Berita

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule (tengah) bersama para aktivis ProDEM saat menolak Omnibus Law RUU Ciptaker dan Perppu 1/2020/Net

Politik

ProDEM: Setiap Demo Rusuh Dibilang Bayaran, Kan Sudah Diingatkan Kebijakannya Akan Picu Kerusuhan

JUMAT, 09 OKTOBER 2020 | 19:22 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tudingan unjuk rasa di sejumlah kota di tanah air pada Kamis (8/10) ditunggangi kelompok tertentu dirasa aneh. Apalagi jika kemudian yang datang dalam aksi tersebut dianggap sebagai masa bayaran.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule mengaku tidak habis pikir dengan tudingan-tudingan semacam itu.

“Ampun. Setiap rakyat berdemo dan ada kericuhan, selalu dituduh bayaran,” tegasnya kepada redaksi, Jumat (9/10).


Seharusnya, kata Iwan Sumule, pemerintah dan pendukung istana tidak kaget dengan kerusuhan yang terjadi. Sebab, sudah jauh hari ProDEM mengingatkan bahwa dua kebijakan dari pemerintah akan memicu kerusuhan.

Dua kebijakan yang diambil adalah penerbitan Perppu 1/2020 yang kini jadi UU 2/2020 dan Omnibus Law UU Ciptaker. Aktivis ProDEM bahkan sempat menyuarakan penolakan pada dua kebijakan tersebut dengan berunjuk rasa di gedung DPR.

“Sudah lama diingatkan kebijakan itu akan picu kericuhan,” ujar Iwan Sumule menekankan.

Terlepas dari itu, Iwan Sumule menilai ada yang lebih gawat. Yaitu saat aparat mulai bertindak anarkis dengan memukuli para pendemo. Padahal mereka dibayar oleh rakyat yang aspirasinya sedang disampaikan oleh pendemo yang dipukuli itu.

“Yang gawat itu rakyat demo dan aparat yang dibayar dari uang rakyat memukul pendemo. Anehnya, demo besar akan dibuat klimaks, agar tak berlanjut. Iya nggak sih?” tutupnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya