Berita

Svetlana Tikhanovska/Net

Dunia

Kalah Pilpres, Pemimpin Oposisi Svetlana Tikhanovska Kabur Cari Selamat Ke Lituania

SELASA, 11 AGUSTUS 2020 | 16:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penantang Alexandr Lukashenko dalam pemilihan presiden Belarusia dikabarkan telah melarikan diri ke Lituania pada hari ini, Selasa (11/8), setelah pecahnya bentrokan di malam kedua.

Svetlana Tikhanovska yang telah menyerukan aksi unjuk rasa itu melarikan diri setelah bentrokan yang terjadi antara polisi dan pendukung oposisi telah menewaskan seorang pengunjuk rasa, sementara enam lainnya luka-luka.

Menteri Luar Negeri Lithuania Linas Linkevicius mengatakan Tikhanovskaya yang telah mengklaim kemenangan atas presiden otoriter Alexander Lukashenko dalam pemungutan suara hari Minggu, telah tiba di negara itu dengan selamat.


Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait pelarian Tikhanovskaya.

Lithuania, yang juga pernah menjadi bagian dari Uni Soviet layaknya Belarusia, memiliki sejarah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh oposisi Belarusia dan Rusia.

Keberadaan Tikhanovskaya sempat dipertanyakan setelah staf kampanye mengatakan mereka kehilangan kontak dengannya dan ada kekhawatiran akan keselamatannya. Meskipun belakangan Tikhanovskaya diketahui selamat.

Munculnya Tikhanovskaya di Lituania terjadi setelah ribuan orang turun ke jalan di ibu kota Minsk pada malam kedua unjuk rasa yang berujung ricuh, usai pihak berwenang mengatakan penguasa lama Lukashenko telah mengamankan masa jabatan keenamnya dengan raihan 80 persen suara.

Tikhanovskaya, seorang pemula politik yang telah memberi energi kepada oposisi, berada di urutan kedua dengan 10 persen suara dan pengunjuk rasa mendukung klaimnya untuk memenangkan pemilihan.

Perempuan 37 tahun itu merupakan seorang ibu dengan dua anak. Ia memutuskan mencalonkan diri sebagai presiden setelah pihak berwenang memenjarakan suaminya, blogger populer Sergei Tikhanovsky, dan melarangnya untuk ikut serta menjadi peserta pilpres.

Kampanyenya menyemangati oposisi, menghadirkan tantangan bersejarah bagi mantan direktur pertanian kolektif Lukashenko yang telah memerintah Belarusia sejak 1994, dan dijuluki ‘diktator terakhir Eropa’.

Di malam kedua unjuk rasa polisi menggunakan peluru karet, granat kejut, dan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi, meskipun pengunjuk rasa melawan dengan batu dan kembang api serta membangun barikade darurat.

“Terlalu banyak orang yang menentang Lukashenko," kata Pavel, salah seorang pengunjuk rasa.

“Tujuan kami adalah untuk menggulingkan Lukashenko. Dia tidak layak menjadi presiden.”

Puluhan orang terluka dalam kekerasan itu dan kematian pertama dikonfirmasi pada hari Senin ketika polisi mengatakan seorang pria tewas akibat sebuah alat peledak meledak di tangannya.

Staf Tikhanovskaya sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak akan bergabung dengan demonstrasi untuk menghindari "provokasi" dan tidak jelas bagaimana kepergiannya yang tiba-tiba akan mempengaruhi oposisi.

Lawan Lukashenko itu telah menyerukan untuk melakukan protes terhadap rezim dan ada seruan untuk pemogokan nasional.

Pemerintah Barat telah secara luas mengutuk tindakan keras polisi, dengan beberapa di Uni Eropa menyarankan itu dapat memberlakukan kembali sanksi terhadap rezim Lukashenko yang dicabut beberapa tahun lalu.

Gedung Putih mengatakan pihaknya "sangat prihatin" dengan kekerasan itu, menambahkan bahwa "intimidasi terhadap kandidat oposisi dan penahanan pengunjuk rasa damai" adalah di antara banyak faktor yang merusak pemilu dan akibatnya.

Pemerintah Eropa juga mempertanyakan hasil, ditandai dengan Jerman yang menyuarakan "keraguan kuat" tentang pelaksanaan pemungutan suara, SEmentara itu Prancis mendesak menahan diri dan Polandia menyerukan KTT darurat Uni Eropa.

Presiden Rusia Vladimir Putin memberi selamat kepada Lukashenko, sekutu lama Rusia seperti halnya pemimpin Tiongkok Xi Jinping.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya