Berita

Vaksin Covid-19/Net

Dunia

Berseteru Lagi, AS Tak Akan Libatkan WHO Dalam Pengembangan Vaksin Covid-19 Buatannya

RABU, 02 SEPTEMBER 2020 | 11:11 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat (AS), di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, kembali berseteru dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kali ini terjadi setelah WHO khawatir jika vaksin Covid-19 buatan AS akan diberi lisensi sebelum menyelesaikan uji coba.

Menanggapi keraguan organisasi tersebut, Gedung Putih pada Selasa (1/9) menegaskan AS tidak akan bergabung dalam upaya global untuk mengembangkan, memproduksi, dan mendistribusikan vaksin virus corona karena keterlibatan WHO, seperti dimuat The Washington Post.

"AS akan terus melibatkan mitra internasional kami untuk memastikan kami mengalahkan virus ini. Tetapi kami tidak akan dibatasi oleh organisasi multilateral yang dipengaruhi oleh WHO dan China yang korup," ujar jurubicara Gedung Putih, Judd Deere dalam sebuah pernyataan.


"Presiden tidak akan mengeluarkan biaya untuk memastikan bahwa setiap vaksin baru mempertahankan standar emas FDA (Administrasi Makanan dan Obat-obatan) kami sendiri untuk keamanan dan kemanjuran, diuji secara menyeluruh, dan menyelamatkan nyawa," tambahnya.

Perseteruan antara AS dan WHO dimulai pada Minggu (30/8), ketika Komisaris FDA, Stephen Hahn mengatakan, pihaknya siap untuk mengotorisasi vaksin virus corona sebelum uji klinis tahap 3 selesai.

Mengomentari pernyataan tersebut, Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan pada Senin (31/8) mengatakan, pembuatan vaksin secara terburu-buru dapat menimbulkan risiko.

"Jika Anda bergerak terlalu cepat untuk memvaksinasi jutaan orang, Anda mungkin kehilangan efek samping tertentu," ujar Ryan.

Sejauh ini, belum ada vaksin virus corona yang disetujui, kecuali Sputnik V buatan Rusia yang juga belum merampungkan uji coba skala besar.

Sebelum perseteruan mengenai vaksin, Trump telah membekukan kontribusi AS untuk WHO. Kemudian, pada Mei, Washington memutus hubungan dengan organisasi tersebut karena dianggap terlalu memihak China.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya