Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/Net

Dunia

Remehkan Covid-19 Sejak Awal, Trump Hanya Tak Ingin Buat Kegaduhan

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2020 | 08:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seakan mengakui telah menyesatkan publik Amerika dengan menyembunyikan fakta dan meremehkan betapa berbahayanya virus corona baru pada awal wabah muncul.

Hal tersebut terungkap dalam rilis kutipan wawancaranya dengan jurnalis Bob Woodward pada Februari lalu. Di mana Woodward mempublikasikan kutipan wawancara tersebut dalam bukunya berjudul "Rage" pada Rabu (9/9).

Di sana dijelaskan, Trump sudah mengetahui bahaya Covid-19 jauh sebelum terungkap ke publik AS, termasuk indikasi virus corona menyebar lewat udara.


"Kamu tinggal bernapas dan begitulah virusnya menyebar. Dan itu situasi yang sulit. Itu sangat rentan. Itu lebih mematikan dari flu berat," ujar Trump.

Menanggapi hal tersebut, dalam konferensi pers pada Rabu malam, Trump mengatakan langkah tersebut harus ia lakukan untuk mengurangi kepanikan publik.

"Untuk mengurangi kepanikan, mungkin memang begitu. Tentu saja saya tidak akan membuat negara atau dunia ini menjadi gaduh," ujar Trump

"Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah membuat pani dan kami tidak ingin menunjukkan kepanikan. Kami harus menunjukkan ketenangan," sambungnya.

Dalam komentarnya, ia juga menyindir Woodward dengan mengatakan buku tersebut adalah pekerjaan politik yang sukses.

Namun begitu, Trump mengatakan, ia tidak benar-benar berpikir bahwa virus corona akan menginfeksi seluruh dunia, di mana orang-orang berebut membeli masker. Sehingga ia pun baru menggunakan Defence Production Act pada Maret.

Sebelumnya pada Rabu, Sekretaris Pers Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan Trump tidak pernah berbohong kepada publik Amerika tentang Covid. Alih-alih, presiden hanya mengekspresikan ketenangan, dan tindakannya mencerminkan hal itu.

Pengungkapan dari Woodward sendiri langsung dimanfaatkan rival Trump dari Partai Demokrat, Joe Biden dan Kamala Harris untuk menyerang. Sementara, pemilihan presiden AS semakin dekat.

Sejauh ini, AS sudah melaporkan lebih dari 6,3 juta infeksi Covid-19 dengan sekitar 190 ribu orang meninggal dunia karena virus.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya