Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/Net
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seakan mengakui telah menyesatkan publik Amerika dengan menyembunyikan fakta dan meremehkan betapa berbahayanya virus corona baru pada awal wabah muncul.
Hal tersebut terungkap dalam rilis kutipan wawancaranya dengan jurnalis Bob Woodward pada Februari lalu. Di mana Woodward mempublikasikan kutipan wawancara tersebut dalam bukunya berjudul "Rage" pada Rabu (9/9).
Di sana dijelaskan, Trump sudah mengetahui bahaya Covid-19 jauh sebelum terungkap ke publik AS, termasuk indikasi virus corona menyebar lewat udara.
"Kamu tinggal bernapas dan begitulah virusnya menyebar. Dan itu situasi yang sulit. Itu sangat rentan. Itu lebih mematikan dari flu berat," ujar Trump.
Menanggapi hal tersebut, dalam konferensi pers pada Rabu malam, Trump mengatakan langkah tersebut harus ia lakukan untuk mengurangi kepanikan publik.
"Untuk mengurangi kepanikan, mungkin memang begitu. Tentu saja saya tidak akan membuat negara atau dunia ini menjadi gaduh," ujar Trump
"Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah membuat pani dan kami tidak ingin menunjukkan kepanikan. Kami harus menunjukkan ketenangan," sambungnya.
Dalam komentarnya, ia juga menyindir Woodward dengan mengatakan buku tersebut adalah pekerjaan politik yang sukses.
Namun begitu, Trump mengatakan, ia tidak benar-benar berpikir bahwa virus corona akan menginfeksi seluruh dunia, di mana orang-orang berebut membeli masker. Sehingga ia pun baru menggunakan Defence Production Act pada Maret.
Sebelumnya pada Rabu, Sekretaris Pers Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan Trump tidak pernah berbohong kepada publik Amerika tentang Covid. Alih-alih, presiden hanya mengekspresikan ketenangan, dan tindakannya mencerminkan hal itu.
Pengungkapan dari Woodward sendiri langsung dimanfaatkan rival Trump dari Partai Demokrat, Joe Biden dan Kamala Harris untuk menyerang. Sementara, pemilihan presiden AS semakin dekat.
Sejauh ini, AS sudah melaporkan lebih dari 6,3 juta infeksi Covid-19 dengan sekitar 190 ribu orang meninggal dunia karena virus.