Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Oligarki Televisi Dan Presidential Treshold

SABTU, 29 AGUSTUS 2020 | 14:20 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

TOETY Azis tokoh pers perempuan yang bergulat dengan berbagai kesulitan tatkala mendirikan Surabaya Post, suatu hari memberikan petuah:

"Menerbitkan koran harus dengan tujuan luhur. Kalau cuma mau cari uang jangan terbitkan koran. Masih banyak bisnis lain yang terbuka luas".

Surabaya Post pelopor koran sore.


Raja koran Jawa Timur era '70 sampai '80-an.

Terkenal dengan Jurnalisme Putih-nya. Jurnalisme yang tidak menyerang. Tiada gosip. No sensation. Tiada mengusik privasi. Tapi misi dan informasinya mengena sasaran.

Toety Azis and her husband, Abdul Aziz, wartawan Republiken. Ikut gerilya waktu pertempuran meletus di Surabaya.

Berpuluhtahun kemudian koran mereka redup ketika pada pertengahan '80-an muncul koran antitesis dari misi Surabaya Post, yang mengutamakan sensasi, infotainment, dan menyerobot pasar.

Persuratkabaran nasional (nenek moyangnya media televisi, radio, dan online) lahir dari elan romantik, penuh bumbu cerita patriotik.

Sebelum ada perjuangan bersenjata, para tokoh pergerakan menggunakan koran sebagai alat perjuangan melalui tulisan.

Sukarno menulis, Agus Salim menulis, Tjokro menulis, semuanya menulis.

Wartawannya masuk keluar bui kolonial.

Hidup melarat karena lebih mengidentikkan diri sebagai pejuang ketimbang pedagang.

Aspek bisnis tentu saja perlu, tapi kewartawanan bukan jalan yang pas untuk mencari dan menumpuk kekayaan.

Kewartawanan adalah vocatio (panggilan). Pengabdian yang tiada henti-hentinya karena dituntun oleh naluri.

Di paruh pertama tahun '50-an pers nasional dicirikan oleh personal journalism dengan tokoh-tokoh seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), BM Diah (Merdeka), Suardi Tasrif (Abadi), dan Rosihan Anwar (Pedoman).

Mereka berteman tapi juga berantem, dan sanggup bersilat lidah dengan penguasa. Umumnya pengendali meja redaksi saat itu ialah person of character (insan yang berwatak).

Persuratkabaran nasional yang dulu debutnya patriotik, kini berakhir tragis. Hidup segan mati tak mau.

Bagaimana televisi?

Televisi di tanah air hari ini bagian dari oligarki, jadi sekedar pemotret obyek yang disukai rezim belaka, untuk mengalihkan pandangan publik dari realitas yang sesungguhnya terjadi di masyarakat.

Industri televisi dikuasai oleh para taipan yang jadi bagian dari oligarki politik hari ini, untuk saling melindungi kepentingan mereka.

Satu taipan dapat menguasai banyak televisi, dengan program-program norak serba tidak mendidik, yang juga mengajarkan pola hidup konsumtif "makanlah, belilah, tirulah ...".

Di lapangan politik perannya megaphone rezim. Didukung oleh buzzersRp yang dikasih anggaran puluhan miliar, dengan tugas memecah-belah bangsa dan agama. Menghina ulama dan memfitnah tokoh-tokoh.

Mereka juga menghalangi tampilnya figur capres berciri problem solver, berintegritas, memiliki track record prestasi, yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia saat ini.

Televisi jadi pelengkap alat lainnya milik oligarki politik, yaitu begal presidential treshold, yang mensyaratkan ambang batas perolehan suara parpol dalam pemilu untuk dapat mengajukan presiden harus 20 persen.

Resah mengalami nasib seperti koran-koran dan merasa mulai tergusur oleh derasnya perkembangan media digital seperti YouTube, Instagram, Facebook, Twitter dan lainnya, sebuah stasiun televisi milik taipan yang menguasai banyak stasiun televisi lainnya (termasuk online dan koran), baru-baru ini menggugat UU 32/2002 tentang Penyiaran ke MK, minta media digital "ditertibkan" agar tidak menyaingi televisi, terutama untuk kepentingan oligarki.

Musim berganti.
Zaman bergerak.

Kini kita sedang menyaksikan tanda-tanda era oligarki televisi berdiri di tubir jurang.

Sinetron baru tentang kegelisahan oligarki, yang tiada perlu menguras air mata kita.

Penulis adalah wartawan senior.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Dasco Ungkap Target Closing RUU Ketenagakerjaan

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:49

Ahmad Luthfi Minta Daerah Dilibatkan dalam Evaluasi MBG

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:23

Pameran "Aku Arek Suroboyo" Kuak Sisi Lain Bung Karno yang Jarang Diketahui

Minggu, 07 Juni 2026 | 19:11

Usulan Natalius Pigai, Ikhtiar Hadirkan Polri Lebih Modern dan Adaptif

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:53

Pajak, Kepercayaan dan Kontrak Sosial

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:49

Jalur Titipan SPMB Masuk Pidana Korupsi, Mau Anak Pintar Kok Nyogok...

Minggu, 07 Juni 2026 | 18:23

Jurus Seribu Langkah Gagal, Eksekutor Jambret Jakbar Digulung!

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:36

Ditolak Daerah, Mubes V Kosgoro 1957 Dianggap Cacat Prosedur

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:32

Hari Lingkungan Hidup, Pertamina Gaspol Inovasi Sampah dan Tanam Pohon

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:24

Ini Instruksi Khusus Prabowo ke Seskab Teddy Soal Sekolah Rakyat

Minggu, 07 Juni 2026 | 17:07

Selengkapnya