Berita

Arief Gunawan/Net

Publika

Jadi Presiden Di Indonesia, Tak Cukup Dengan Ego Nasionalis

KAMIS, 22 APRIL 2021 | 17:15 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SEJARAWAN Harry Benda menyebut Soekarno “dramatis personae”. Kembar jiwa pemikir sekaligus pemain politik, yang naik ke tampuk kekuasaan sebagai pemersatu bangsa.

Pembangkit nasionalismenya ialah jutaan rakyat yang menderita dan dieksploitasi.

Kreativitasnya sebagai pemikir ialah Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.


Di negeri ini, jadi presiden harus merangkul semua golongan. Dogma “yang penting nasionalis” adalah kesimpulan yang salah.

Soekarno nasionalis inklusif. Titik temu antara Islam dan Nasionalis (atau sebaliknya) dan kelompok-kelompok lainnya sangat diperlukan.

Kunci dari nasionalisme Indonesia yang sesungguhnya ialah tidak boleh phobia terhadap agama apapun.

Negeri dan bangsa ini tidak akan hancur oleh karena perbedaan-perbedaan. Juga tidak karena alamnya. Kehancuran bisa terjadi akibat cara pandang nasionalisme sempit elite kekuasaan.

“Nasionalisme kita haruslah lahir daripada menselijkheid*. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan ...” kata Soekarno.

Sengaja mengembangkan phobia terhadap Islam seperti yang terjadi sekarang misalnya, sangat membahayakan persatuan bangsa. Islamphobia dengan subtema radikal-radikul sebenarnya hanya mainan segelintir minoritas yang menganut nasionalisme sempit.

Segelintir minoritas ini bertingkah persis seperti kelompok agama tertentu di Amerika Latin sampai era tahun ‘90-an, yang mendekat kepada kekuasaan diktator militer.

Gelombang protes publik waktu itu akhirnya muncul menamakan diri Teologi Pembebasan, menentang kelompok agama ini agar mau berpihak kepada rakyat.

Arief Gunawan

Pemerhati Sejarah

*Menselijkheid = Kemanusiaan.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya