Berita

Puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ-182/Net

Nusantara

Kemungkinan Jadi Penyebab Jatuhnya Sriwijaya Air, Masalah Auto-Throttle Sudah Banyak Terjadi

MINGGU, 24 JANUARI 2021 | 10:35 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan indikasi bahwa auto-throttle kemungkinan menjadi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 pada 9 Januari lalu.

Auto-throttle merupakan sistem yang memungkinkan pilot mengontrol tenaga mesin pesawat secara otomatis. Itu menghasilkan lebih banyak daya dorong di salah satu dari dua mesin Boeing 737-500.

Penyelidik KNKT, Nurcahyo Utomo menyebut, pesawat Sriwijaya Air melaporkan adanya masalah pada sistem auto-throttle beberapa hari sebelum penerbangan ke Pontianak.


"Salah satu faktor yang kami perhatikan, tapi saat ini saya tidak dapat mengatakan (auto-throttle) jadi faktor penyebab kecelakaan," ujar Nurcahyo ketika diminta konfirmasi oleh Bloomberg.

Saat ini, KNKT sendiri tengah bekerja dengan sejumlah ahli internasional, termasuk pihak Boeing untuk meninjau data black box yang telah ditemukan.

Pesawat jet bermesin ganda seperti 737 dirancang untuk terbang dengan satu mesin dalam keadaan darurat, jadi kegagalan auto-throttle yang menghasilkan daya dorong yang tidak seimbang seharusnya tidak cukup untuk menjatuhkan pesawat dengan sendirinya.

Namun, kasus dorong yang tidak seimbang yang parah dapat menyebabkan berbagai masalah dengan kemampuan kontrol pesawat. Jika pesawat berada di awan atau pilot tidak memantau kondisi pesawat dengan cermat, itu bisa menjadi sangat tidak terkendali sebelum kru merespons.

Dorongan yang tidak seimbang dari mesin dapat menyebabkan pesawat berbelok atau bahkan berguling ke samping dan turun secara tiba-tiba, jika tidak ditangani dengan benar. Pilot harus mengambil langkah dengan mengatur kekuatan secara manual atau mengambil tindakan lain.

Masalah terkait dengan sistem auto-throttle terjadi pada kecelakaan fatal Airbus SE A-310 yang membuat pesawat Tarom Airlines jatuh di dekat Bukares pada 1995. Penyelidik Rumania menyebut, kecelakaan yang menyebabkan 60 penumpang tewas itu juga disebabkan respons pilot yang tidak memadai.

Jika kegagalan auto-throttle terbukti menjadi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air, kemungkinan penyelidikan akan fokus pada pelatihan pilot.

"Asimetri dorong besar jarang terjadi, tetapi pilot dilatih untuk memperhatikan hal ini dan mencegah hilangnya kendali. Penyelidik akan menentukan sejauh mana asimetri terjadi dan melihat faktor-faktor lain yang membuatnya menjadi kehilangan kendali," kata analis penerbangan Gerry Soejatman.

Boeing sendiri sudah mengeluarkan instruksi bertahun-tahun lalu untuk memperbaiki masalah auto-throttle oleh pilot. Tapi pada beberapa insiden, pilot gagal mengenalinya masalah. Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS) juga merekomendasikan agar prosedur dibuat lebih spesifik.

"Prosedur ini tidak memperhitungkan faktor manusia yang dapat menyebabkan awak penerbangan gagal mengenali kelainan yang berkembang selama periode waktu yang lama, mengakibatkan sudut tepian yang berlebihan untuk pesawat," kata FAA dalam pemberitahuan tahun 2001 kepada pilot.

Menurut FAA, dari delapan insiden di mana pilot tidak merespons dengan baik, dua pesawat berguling lebih dari 40 derajat.

Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 sendiri jatuh menukik lebih dari 3.050 meter dalam kurun waktu sekitar 15 detik, dan hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya