dugaan Kecurangan Peserta UTBK Undip

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

YLKI Sebut Pajak Tol Salah Sasaran dan Memberatkan Rakyat

Rabu, 22 April 2026 | 13:38

IHSG Sesi I Terkoreksi ke Level 7.544 di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

Rabu, 22 April 2026 | 13:24

Purbaya Pastikan Nasib Utang Whoosh Sudah Rampung

Rabu, 22 April 2026 | 13:10

Prabowo Jajaki Peluang Kirim WNI Ikut Program Kosmonaut Rusia

Rabu, 22 April 2026 | 12:58

Selengkapnya