Berita

Chaerudin Affan, S.E, M.Kesos. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Gerilya Diplomasi: Menjahit Kepentingan Nasional di Panggung Global

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2026 | 23:20 WIB

POSISI strategis yang dinikmati Indonesia di panggung internasional hari ini bukanlah sebuah kebetulan geografis semata. Ia adalah buah manis dari kerja-kerja komunikasi internasional yang agresif, taktis, dan penuh perhitungan yang dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. 

Berbagai anyaman kerja sama bilateral dan multilateral yang terbangun dengan negara-negara lintas benua saat ini mengarah pada satu tujuan suci, menjahit kepentingan nasional dengan stabilitas global, persis seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945.

Diplomasi Tatap Muka: Lebih dari Sekadar Protokoler


Di era digital di mana komunikasi bisa dilakukan lewat layar virtual, sebagian pihak mungkin mempertanyakan urgensi kunjungan luar negeri yang intensif. Namun, dalam kajian keamanan nasional, perihal berkunjung atau menerima kunjungan kepresidenan adalah kalkulasi strategis yang sangat tinggi, bukan sekadar urusan teknis protokoler.

Ini adalah tentang bagaimana sebuah negara berdaulat menghargai, menghormati, dan memposisikan negara mitra strategisnya. Untuk membangun kepercayaan (trust-building) yang mendalam--terutama saat membahas ruang kerja sama yang kompleks, sensitif, dan berisiko tinggi--komunikasi tatap muka (face-to-face diplomacy) mutlak diperlukan. Sinyal psikologis dan ketegasan komitmen tidak akan pernah bisa tersampaikan secara utuh melalui kabel serat optik.

Manifestasi Semangat Gerilya Jenderal Soedirman

Oleh karena itu, memandang kunjungan luar negeri Presiden hanya dari kalkulasi biaya (cost) adalah cara pandang yang sangat reduksionis. Kita harus melihatnya dari aspek curahan tenaga dan dedikasi. Perjalanan melintasi zona waktu yang berbeda, berpindah dari satu forum internasional ke forum lainnya, adalah tugas yang sangat melelahkan secara fisik dan mental.

Namun, di sinilah kita melihat bagaimana Presiden Prabowo memimpin dengan contoh (lead by example). Beliau berjuang dengan jiwa dan raga, melintasi rasa lelah demi memastikan posisi tawar Indonesia tetap tegak. Semangat sebesar itu hanya ada dalam diri seorang kesatria yang menolak menyerah pada keadaan. 

Napas pengorbanan seperti ini hanya muncul jika seorang pemimpin memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri: yaitu harkat, martabat, serta masa depan Bangsa dan Negara.

Romantisme perjuangan ini mengingatkan kita pada sosok Jenderal Besar Soedirman, tokoh yang dikenal sebagai idola sekaligus mentor spiritual bagi Presiden Prabowo dalam memandang nasionalisme. Sebagaimana Sang Jenderal yang rela bergerilya keluar-masuk hutan di tengah derita sakit paru-parunya--di mana tubuhnya harus ditandu, namun rasa cintanya pada republik mengalahkan rasa sakitnya--semangat kedisiplinan dan pengorbanan itulah yang hari ini direplikasi dalam "gerilya diplomasi" di panggung global.

Melalui komunikasi internasional yang solid, Indonesia kini bukan lagi objek yang terombang-ambing oleh keputusan negara-negara besar. Di bawah nakhoda seorang pemimpin yang berjiwa kesatria, Indonesia telah kembali pada khitahnya sebagai stabilisator global serta menjadi jembatan bagi masa depan generasi emas. 

Keseimbangan baru telah tercipta: ekonomi nasional aman terlindungi, dan komitmen terhadap ketertiban serta perdamaian dunia tetap terjaga luhur di atas rel konstitusi.


Chaerudin Affan, S.E, M.Kesos
Pemerhati Ketahanan Nasional, Eks Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kepemudaan Fisip UI


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya