Berita

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko di acara mengatasnamakan KLB Demokrat Deli Serdang/Repro

Politik

AHY Patut Waspada, Ada Kemungkinan Moeldoko Diuntungkan Seperti Sejarah PKB Dan PPP

KAMIS, 11 MARET 2021 | 02:42 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Sikap Kementerian Hukum dan HAM menjadi kunci nasib kepemimpinan Partai Demokrat yang kini tengah dirundung prahara.

Direktur Survei and Polling Indonesia (SPIN), Igor Dirgantara mengatakan, belum jelasnya sikap pemerintah dalam menghadapi klaim kongres luar biasa (KLB) yang menunjuk Moeldoko sebagai Ketum Demokrat patut diwaspadai oleh Ketum Demokrat saat ini, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Sebab bila belajar dari pengalaman, ada kemungkinan pemerintah memberi rambu hijau kepada pihak penantang dalam konflik dualisme partai politik.


"Jika terjadi dualisme kepemimpinan dalam partai politik (parpol), maka biasanya sang penantang berpotensi dimudahkan dari pada petahana," kata Igor Dirgantara kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (10/3).

Bahkan ia mengingatkan pengalaman dualisme kepemimpinan parpol seperti yang dialami Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) beberapa waktu silam.

"Konflik sebelumnya di PKB dan PPP adalah contohnya dengan Muhaimin Iskandar dan Romahurmuzy sebagai ketum yang disahkan. Moeldoko pun diuntungkan dengan peluang ini," tegasnya.

Akan tetapi, peluang Moeldoko tersebut bukan semudah membalikkan telapak tangan. Ada beberapa hal yang patut dicermati, seperti klaim AD/ART yang digunakan kubu Moeldoko dan AHY.

Kedua, kata Igor, patut dicermati apakah KLB Deli Serdang dianggap semata-mata sebagai persoalan internal Demokrat seperti tudingan kubu Moeldoko. Atau ada faktor intervensi dari eksternal seperti anggapan kubu AHY).

"Dan yang ketiga terkait pembuktian dari pemilik suara yang sah PD dari DPD dan DPC-nya. Intinya bukan berarti Moeldoko bisa mudah mendapat legitimasi dari Kemenkumham daripada AHY," tandasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya