Berita

Salah satu Universitas di Inggris/Net

Dunia

Pengamat: Meskipun Ada Pengawasan Ketat, Inggris Tidak Batasi Jumlah Siswa Asal China Seperti AS

RABU, 07 OKTOBER 2020 | 13:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China disebut-sebut sebagai sumber utama pendapatan Inggris untuk pasar pendidikan. Hal itulah yang mendasari pandangan sejumlah ahli yang mengatakan bahwa negara itu tampaknya tidak akan mengikuti langkah pemerintah AS dalam membatasi siswa asal China.

Tetapi diskriminasi terhadap mahasiswa China tertentu mencerminkan ketakutan beberapa negara Barat terhadap kekuatan ekonomi China yang sedang berkembang, kata para ahli China pada hari Selasa (6/10) waktu setempat.

Komentar tersebut muncul setelah media Inggris, The Times, melaporkan pada hari Kamis lalu bahwa Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan (FCDO) akan mulai memperluas kewenangan pemeriksaan keamanannya untuk mahasiswa pascasarjana asing yang mendaftar ke ‘mata pelajaran sensitif' pada apa yang disebut ‘keamanan nasional’.


Wu Qing, sekretaris jenderal Asosiasi Penelitian Bakat Pemuda China, mengatakan bahwa skema tersebut memengaruhi setiap pascasarjana asing. Dan bahkan jika itu ditujukan untuk pelajar China, pemerintah Inggris tidak mungkin untuk sepenuhnya mengikuti langkah-langkah AS -menutup pintu bagi sejumlah besar pelajar China- karena pelajar akan memberikan keuntungan finansial yang besar bagi industri pendidikan negara itu.

Dia menunjukkan bahwa langkah tersebut dapat semakin membuat siswa China enggan belajar di Inggris di tengah pandemi virus corona global.

Data yang dirilis oleh Badan Statistik Pendidikan Tinggi (HESE) menunjukkan lebih dari 120 ribu siswa Tiongkok terdaftar di Inggris pada tahun akademik 2018-2019.

Sementara itu otoritas AS mengatakan hanya 145 visa pelajar (F-1) yang dikeluarkan untuk penduduk daratan China pada Juli tahun ini karena ‘pembatasan politik’ dan ‘popularitas yang menurun’ karena meningkatnya ketegangan China-AS.

Yu Guoming, seorang profesor di School of Journalism and Communication of Renmin University of China, mengatakan bahwa membatasi siswa China dari ‘mata pelajaran sensitif’ tertentu, dan melarang penggunaan teknologi 5G Huawei mencerminkan ketakutan mereka terhadap peningkatan posisi ekonomi China di dunia dan ketidakpercayaan mereka pada China.

“Tapi itu tidak akan menjadi masalah selama siswa kami mengikuti peraturan, dan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang lebih besar,” katanya seperti dikutip dari GT, Selasa (6/10).

FCDO mengatakan di situs web nya, mata pelajaran sensitif yang dimaksud adalah di mana pengetahuan siswa dapat digunakan dalam program untuk mengembangkan Teknologi Militer Konvensional Lanjutan, senjata pemusnah massal, atau alat penyampaiannya.

Liu Mai, seorang guru di sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Provinsi Zhejiang, China Timur, mengatakan bahwa visa Inggris siswanya umumnya tidak ditinjau, tetapi mereka yang terutama mengajukan permohonan untuk teknik sipil dan teknik mesin di AS lebih cenderung diminta untuk menyerahkan dokumen tambahan.

“Mereka menduga bahwa siswa yang pergi ke AS untuk studi lebih lanjut mungkin memiliki tujuan lain,” kata Liu.

Ni Yue, seorang pria berusia 28 tahun yang diterima di program MSc Bioengineering: Biomaterials and Biomechanics di University of Nottingham, mengatakan bahwa karena pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, ia menunda studi pascasarjana selama setahun, tapi sekolah belum memintanya untuk melamar ATAS (Academic Technology Approval Scheme).

“Jika saya tidak mendapatkan visa karena yang disebut 'keamanan nasional', saya akan mempertimbangkan untuk pergi ke negara lain,” kata Ni.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

PR Gus Kikin: Pembenahan Sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi

Sabtu, 05 September 2026 | 00:27

Tiga Ayat NU

Sabtu, 05 September 2026 | 00:11

Kapasitas PSEL Dinilai Belum Cukup Imbas Penutupan 343 TPA

Jumat, 04 September 2026 | 23:56

Pendekar 08 Perluas Bantuan ke Sekolah Hingga Pengungsi Mandiri di NTT

Jumat, 04 September 2026 | 23:40

Garudayaksa FC Gandeng Zentara Sambut Super League

Jumat, 04 September 2026 | 23:28

Gerilya Diplomasi: Menjahit Kepentingan Nasional di Panggung Global

Jumat, 04 September 2026 | 23:20

SMK Go Global Jadi Strategi Siapkan Calon PMI Masuk Bursa Kerja Dunia

Jumat, 04 September 2026 | 23:01

Pemuda Nganggur adalah Hasil Salah Kebijakan

Jumat, 04 September 2026 | 22:40

AMPI Siap Gelar Rapimnas 8 September, Ini yang Dibahas

Jumat, 04 September 2026 | 21:40

wondr by BNI Jadi Official Banking Partner IdeaFest 2026

Jumat, 04 September 2026 | 21:25

Selengkapnya