Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Rusia, Iran, China Dituding Melakukan Serangkaian Upaya Jelang Pemilihan Presiden AS

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 | 11:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebuah pernyataan kontroversial muncul dari Direktur Pusat Kontra Intelijen dan Keamanan Nasional William Evanina jelang pemilihan presiden pada November mendatang.

Dalam pernyataannya, William mengatakan Rusia menggunakan 'serangkaian tindakan" untuk melemahkan calon presiden Demokrat Joe Biden dan membantu Presiden AS Donald Trump untuk memenangkannya pada Jumat (7/8).

William mengatakan, upaya Moskow tidak hanya berpusat pada upaya untuk merugikan Biden, tetapi juga apa yang dilihatnya sebagai 'pembentukan' anti-Rusia.


"Ini konsisten dengan kritik publik Moskow terhadapnya ketika dia menjadi Wakil Presiden atas perannya dalam kebijakan Pemerintahan Obama di Ukraina dan dukungannya untuk oposisi anti-Putin di Rusia," kata Evanina tentang Biden, seperti dikutip dari AA, Sabtu (8/8).

Dia mengatakan banyak aktor asing telah menyatakan preferensi siapa yang akan menang pada November nanti, tetapi komunitas intelijen berfokus pada "aktivitas yang sedang berlangsung dan potensial" dari tiga negara, yaitu Rusia, China dan Iran.

Tidak seperti Rusia, Evanina mengatakan Beijing melihat Trump sebagai sesuatu "tidak dapat diprediksi" dan ingin melihat Biden menang.  China telah memperluas upaya pengaruhnya menjelang November 2020 untuk membentuk lingkungan kebijakan di Amerika Serikat, menekan tokoh politik yang dipandangnya bertentangan dengan kepentingan China, dan menangkis serta melawan kritik terhadap China," katanya.

"Meskipun China akan terus mempertimbangkan risiko dan manfaat dari tindakan agresif, retorika publiknya selama beberapa bulan terakhir telah menjadi semakin kritis terhadap tanggapan Covid-19  Administrasi saat ini, penutupan Konsulat Houston China, dan tindakan terhadap masalah lain," tambahnya.

Sementara itu, Iran berusaha untuk merusak institusi demokrasi AS, Presiden Trump, dan memecah belah negara itu sebelum pemilu 2020, kata Evanina.

Upaya Teheran berfokus terutama pada pengaruh online yang dimotivasi oleh "persepsi bahwa terpilihnya kembali Presiden Trump akan mengakibatkan berlanjutnya tekanan AS terhadap Iran dalam upaya untuk mendorong perubahan rezim," ungkapnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya