Ilustrasi, Tower Bridge di London, Inggris/Net
. Wabah virus corona yang belum usai tidak menyurutkan semangat para pelajar di Tiongkok. Mereka tetap berharap bisa melanjutkan kuliah di Inggris.
Direktur Institut Kebijakan Pendidikan Tinggi Inggris, Nick Hillmann, menyampaikan ketertarikan pelajar Tiongkok untuk menimba ilmu di Inggris begitu tinggi. Dari data yang diperolehnya, terlihat kenaikan sebesar 14 persen pelajar Tiongkok yang mendaftarkan diri ke universitas Inggris. Sehingga total jumlah yang telah mendaftar ada lebih dari 120.000 pelajar.
Sebenarnya masih jauh dari yang diharapkan, karena sebelum pandemik, Inggris menargetkan lebih banyak lagi pelajar asal China.
"Tahun ini, sebelum pandemik, kami mengharapkan tahun perekrutan besar-besaran," kata Nick Hillmann, "Sebenarnya angkanya positif, tapi tidak sepositif yang diharapkan. Ya itu tadi karena adanya pandemik."
Hillmann belum bersenang dulu. Sebab kenaikan 14 persen masih harus dipastikan lagi dengan kedatangan calon mahasiswa.
"Hanya karena orang-orang mengatakan mereka ingin kuliah di Inggris dan telah mendaftar, bukan berarti mereka akan datang," ujarnya.
Masih ada beberapa minggu lagi sampai semester universitas dimulai.
"Mereka harus ke sini dengan pesawat. Keluarga mereka perlu tahu bahwa mereka akan aman ketika tiba di sini. Anda tahu, jika ada misalkan terjadi gelombang kedua pandemik, maka bisa jadi apa yang kita harapkan runtuh. Saya berpikir, bisa jadi semua akan dibatalkan," katanya tak yakin.
Ini adalah pandangan yang sebagian besar dimiliki oleh British Council, yang mempromosikan universitas dan pendidikan Inggris secara internasional.
Jezreel Goh, yang memimpin Tim Asia Timur British Council di Beijing, mengatakan virus Corona adalah perhatian utama di antara para siswa yang berpikir untuk bepergian ke Inggris untuk kuliah.
"Kami tidak akan tahu angka sebenarnya mungkin sampai nanti di musim gugur," kata Goh kepada
CGTN.
Mereka tetap berpromosi, dan melihat umpan balik sejauh ini cukup bagus.
"Saat ini, melihat umpan balik yang kami dapat dari agen dan mahasiswa, permintaan masih ada, keinginan masih ada ... tapi mungkin saja mahasiswa setidaknya untuk angkatan ini dapat mempertimbangkan untuk menunda hingga Januari atau mereka mungkin mempertimbangkan pembelajaran online," katanya kembali menyinggung semua karena pandemik.
Jikapun siswa memutuskan aman untuk bepergian ke Inggris, mungkin saja mereka akan mengalami kendala untuk berangkat karena adanya peraturan penerbangan. Saat ini pemerintah Skotlandia dan beberapa sekolah swasta di Inggris sedang mempertimbangkan untuk pengadaan pesawat sewaan khusus bagi pelajar yang akan ke Inggris.
Namun, lagi-lagi hal itu tentu sulit dilakukan. Buruknya hubungan antar negara karena masalah Huawei.
Goh meyakini pelajar China sendiri cenderung tidak terpengaruh oleh politik.
"Mahasiswa sangat pragmatis," kata Goh. "Dan kenyataannya adalah jika Anda melihat tahun-tahun sebelumnya, keputusan politik dan ketegangan politik tidak menjadi pertimbangan bagi siswa.
Pelajar China adalah harapan bagi Inggris. Sebuah survei oleh surat kabar Inggris The Times mengungkapkan bahwa sembilan universitas di Inggris mengandalkan 20 persen dari total pendapatan sekolahnya pada mahasiswa China.