Berita

Petugas lakukan swab tes di Mumbai/Net

Dunia

Karena Embargo AS India Kekurangan Bahan Mentah Untuk Vaksin, Produsen Asal China Siap Bantu

SELASA, 20 APRIL 2021 | 07:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Produsen produk yang terkait dengan vaksin asal China menyatakan kesediaan mereka untuk bekerja sama dengan pihak India dalam hal produksi dan distribusi vaksin. Ini sebagai tanggapan atas meningkatnya kekhawatiran India karena kekurangan pasokan yang ditimbulkan oleh embargo AS.

Kesediaan itu muncul setelah CEO produsen vaksin terbesar India Serum Institute of India (SII), Adar Poonawalla, memposting tweet pada Jumat, yang isinya meminta Presiden AS Joe Biden untuk mencabut embargo ekspor bahan mentah, sehingga negara lain dapat meningkatkan produksi vaksin.

"Hormat @POTUS, jika kita ingin benar-benar bersatu dalam memerangi virus ini, atas nama industri vaksin di luar AS, saya dengan rendah hati meminta Anda untuk mencabut embargo ekspor bahan baku keluar dari AS agar produksi vaksin dapat meningkat," cuit  Poonawalla.


Salah satu perusahaan farmasi yang berbasis di Provinsi Jiangsu, China Timur, mengatakan kepada Global Times tanpa menyebut nama, bahwa perusahaan tersebut mengekspor natrium klorida untuk keperluan medis ke India, dan beberapa di antaranya digunakan dalam produksi vaksin.

Saat ini kebanyakan produksi mereka sebagian besar untuk pasokan domestik, di mana permintaan untuk produksi vaksin sangat tinggi. Namun, manajer perusahaan itu mengatakan bahwa kapasitasnya memadai untuk lebih banyak pesanan dari negara tetangga, termasuk India.

Sementara, seorang direktur produsen kaca farmasi besar di Provinsi Shandong, China Timur, bermarga Zhao, mengatakan bahwa perusahaan tersebut memiliki produksi tahunan lebih dari 50 juta botol, yang dapat memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri saat ini.

Zhao mengatakan bahwa meskipun kapasitas produksi memadai, ada sedikit kemauan di seluruh industri untuk mengekspor ke negara lain, karena botol vaksin sebagian besar terbuat dari kaca silikon impor, sehingga keuntungan terbatas. Tetapi perusahaan dapat memperluas ekspornya ke negara lain seperti India jika ada permintaan yang meningkat.

Times of India melaporkan pada hari Senin (19/4), India telah menambahkan lebih dari 200.000 kasus infeksi harian baru selama empat hari berturut-turut, dan total kasus yang dilaporkan telah melebihi 15 juta, terbesar setelah AS, menurut data dari Universitas John Hopkins.

Meskipun Poonawalla tidak merinci dalam tweetnya baru-baru ini, dia menyebutkan pada bulan Maret bahwa “ada banyak kantong dan filter dan barang-barang penting yang dibutuhkan produsen,” seraya  mencatat bahwa AS telah menerapkan Undang-Undang Produksi Pertahanan, yang mencegah ekspor bahan mentah kritis, yaitu bahan yang dibutuhkan untuk produsen vaksin, seperti dilaporkan Economic Times  pada Jumat.

Menghadapi jumlah yang tinggi, India memberikan otorisasi darurat untuk vaksin Sputnik V Rusia minggu ini. Mereka juga telah mendesak produsen vaksin AS seperti Pfizer dan Moderna untuk menjual dosis mereka ke India.

Meskipun tidak ada data resmi yang tersedia untuk menunjukkan volume ekspor terkait vaksin dari China ke India saat ini, para ahli mengatakan bahwa kapasitas China memadai dan negara tersebut siap untuk membantu India jika diperlukan.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

UPDATE

Titik Terang di Beltim, PT Timah Diperbolehkan Beli Timah Rakyat

Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:38

Mantri BRI Rela Terobos Kabut dan Jalan Terjal demi Jaga Asa Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:21

Alunan Bella Ciao Iringi Pembubaran Demo BEM UI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:57

BEM UI: Kemerdekaan Indonesia Masih Semu

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:45

Serba-Serbi Demo, Intel Cegat Massa Tak Berseragam Merapat Barisan BEM UI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:39

Peringatan Dini BMKG Modal Penting Hadapi Karhutla

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:28

MES Siapkan Jurus Jadikan Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:13

Budaya KKN dan Koncoisme Penghalang Cita-cita Merdeka

Selasa, 18 Agustus 2026 | 20:00

Waspada! El Nino Tahun Ini Lebih Kuat dari 2015

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:48

Said Abdullah: Rekam Jejak Destry-Aida Jadi Modal Pimpin BI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:38

Selengkapnya