Berita

Papan peringatan Covid-19 di Inggris/Net

Dunia

Ahli Epidemiologi Inggris: Transmisi Varian B16172 Lebih Rendah Dari Yang Dikhawatirkan

KAMIS, 20 MEI 2021 | 08:56 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemerintah Inggris meyakini jika vaksin Covid-19 yang saat ini tersedia dapat melawan varian virus corona B16172 yang pertama kali ditemukan di India.

Perdana Menteri Boris Johnson sebelumnya memperingatkan jika kemunculan B16172 kemungkinan dapat menggagalkan rencana Inggris untuk mencabut pembatasan sepenuhnya pada 21 Juni.

Namun pada Rabu (19/5), ia mengatakan data terbaru menunjukkan hasil menggembirakan, di mana seorang ahli epidemiologi terkemuka menyebut vaksin dapat digunakan untuk melawan varian tersebut.


"Kami semakin yakin bahwa vaksin efektif terhadap semua varian, termasuk varian India," kata Johnson kepada parlemen, seperti dikutip Reuters.

Ahli epidemiologi dari Imperial College London, Neil Ferguson mengatakan terdapat "secercah harapan" dari data terbaru, yaitu transmisi varian mungkin lebih rendah dari yang dikhawatirkan.

"Besarnya keuntungan itu tampaknya telah turun sedikit dengan data terbaru," ujarnya.

Dia mengatakan bahwa meskipun ada kepercayaan bahwa vaksin akan terus melindungi dari penyakit yang parah, varian tersebut dapat menyebabkan berkurangnya kemanjuran vaksin terhadap infeksi dan penularan.

Ferguson mengatakan pertumbuhan cepat awal B16172 terjadi di antara orang-orang yang telah bepergian dan yang memiliki kesempatan lebih tinggi untuk tinggal di rumah multi-generasi atau di daerah tertinggal, dan kemudahan penularan mungkin tidak ditiru di pengaturan lain.

Seorang profesor pemodelan penyakit di London School of Hygiene and Tropical Medicine dan anggota dari Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (SAGE) pemerintah, Graham Medley, mengatakan bahwa sementara varian itu tumbuh dengan cepat di beberapa tempat.

"Salah satu hal utama yang akan kami cari dalam beberapa pekan mendatang adalah, seberapa jauh penyebarannya di luar daerah itu," jelasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya